Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat Jawa Timur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Maret 2013

Legenda Banyuwangi



Dahulu kala, di ujung timur pulau Jawa berdiri sebuah kerajaan besar. Kerajaan itu diperintah oleh seorang raja yang bijaksana. Raja memiliki seorang putera bernama Raden Banterang.

Raden Banterang adalah seorang pemuda yang gagah berani.  Sayangnya, pangeran muda itu sering bertindak gegabah. Ia  sering bertindak tanpa  memikirkan lebih dahulu akibat perbuatannya.

Pada suatu hari,  Raden Banterang pergi ke hutan untuk berburu. Ia mengejar seekor rusa jauh ke tengah hutan.  Tiba-tiba ia bertemu dengan seorang gadis. Raden Banterang keheranan, mengapa  gadis cantik itu berjalan sendirian di tengah hutan?

“Siapa kamu? Mengapa kamu ada di hutan ini?”

“Namaku Surati. Ayahku raja kerajaan Klungkung. Ayahanda terbunuh dalam peperangan. Musuh mengejarku, untung aku berhasil lari dan bersembunyi di hutan ini,” kata gadis itu.

Raut muka Surati menjadi sedih dan air matanya mengalir. “Entah bagaimana nasib ibu dan kakakku. Kami terpisah.”

Raden Banterang iba mendengar cerita Surati. Ia kemudian mengajak gadis itu pulang ke istana. Beberapa hari kemudian mereka menikah.

Pada suatu hari, seperti biasa Raden Banterang pergi berburu.  Isterinya mengantarkannya  ke gerbang istana.

Di tepi hutan, Raden Banterang  bertemu dengan pengemis berpakaian robek-robek. Raden Banterang  memberikan sedekah  kepada pengemis itu.

“Tuanku,” kata pengemis, “Aku akan memberitahukan sebuah rahasia kepadamu.”

“Rahasia?” sahut Raden Banterang, “Coba ceritakan kepadaku.”

“Tuan,” kata pengemis, “Berhati-hatilah pada isteri tuan. Ia minta bantuan seorang laki-laki untuk membunuh tuanku.”

Raden Banterang tertawa geli. “Wah, pengemis ini pasti kurang waras pikirannya. Bagaimana mungkin Surati yang begitu lemah lembut tega melakukan itu? Lagi pula pengemis ini kan tidak kenal aku dan isteriku?”

Pengemis itu berkata, “ Tuan akan  percaya kepadaku bila melhat bukti  kejahatannya. Isteri  tuankui menyimpan barang  milik laki-laki itu di bawah bantalnya.” Kemudian ia pergi.

Raden Banterang pulang ke istana. Ia merasa gelisah. Ia tidak percaya kepada si pengemis, namun kata-kata pengemia itu terus mengganggu pikirannya. Ia kemuudian menuju tempat tidurnya dan mengangkat bantal isterinya. Betapa terperanjatnya ketika ia menemukan sebuah ikat kepala laki-laki di bawah bantal itu.

Raden Banterang sangat marah. Beraninya Surati yang dulu hidup sebatang kara di hutan, yang ditolong dan kemudian dinikahinya  sekarang berbuat keji kepadanya. “Sebelum ia mencelakaiku, lebih baik aku berjaga-jaga.”

Diajaknya isterinya berjalan-jalan di tepi sungai. Ia kemudian menceritakan pertemuannya dengan  pengemis di hutan.

“Kanda,” kata Surati, “Jangan percaya cerita pengemis  itu, saya tidak pernah memiliki niat jahat kepada kanda.”

“Ini apa?” kata Raden Bentareng sambil menunjukkan ikat kepala yang ditemukannya.

Surati kemudian menuturkan bahwa setelah suaminya berangkat berburu, ia bertemu dengan seorang pengemis berpakaian robek-robek di gerbang istana.  Ternyata pengemis itu adalah kakak kandungnya, Rupaksa. Surati sangat gembira karena selama ini ia mengira kakaknya itu sudah meninggal.

Tak disangkanya Rupaksa  menyimpan dendam kepada keluarga suaminya. Rupaksa menyuruhnya membunuh suaminya sendiri untuk membalas dendam. Surati tidak mau. Kakaknya sangat marah. Walaupun Surati mengatakan bahwa keluarga suaminya tidak pernah terlibat perang dengan kerajaan Klungkung, kakaknya tetap ingin membunuh Raden Banterang. Akhirnya Rupaksa memberikan ikat kepalanya kepada Surati dan menyuruhnya meletakkannya di bawah bantal.

“Aku tak percaya kepadamu,” kata Raden Banterang kepada isterinya. “Rencanamu kali ini gagal, namun suatu saat nanti pasti kau mencobanya lagi.”

Raden Banterang menghunus kerisnya dan berjalan mendekati isterinya.

“Kanda,” kata Surati, “Aku tidak berdusta. Aku akan membuktikannya. Bila aku bersalan,  air sungai ini akan menjadi keruh dan berbau busuk. Namun sebaliknya bila aku tidak bersalah, air akan  jernih dan berbau wangi”

Ia kemudian melompat ke dalam sungai sebelum suaminya sempat mencegah.  Raden Banterang merasa sedih karena isterinya tenggelam sekaligus lega karena ia tak perlu membunuh isterinya sendiri.

Raden Banterang beranjak pulang. Tiba-tiba bertiup angin bertiup dari arah sungai membawa bau harum semerbak. Air sungai berubah menjadi jernih bekilauan. Raden Banterang sangat menyesal. Tahulah ia bahwa isterinya tidak bersalah.  Namun semuanya telah terlambat. Sejak itu tempat itu dikenal sebagai Banyuwangi  yang artinya air yang harum. 
READ MORE - Legenda Banyuwangi

Selasa, 10 Juli 2012

Cinde Laras




Dahulu kala ada sebuah kerajaan bernama Kediri di Jawa Timur. Kerajaan itu dipimpin oleh raja bernama Raden Putra. Raden Putra kaya raya dan berkuasa. Kegemarannya menyabung ayam.
Raden Putra memiliki permaisuri dan beberapa orang selir. Seorang selirnya ingin merebut kedudukan permaisuri. Ia memfitnah permaisuri dan mengatakan bahwa permaisuri menaruh racun pada makanan raja. Sang raja murka. Tanpa berpikir panjang dan memeriksa kebenaran berita itu, ia memerintahkan prajurit untuk membawa permaisuri ke hutan dan membunuhnya.

Para prajurit membawa permaisuri ke hutan, namun mereka tidak sampai hati membunuh permaisuri yang baik hati dan bijaksana. Apalagi ia sudah mengandung. Mereka dengan berat hati meninggalkan permaisuri di hutan. Mereka menangkap seekor rusa dan membawa jantungnya kepada raja sebagai bukti bahwa mereka telah membunuh permaisuri.

Beberapa bulan kemudian permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan dan sehat. Bayi itu diberi nama Cinde Laras.

Cinde Laras tumbuh menjadi anak yang kuat dan cerdas. Ia suka bermain di hutan. Pada suatu hari ia menemukan sebutir telur ayam. Cinde Laras membawa telur itu pulang dan merawatnya hingga menetaskan seekor anak ayam jantan. Anak ayam itu dengan cepat tumbuh menjadi besar.

Seperti ayahnya, Cindelaras suka menyabung ayam. Ia pergi ke desa-desa tetangga untuk menyabung ayam. Ayam jagonya sangat kuat dan selalu menang melawan ayam-ayam jago lain. Cindelaras menjadi terkenal. Semua orang mendengar cerita tentang anak laki-laki itu dan ayam jagonya.

Sang raja juga mendengar berita tentang ayam jago yang tak terkalajkan dan pemiliknya yang masih bocah. Raja mengundang Cinde Laras ke istana untuk melihat ayam jago terkenal itu bertarung.
Ketika Cinde Laras datang di istana, raja terkesiap. “Katanya anak ini  tinggal di hutan, namun tindak tanduknya seperti anak bangsawan,” pikirnya.

Raja mengajak Cinde Laras mengadu ayam. Cinde Laras mengajukan syarat, bila ia memenangkan pertandingan itu, raja harus merelakan setengah kerajaan untuk diberikan kepadanya. Raja langsung setuju. Ayam-ayam jagonya semua ayam pilihan dan dirawat dengan sangat baik. Tak mungkin ayam jago Cinde Laras bisa menang.

Raja memilih ayamnya yang terbaik untuk melawan ayam Cinde Laras, namun dengan mudah dikalahkan. Semua orang terkejut. Mereka lebih heran lagi ketika ayam Cinde Laras berkokok.

Bunyinya, “Kukuruuyuuuk...! Akulah ayam jago Cindelaras, yang hidup di hutan, tapi ia anak Raden Putra!”

Ayam itu berkokok lantang berulang-ulang. Raja sangat terkejut. Ia kemudian memanggil Cindelaras mendekat.

"Siapa namamu? Di mana rumahmu?” tanya raja.

“Nama saya Cinde Laras, yang mulia. Saya tinggal bersama ibu di hutan"

“Siapa nama ibumu?”

Cinde Laras menyebutkan nama ibunya dan raja terperanjat.

"Apakah benar ia anakku?" tanyanya dalam hati.

Raja memerintahkan prajurit untuk mengawalnya dan Cinde Laras ke rumahnya di hutan.
Di sana raja melihat seorang wanita dan langsung mengenalinya sebagai permaisuri yang dulu hendak dibunuhnya. Permaisuri menceritakan bahwa ia difitnah dan ia melahirkan Cinde Laras.

Raja sangat menyesal karena ia dulu terburu nafsu. Ia mengajak permaisuri dan Cinde Laras kembali ke istana.

Raja mengukuhkan kembali kedudukan permaisuri dan menghukum selir yang jahat itu. Setelah raja meninggal, Cinde Laras menggantikannya menjadi raja. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana.

Gambar: http://elzhito.files.wordpress.com/2012/02/cindelaras.jpg
READ MORE - Cinde Laras