Tampilkan postingan dengan label Renungan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Hidup. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Juni 2013

Sumber Kebenaran

KEBENARAN

1. PELAJARAN MORAL MASA KECIL
Apa pelajaran moral masa kecil yang selalu saya ingat?
  • Saya ingat ketika saat itu saya belum bersekolah, masih balita, ibu mengurung saya di luar rumah dan membiarkan saya menangis meraung-raung. Saya dihukum karena tidak menurut perintah ibu. Tidak taat aturan = hukuman. Saya selalu ingat "kebenaran" pelajaran ini.
  • Saya mendapat pelajaran moral, "baik" dan "buruk" yang sederhana dari nasihat dari ibu. Nasihat ibu seperti ini, "Kalau hidup ingin selamat, jangan berbuat 5M! Ingat itu!" Dan hingga kini saya masih meyakininya sebagai "kebenaran".
Jangan Minum = tidak minum minuman keras memabukkan,
Jangan Maen = tidak bermain judi apapun bentuknya,
Jangan Madon = tidak main perempuan,
Jangan Maling = tidak mengambil hak orang lain,
Jangan Muja = tidak percaya pada dukun, jimat dan sejenisnya.
  •  "Kalau makan, jangan disisakan satu butir nasi pun!" itu nasihat nenek. Dan suatu ketika saya menonton film tentang perang Vietnam. Satu adegan menggambarkan seorang serdadu Amerika yang putus asa berlutut di tengah padang rumput sambil menengadahkan kedua tangannya ke langit. Ia ditinggalkan oleh pasukannya di tengah-tengah kepungan tentara Vietcong, padahal ia hanya beberapa langkah lagi dari helikopter penyelamat. Pikiran kanak-kanak saya membayangkan satu butir nasi itu sebagai si serdadu yang ditinggal sendiri. Dan sejak itu tidak pernah saya sengaja membiarkan satu butir nasi pun tersisa di piring saya. Sejak saat itu melakukannya adalah hal yang "benar" dan tidak melakukannya adalah "salah", dan jika saya melihat makanan dijadikan dihamburkan atau dijadikan alat permainan, saya selalu berpikir, "What's wrong with this guys?"... ada yang salah dengan orang-orang ini! Boros adalah kejahatan berat! Laksana meninggalkan seorang serdadu di medan pertempuran.
  • Ibu melarang saya jajan es puter di depan sekolah. Saya berkata, "Baik Mah!", hingga suatu hari saya benar-benar ingin menikmati es krim lalu cepat-cepat membelinya, toh ibu tidak akan tahu. Tapi pada saat itu, di luar kebiasaannya, tak disangka-sangka ibu datang ke sekolah. Mengetahui pelanggaranku, ibu berkata begini, "Kalau kamu tidak jujur, cepat atau lambat ibu pasti tahu!" Yah, saat itu aku yakin "berbuat curang, cepat atau lambat pasti ketahuan".
  • Salah satu kebiasaan saya adalah makan yang paling enak terakhir. Kalau saya makan bakso, maka saya makan sayur dan mienya dahulu, dan terakhir saya makan baksonya. Ini adalah kebenaran yang saya pelajari sendiri, "Save the best for last!" "Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian". Penting bagi saya untuk mendapat happy ending.
  • "Jangan mencontek!" "Jangan membolos." "Jangan terlambat". Pelajaran dari sekolah. Entah kenapa saya segera mengakuinya sebagai "kebenaran", dan berbuat sebaliknya adalah "salah" : mencontek itu salah, bolos itu salah, terlambat itu salah. Dan hingga saat ini saya memiliki perasaan bersalah jika melakukan tiga hal tadi. Mungkin karena saya percaya "tidak taat aturan = hukuman". 
Diingat atau tidak, disadari atau tidak, pendidikan keluarga memberi pengaruh pada perilaku dan pandangan saya saat ini.

2. PENGALAMAN HIDUP
  • Mendidik adalah menanam kebaikan dan mengubur keburukan, tapi dunia di luar sana kadang menampilkan sebaliknya. Waktu kecil saya menemukan banyak hal seperti ini : tidak taat aturan tapi tidak mendapat hukuman; teman bertaruh kecil-kecilan; murid mencontek dan membolos; bermain curang dan tidak ketahuan; berbohong tapi tidak dihukum; belajar keras tapi nilainya jelek; dan banyak hal lainnya.
  • "Kalau sembahyang jarang-jarang, sekalian saja tidak usah sembahyang sama sekali!" begitu kata guru agama saya di SMP. Dan inilah pertama kalinya saya mengerti bahwa guru juga bisa "salah". Untuk pertama kalinya, saya tidak setuju dengan "kebenaran" versi guru. Mungkin pada saat inilah saya beranjak dari seorang anak yang menerima apa adanya menjadi seorang remaja yang mulai mempertanyakan aturan, tata tertib, dan nilai-nilai.
  • Dahulu, untuk mahasiswa baru, ada yang namanya ospek, Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Para mahasiswa senior memperkenalkan lingkungan baru bernama kampus. Mahasiswa junior (termasuk saya) diajari bagaimana seharusnya bertingkah laku sebagai seorang MAHA siswa. Tinggalkan sifat naif, lugu, pemalu, semau gue ala pelajar SMA. Mereka harus mulai bersikap kompak, disiplin, berani, kritis ala mahasiswa. Oleh karena itu mahasiswa junior mendapat didikan para seniornya : memakai atribut yang aneh-aneh, melakukan sesuatu yang bikin malu, hukuman fisik untuk tindak indisipliner, dengan tujuan menjadi berani dan disiplin. Pelajaran yang diabaikan adalah untuk bersikap kritis. Mahasiswa junior seperti kerbau dicocok hidung mau saja diperlakukan seenaknya oleh senior mereka, melawan aturan senior berarti hukuman (verbal dan fisik, dimaki-maki dan push up). Dan hal ini berlangsung turun temurun. Mahasiswa junior (yang pernah merasakan penderitaan) pada tahun berikutnya menjadi mahasiswa senior (yang membuat penderitaan), dan mereka secara sadar melanjutkan ritual tahunan itu, melakukannya untuk "kebaikan yang lebih besar" ..."for the greater good". Saya belajar hal buruk bisa dibiasakan, menjadi kebiasaan, dilakukan berjamaah, dan akhirnya dianggap kebaikan. 
  • Semasa menjadi mahasiswa, kegiatan rutin adalah mengikuti kuliah, ujian, dan praktikum. Praktikum cukup menjadi momok bagi mahasiswa, karena lulus praktikum menjadi syarat lulus mata kuliah, dan dalam satu waktu yang berdekatan mahasiswa seringkali harus mengikuti beberapa praktikum. Dalam praktikum, setumpuk teori kuliah akan coba dipraktekkan. Data dikumpulkan, diolah, dibuat laporan, dan dipresentasikan di hadapan sekelompok asisten dosen, dan berdoalah agar tidak "dibantai" . Waktu terbatas, tugas menumpuk. Suatu bencana jika data yang dikumpulkan setelah diolah ternyata tidak sesuai dengan teori. Salah mencatat data atau teorinya yang salah? Teori adalah hasil pemikiran ilmuwan pintar yang "benar", diajarkan kepada mahasiswa yang "belajar pintar", oleh karena itu pasti datanya yang salah. Mulailah saya (atau mungkin kami para mahasiswa) belajar memanipulasi data agar sesuai dengan teori, belajar untuk tidak jujur. Kami belajar untuk tidak jujur untuk "kebaikan yang lebih besar" yaitu lulus mata kuliah ..."for the greater good". Saya belajar hal buruk bisa dibiasakan, menjadi kebiasaan, dilakukan berjamaah, dan melakukannya tidak begitu merasa bersalah.
  • Last but not least, tugas akhir mahasiswa adalah membuat karya ilmiah yang dinamakan skripsi. Mahasiswa tingkat akhir harus mampu menggunakan ilmu yang dipelajarinya untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam dunia nyata. Dalam karya ilmiahnya mahasiswa harus mengindentifikasikan masalah, menjelaskan maksud penelitiannya, mencari landasan teori dan hipotesis, dasar keilmuan untuk memecahkan masalahnya, melakukan penelitian (pengumpulan data), dan terakhir menjelaskan hasil penelitian dalam sebuah sidang terbuka yang dihadiri dosen pembimbing dan penguji. Beberapa  rahasia umum dalam skripsi : masalahnya fiktif alias rekayasa, copy paste dari skripsi lain alias plagiat, data penelitian palsu atau dimodifikasi, skripsi dibuat oleh orang lain. Berlaku curang untuk "kebaikan yang lebih besar" yaitu lulus menjadi sarjana ..."for the greater good". Yang penting adalah gelar sarjana, ijazah, sertifikat. Bungkus seringkali lebih penting daripada isinya, penampilan lebih penting daripada manfaatnya.  
Sungguh mengejutkan, setelah saya renungkan sekarang, saya teringat banyak hal buruk yang saya pelajari di sekolah. Tidak adil jika saya menuduh tanpa bukti. Saya yakin masih banyak pelajar baik yang berbuat jujur menjalani pendidikan mereka, tapi saya juga yakin ada pelajar yang belajar berbuat buruk dengan berbuat curang dalam pendidikan mereka.There's good and evil in everybody.
    3. HATI NURANI
    • Di SMA semua murid harus memilih ekstrakurikuler, bergabung dengan beberapa kelompok murid lainnya yang memiliki minat sama. Saat itu saya memilih bergabung dengan Dewan Keluarga Masjid (DKM) sekolah. Nah, pelajaran apa yang saya dapat dari sini? Ada kegiatan rutin yang disebut pengajian, mengkaji suatu hal lalu didiskusikan. Saya ingat samar-samar pengajian pertama saya, dibimbing oleh seorang kakak kelas yang disebut mentor. Kegiatannya disebut dengan "mentoring". Mentoring tersebut bertema "konsep kebenaran". Konsepnya (sesuai ingatan saya sewaktu remaja) adalah begini : 
    Jika ada dua orang punya pendapat bertentangan tentang satu masalah, dan keduanya mengaku pendapatnya yang benar, maka kesimpulannya : pasti hanya satu orang yang benar... atau kedua-duanya salah! Jadi mana yang benar? Beda kepala beda pendapat. Jika ada jutaan kepala dan ada jutaan pendapat tentang satu hal yang sama, lantas pendapat siapa yang benar? Apa semuanya salah? Paling tidak, pendapat siapa yang paling mendekati kebenaran? Apakah kebenaran itu "relatif"?
    Jika semua orang punya "kebenaran" masing-masing, jika "kebenaran" itu relatif, maka yang terjadi adalah kekacauan. Logis harus ada hukum yang adil untuk menegakkan "kebenaran", untuk menjaga ketertiban hidup. Hukum ini seharusnya berlaku untuk semua manusia, berlaku kapan saja tak terbatas waktu. Hukum ini sudah seharusnya tidak berubah-ubah.
    Apakah ada hukum yang semacam ini? Hukum buatan manusia sudah pasti akan "terkontaminasi" oleh pendapat manusia pembuat hukumnya. Beda pembuatnya, beda hukumnya. Oleh karena itu keadilan itu logisnya tidak ditentukan oleh hukum manusia, tapi hukum di luar manusia, Hukum Tuhan.
    Hukum tuhan yang mana? Keadilan Tuhan tentu tidak terbatas waktu, berlaku dari awal zaman hingga akhir zaman, tidak akan berubah ubah. Adakah hukum yang demikian? Nah, dari sinilah mentor saya menyelipkan doktrin tentang agama, tata tertib peraturan Tuhan. "Agama manakah yang diperuntukkan untuk semua manusia? Agama manakah yang mengatur seluruh segi kehidupan manusia, bukan hanya masalah ketuhanan belaka? Agama manakah yang memiliki kitab suci yang benar-benar suci, tidak pernah berubah isinya dari dahulu hingga saat ini? Agama mana yang benar?"
    Jawabannya adalah Islam. Islam meliputi semua peri kehidupan manusia : hubungannya dengan Tuhan, hubungan manusia dengan dirinya sendiri,  hubungannya dengan sesama manusia, hubungannya dengan alam semesta. Rasulullah Muhammad SAW adalah pembawa pesan Tuhan untuk seluruh umat manusia. Beliau merupakan suri teladan, contoh bagaimana manusia seharusnya berperilaku. Kitab sucinya adalah Al-Qur'an. Sejak diturunkan hingga kini Al-Qur'an terjaga keasliannya, walaupun telah dicetak ratusan juta kali dalam berabad-abad. Perubahan sengaja atau tidak, selalu dikoreksi oleh jutaan penghapal Al-Qur'an.
    Saat itulah saya mulai melek dengan agama. Saya mulai menerima Islam sebagai kebenaran. Pengalaman masa lalu pasti sangat berpengaruh sehingga saya dengan mudah menerima pendapat mentor saya sebagai kebenaran. 
    • Setelah mentoring di SMA itu, saya seolah-olah mendapat pencerahan. Semangat saya menyala-nyala dengan "kebenaran". Semangat menggebu-gebu untuk menyampaikan "kebenaran". Salah satu sasaran saya adalah kawan sekelas saya, seorang aktivis beda agama. Kami berdebat, dan hasilnya adalah ...tidak ada hasil, alias status quo. Saya berdakwah tanpa ilmu cuma dengan nafsu. Saya berdakwah karena kesombongan saya, bahwa "kebenaran" saya lebih benar daripada "kebenaran" miliknya. Motif penyampai "kebenaran" kadang bukan untuk kebaikan. 
    • Sebenarnya orangtua saya cukup "sekuler", saya tidak dipaksa untuk bersembahyang, yang penting bagi mereka adalah saya selalu berbuat baik. Saya belajar mengaji sejak kecil tapi cuma belajar mengucapkan dan tidak belajar untuk mengerti artinya. Saya belajar agama di sekolah, tapi hanya untuk kebaikan nilai rapor. (yang cukup memalukan) Dahulu saya taat beribadah 5 kali sehari karena nafsu (saya rajin sembahyang mulai SMP ketika terpukau melihat seorang gadis berambut panjang berwudhu di mushola). Ada yang beragama tapi tidak beriman, tunduk tapi tidak percaya, mengerti tapi tidak melakukan.
    • Contoh paling nyata "beragama tapi tidak beriman" adalah diri saya sendiri. Dalam Islam ada aturan sangat keras melarang minuman memabukkan, dan apa yang saya lakukan? Saya adalah petugas pembelian di sebuah perusahaan yang 20% omsetnya adalah dari minuman keras. Tidak tanggung-tanggung saya pernah bekerja selama 5 tahun. Saya sangat mengerti aturan agama tentangnya, tapi pendidikan selama 30 tahun seolah tidak ada bekasnya, kalah oleh takut kehilangan. Takut kehilangan mata pencaharian, takut kehilangan sumber membayar cicilan, takut kehilangan status, takut kehilangan keluarga, takut kehilangan pasangan hidup. Harta, tahta, wanita bisa membuat gelap mata.
    Saya adalah contoh buruk orang yang menentang hati nuraninya sendiri. Merasa bersalah tetapi tidak bertindak apa pun. Banyak pertimbangan hanya untuk melakukan hal yang benar. Melakukan kesalahan berulang-ulang. Takut oleh prasangka. Takut oleh bayangan. Takut oleh angan-angan sendiri. Takut oleh sesuatu yang belum pasti terjadi.

    APA BERIKUTNYA?
    Pelajaran tentang kebaikan bisa diperoleh dari siapa saja, di mana saja, kapan saja. Tidak dibatasi usia tua atau muda, seagama atau tidak, dari dakwah atau dongeng anak. Terima dan sampaikan. Semua orang pada akhirnya akan menemukan kebenaran masing masing.    
    Hati nurani saya menerima Islam sebagai agama yang benar. Akhir yang bahagia penting bagi saya. Dan "the end" bukanlah saat kematian. Sebaliknya kematian adalah awal dari kehidupan yang sebenarnya. Akhir yang bahagia bukanlah di dunia ini, tapi setelahnya.
    Saya akan belajar lagi, mengulang lagi pelajaran kebaikan. Saya tidak akan cuma tahu dan mengerti. Dan sekarang saya akan mulai MELAKUKAN! Hidup saya sudah banyak disia-siakan. Tak terasa usia sudah mendekati lima windu, tapi di usia itulah Muhammad SAW memulai tugas mulia.
    Saya telah memulainya dengan meninggalkan pekerjaan, tertatih-tatih untuk mencapai akhir yang bahagia. 

    Mulai mengingat apa yang dilupakan,
    Mulai melakukan apa yang akan disampaikan,
    Mulai melangkah menuju kebaikan,
    Mulai sejak saat ini untuk melakukan hanya kebaikan, 

    Raqim, 
    Riki Kurniawan bin Nana Ratman 
    (Abu Zarkasya, Abu Faizan, Abu Fadhilah)


    READ MORE - Sumber Kebenaran

    Jumat, 07 Juni 2013

    Mencari Kebenaran - Bag.1

    Dengan pemikiran saya yang sederhana, saya mencoba memahami pemikiran filsuf yunani zaman kuno, Aristoteles, tentang benar dan salah. Dalam pemahaman saya ia mengatakan kurang lebih begini :
    Mengatakan sesuatu itu "begitu" sedangkan sebenarnya "bukan", atau sesuatu dikatakan "bukan" padahal adalah "begitu", adalah palsu. 
    Mengatakan sesuatu "begitu" dan memang hal itu "begitu", dan hal yang "bukan" disebut "bukan", adalah benar.
    Saya juga mencoba memahami Aquinas, pemikir abad pertengahan :  

    Kebenaran menurut akal manusia (kebenaran berdasarkan logika/akal sehat) berdasar dari kebenaran yang terkandung dalam "sesuatu". Kebenaran adalah kesesuaian "sesuatu" dengan kecerdasan.
    Tapi penjelasan paling cocok untuk saya tentang "kebenaran" adalah dari hal sederhana seperti ini :

    1. KISAH TIGA ORANG BUTA
    Tiga orang lelaki sudah tidak bisa melihat dari lahir. Suatu hari mereka pergi ke kebun binatang. Seekor gajah berdiri di depan mereka, lalu mereka diminta untuk menerangkan bagaimana binatang yang bernama "Gajah" itu. Lelaki pertama menjawab, "Gajah itu kecil, lentur dan panjang, memiliki rambut lebat seperti sapu ijuk." Lelaki kedua menjawab, "Salah! Gajah itu kokoh, kuat, dan bulat. Bentuknya seperti batang pohon yang besar." Lelaki ketiga menjawab, "Kalian berdua salah! Gajah itu lebar dan tipis, bentuknya seperti kipas."       
    Lelaki pertama hanya meraba ekor gajah. Lelaki kedua hanya memeluk kaki gajah. Lelaki ketiga hanya mengelus telinga gajah. Dan akhirnya mereka punya tiga pendapat untuk benda yang sama. Terbatas oleh pengetahuan mereka, masing-masing meyakini "kebenaran" yang berbeda untuk sesuatu yang bernama "Gajah".
    Karena keterbatasan masing-masing, tiga lelaki buta itu memahami gajah dengan berbeda-beda. Jika mereka mau dan bisa meluangkan waktu lebih lama untuk mempelajari gajah secara utuh dengan indera mereka yang normal, pendapat mereka kemungkinan tidak akan jauh berbeda. Mungkin akan ada perbedaan pendapat, tetapi tidak akan terlalu mencolok. 
    Kebenaran yang mereka yakini tentang gajah terbatas pada "pengetahuan mereka tentang gajah". "Kebenaran" bukanlah "apa yang mereka katakan tentang gajah", akan tetapi "Kebenaran" yang sebenarnya adalah gajah itu sendiri.
    2. BUMI ITU BULAT
    Bumi tempat saya berpijak itu seharusnya datar. Langit di atas, bumi di bawah, dan saya di antara keduanya. Dengan tanpa ilmu, saya akan berpendapat sama seperti orang orang yang hidup di zaman abad pertengahan, 1000 tahun yang lalu, bahwa bumi itu datar. Selama ribuan tahun "kebenaran" itu diyakini sebagian besar manusia.
    Sebuah penelitian baru-baru ini yang meneliti konsep abad pertengahan tentang "Bumi itu bulat" mencatat bahwa,"Sejak abad kedelapan, tidak ada satu ilmuwan pun yang patut dicatat yang mempertanyakan apakah Bumi itu bulat." Walaupun begitu, mungkin saja ada karya para ilmuwan tentang "Bumi itu bulat" tapi tidak mampu mempengaruhi pendapat masyarakat umum, dan sulit untuk mengatakan apakah masyarakat juga memikirkan bentuk Bumi, mungkin mereka bahkan tidak tahu pertanyaan semacam itu ada.
    Kemudian pengalaman dari para penjelajah dunia barulah membuktikan bumi itu tidak datar.
    Penjelajahan bangsa Portugis ke benua Afrika dan Asia, pelayaran Columbus ke Amerika (1492) dan Ferdinand Magellan berhasil mengelilingi bumi (1519-1521) memberikan bukti praktis kepada masyarakat dunia tentang bentuk bumi.
    Dan akhirnya, manusia sudah pergi ke luar angkasa dan membawa pulang potret bumi yang berbentuk seperti sebuah kelereng bulat berwarna biru.
     
     
    Untuk meyakini kebenaran bahwa "Bumi itu bulat", saya tidak (bisa) melayang ke luar angkasa dengan usaha sendiri untuk membuktikannya. Saya (pasti) tidak (lolos kualifikasi) menjadi astronaut yang diperbolehkan ikut menumpang pesawat ulang alik ke luar angkasa untuk diajak melihat langsung "bumi itu bulat". Saya tidak (repot-repot) mencari astronaut NASA yang pernah terbang ke angkasa untuk bertanya langsung, "Apa kamu benar-benar menyaksikan bumi itu bulat? Berani sumpah?" Yang saya lakukan untuk percaya bahwa bumi itu bulat hanyalah dengan percaya pada guru saya (yang saat itu paling pandai di kelas). Yang saya lakukan cuma duduk manis di ruang kelas dan mendengarkan guru saya ketika beliau bilang, "Bumi itu bulat, anak-anak!" 

    3. BAJU BARU SANG RAJA
    Kisah dongeng dari Hans Christian Andersen.
    Zaman dahulu kala hiduplah seorang raja yang menyenangi pakaian indah. Ia menghabiskan banyak hartanya agar ia berpenampilan mewah. Kesenangannya adalah berkunjung ke tempat keramaian untuk memamerkan pakaian indahnya. Jika raja lain lebih sering bertahta di singgasananya, raja yang ini lebih sering ada di kamar riasnya.
    Suatu hari dua orang penipu datang ke kota raja. Mereka mengaku sebagai penenun. Mereka lalu membual bahwa mereka tahu bagaimana caranya membuat pakaian dari kain yang keindahannya tak terbayangkan. Warna warni pakaian ini luar biasa indah, tapi bukan itu saja, yang paling ajaib adalah pakaian ini tak akan bisa dilihat oleh orang yang bodoh.
    Sang raja segera terpikat dan ia pikir ia bisa menguji kepandaian anak buahnya. Hanya anak buahnya yang pintar saja yang bisa melihat pakaiannya nanti. Segera ia memerintahkan dua penipu itu untuk membuatkan pakaian itu untuknya. 
    Mereka lalu mengurung diri di dalam kamar, berpura-pura memintal. Mereka meminta sutera paling bagus dan banyak sekali emas murni untuk bahan pakaian raja. Mereka memintal sangat rajin, bahkan hingga larut malam. Tapi sebenarnya mereka menyembunyikan emas dalam gulungan kain sutra lalu menyelundupkannya keluar kamar.
    Sang raja ingin tahu hasil kerja dua penenun itu. Ia memerintahkan perdana menteri kepercayaannya yang terkenal bijaksana untuk memeriksa hasilnya. Perdana menteri segera datang ke ruang memintal. Ia terheran-heran melihat dua orang penenun itu sedang bekerja dengan rajin, menjalankan alat pintal dengan sibuknya, tapi ia tidak bisa melihat kain hasil pintalannya.
    Dua penenun itu memintanya melihat lebih dekat. "Bagaimana kain hasil pintalan kami Tuan Perdana Menteri? Indah nian bukan?" Perdana menteri bingung harus menjawab apa, "Aku tidak melihat apa pun! Apa aku begitu bodoh sehingga tidak bisa melihat kain baginda raja?" begitu pikirnya. Ia lalu berpura-pura mengamati "kain" itu, lalu mengangguk-angguk, "Indah sekali! Warna warni dan pola anyaman benar-benar rumit menakjubkan!" seru perdana menteri. Ia terlalu malu jika harus bilang tidak bisa melihat kain itu, lagipula ia perdana menteri kerajaan yang tersohor bijaksana. Lalu ia pulang menghadap raja melaporkan bahwa hasilnya "begitu menakjubkan".
    Para penipu itu lalu meminta lebih banyak sutra dan lebih banyak emas. Raja mengabulkannya dan memerintahkan beberapa anak buahnya yang lainnya untuk turut memeriksa hasilnya. Mereka kembali dengan jawaban yang sama seperti perdana menteri. Mereka terlalu malu dan takut dicap bodoh karena tidak bisa melihat kain baginda. Mereka bahkan menambahkan kehebatan kain itu sehingga baginda raja begitu ingin untuk memamerkannya dalam sebuah pawai kerajaan yang megah di jalanan kota raja. Tersebarlah kemasyhuran kain baginda raja dan para pembuatnya menjadi begitu terkenal, hingga raja menganugerahi mereka gelar bangsawan.
    Sehari sebelum hari pawai, para penenun bekerja keras semalaman. Semua orang bisa melihat betapa sibuknya mereka. Dengan gunting besar mereka memotong-motong udara. Menisik-nisik dengan jarum yang benangnya tak kelihatan. Akhirnya hari pawai telah tiba. Dua penenun menghadap baginda raja membawa hasil karya mereka. Mematut-matut di depan cermin, mereka mendandani raja dengan pakaian itu. "Silahkan Baginda lepas pakaian, dan pakailah celana panjangnya, Baginda!" "Ini kemejanya." "Dan ini jubahnya." "Kainnya ringan seperti sarang laba-laba, Baginda seolah-olah tak memakainya, tapi inilah salah satu kehebatan kain ini Baginda!" "Lihatlah keindahan warnanya!" "Pola pola yang begitu rumit dan mencengangkan!" "Benar-benar pakaian yang hanya pantas dipakai Baginda Raja!" Para pengawal raja mengangguk-angguk setuju.
    Raja kemudian berjalan keliling kota dinaungi payung kerajaan. Para pelayan turut di belakang raja, tangan mereka terulur memegang udara kosong. Tentu saja mereka sedang berpura-pura memegang jubah baginda raja, karena mereka tidak bisa melihat kain ajaib itu. Seluruh rakyat menyaksikan iring iringan raja, mereka berdiri di pinggir jalan dan melambai lambai dari atas jendela. Mereka berseru, "Ya Tuhan! Betapa indahnya pakaian Baginda Raja! Tak ada bandingannya! Benar-benar cocok untuk Baginda!"
    Andersen, Hans Christian. Hans Andersen's Fairy Tales. W. Heath Robinson, illustrator. London: Constable & Co., 1913.
     Semua berseru dengan kekaguman, kecuali seorang anak kecil. "...Tapi dia telanjang!" serunya dengan lantang. Bapak anak itu tertegun mendengarnya, lalu berbisik kepada tetangganya. Tetangganya berbisik pada tetangga yang lain. Akhirnya semua orang berbisik, "Baginda tidak pakai apa-apa!"  
    Raja menggigil walaupun tidak kedinginan, ia tahu orang orang berkata benar. Tapi ia melangkah dengan lebih gagah lagi dan para pelayan tetap mengiringi sambil tetap memegang jubah bohong baginda. "Pawai harus dilanjutkan!" pikirnya.
    KEBENARAN      
     Jadi apa yang saya pahami tentang "kebenaran"?
    • Keyakinan kita tentang "kebenaran" sesuatu belum tentu benar. "Kebenaran" versi kita terbatas oleh pengetahuan kita.
    • "Kebenaran" bisa diperoleh dari orang lain, dari kepercayaan kita kepada orang yang lebih berpengetahuan. Kita bisa yakin akan "kebenaran" sesuatu walaupun "kebenaran" itu tidak kita alami atau saksikan sendiri.
    • "Kebenaran" bisa dipalsukan untuk maksud tertentu. Maka cermatilah motif penyampai "kebenaran".
    • "Kebenaran" bisa saja muncul dari sumber yang tidak terduga, bukan berasal dari sumber yang kita percaya.
    Siapakah yang memiliki pengetahuan yang tak terbatas, Yang Maha mengetahui? Sumber dari semua "kebenaran"?
     
    Referensi :
    http://en.wikipedia.org/wiki/Theories_of_truth 
    http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/12/bumi-waktu-malam-bagaikan-kelereng-hitam-berpendar 
    http://en.wikipedia.org/wiki/The_Blue_Marble
    http://www.pitt.edu/~dash/type1620.html#andersen
    READ MORE - Mencari Kebenaran - Bag.1

    Mencari Kebenaran - Bag.2

    Orangtua lebih berpengetahuan daripada anaknya. Bukan karena orang tua pasti lebih pintar dari anaknya, akan tetapi yang pasti orang tua sudah lebih dulu tinggal di dunia lebih lama dari sang anak. Mungkin orangtua sudah berumur 25 tahun menjalani kehidupan ketika anak pertamanya lahir dan melihat dunia untuk pertama kalinya.

    Seorang anak secara naluriah akan mencari tempat berlindung. Bayi benar-benar menggantungkan dirinya pada orangtuanya. Ia membutuhkan makan, minum, tidur, kehangatan, dan kebersihan, sedangkan satu-satunya keterampilan yang ia bisa cuma menangis. Seiring pertumbuhan si anak, orang tua tidak hanya merawat memenuhi kebutuhan sang anak tapi akan mengajarkan apa yang ia ketahui tentang dunia kepadanya agar pada suatu saat nanti ia siap hidup mandiri. Siap untuk bertanggungjawab untuk dirinya sendiri. Siap jika suatu ketika orangtua sudah tidak bisa melindunginya lagi.

    Si anak belajar dan mendapatkan pengajaran. Anak belajar pertama kali dari lingkungan terdekat, keluarga inti. Anak diajarkan untuk merawat diri sendiri, belajar makan minum yang benar, berpakaian yang benar, merawat diri dengan benar. Anak belajar mana "baik" dan "buruk". Mengompol di celana itu buruk, rajin menyikat gigi adalah baik, dan hal lainnya. Anak belajar apa yang dianggap "benar", "salah", "baik", "buruk" sesuai nilai-nilai yang dianut keluarga. Peraturan dan tata tertib dalam keluarga. 

    Anak belajar "sebab" dan "akibat", "hak" dan "kewajiban", belajar "bertanggungjawab". Bermain-main pintu bisa terjepit. Berlari di lantai basah bisa terpeleset. Bersikap baik mendapat permen, berbuat nakal kena omel. Nilai ulangan baik mendapat hadiah, nilai ulangan buruk jam bermain dikurangi. Ia mulai belajar bertanggung jawab, minimal untuk dirinya sendiri.  

    Selain pelajaran dari keluarga, anak akan belajar dari lingkungan. Belajar "benar" dan "salah", "baik" dan "buruk" dari lingkungannya. Ia belajar dari teman bermain, belajar dari tetangga, belajar dari sekolah. Ia belajar nilai-nilai dalam lingkungan, baik yang tertulis maupun tidak. Peraturan dan tata tertib kampung, tata tertib sekolah, bagaimana bersikap dalam bermain agar memiliki kawan.

    Anak belajar dari sumber-sumber informasi non-formal : televisi, radio, internet, surat kabar, majalah dan lainnya. Sumber-sumber informasi tanpa harus berinteraksi langsung dengan orang lain. Mereka akan belajar dari sumber pengetahuan seluas yang bisa mereka jangkau. Mereka dengan mudah akan mengenal nilai-nilai lain, di luar nilai-nilai keluarga dan lingkungan. Pengetahuan tentang nilai-nilai dari seluruh dunia yang dahulu dibatasi oleh jarak dan waktu, sekarang bisa dijangkau dengan mudah dalam tayangan televisi dan browsing internet. 

    Nilai-nilai dalam keluarga tentunya berbeda beda mengikut nilai yang dianut pemimpin keluarga. Nilai-nilai di lingkungan juga demikian mengikuti nilai yang diatur pemimpin lingkungan. Seringkali nilai-nilai dalam keluarga bertentangan dengan nilai-nilai lingkungan atau sebaliknya. Apalagi informasi yang diperoleh dari sumber-sumber radio, televisi, surat kabar, majalah, internet dan lainnya yang membawa nilai-nilai dari banyak lingkungan di seluruh belahan dunia, barat timur, agamis atheis, tertutup terbuka.

    Ketika beranjak dewasa, maka seseorang akan bisa memilih dan memilah sendiri "benar-salah" dan "baik-buruk". Apalagi jika dia memiliki kebebasan untuk melakukannya. Misalkan seorang yang memiliki paham hedonis (kesenangan adalah segalanya) tentu merasa dibatasi ketika ia tinggal di lingkungan agamis yang membatasi tingkah laku dengan norma-norma. Yang dahulu "benar" berdasarkan aturan orangtua, bisa saja sekarang diyakini "salah". Yang dahulu dianggap "buruk" mungkin sekarang "baik". Seorang dewasa memiliki kemampuan untuk menetapkan standar "baik-buruk" "benar- salah"nya masing masing, dan menyadari konsekuensinya.

    Latar belakang dan masa lalu seseorang tentu akan mempengaruhinya di masa dewasa. Pelajaran dan pengalaman selama hidup akan mempengaruhi keputusan dan tindakannya di masa mendatang.
    Jika anak-anak hidup dengan kritik, mereka belajar untuk mengutuk.
    Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, mereka belajar untuk berkelahi.
    Jika anak-anak hidup dengan ketakutan, mereka belajar untuk menjadi memprihatinkan.
    Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.
    Jika anak-anak hidup dengan ejekan, mereka belajar untuk merasa malu.
    Jika anak-anak hidup dengan kecemburuan, mereka belajar untuk merasa iri.
    Jika anak-anak hidup dengan rasa malu, mereka belajar untuk merasa bersalah.
    Jika anak dibesarkan dengan dorongan, mereka belajar percaya diri.
    Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
    Jika anak dibesarkan dengan pujian, mereka belajar menghargai.
    Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, mereka belajar untuk mencintai.
    Jika anak-anak hidup dengan persetujuan, mereka belajar untuk menyukai diri mereka sendiri.
    Jika anak-anak hidup dengan pengakuan, mereka belajar bahwa sangatlah baik kalau memiliki tujuan.
    Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.
    Jika anak-anak hidup dengan kejujuran, mereka belajar kebenaran.
    Jika anak-anak hidup dengan keadilan, mereka belajar keadilan.
    Jika anak dibesarkan dengan kebaikan dan pertimbangan, mereka belajar menghargai.
    Jika anak-anak hidup dengan rasa aman, mereka belajar untuk percaya pada diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka.
    Jika anak-anak hidup dengan keramahan, mereka belajar bahwa dunia adalah tempat yang indah untuk hidup.
    Children Learn What They Live, Dorothy Law Nolte, Ph.D.
    Hak Cipta © 1972 oleh Dorothy Law Nolte
    Sedikit atau banyak pendidikan mempengaruhi kita. Tapi apa pun yang terjadi di masa lalu, kita hidup di saat ini, sekarang. Percuma menyesali masa lalu yang tak akan kembali. Ambil yang "baik", buang yang "buruk", yakini yang "benar", hindari yang "salah". Tentukan apa "baik", "buruk", "benar", "salah", mulai dari sekarang. 
    Lantas apa yang "baik"? Apa yang "buruk"? Mana yang "benar"? Mana yang "salah"? 
    Mandiri lah dalam pemikiran. Mandiri dalam berpikir, menentukan nasib dan sikap sendiri adalah kebebasan orang merdeka, kemerdekaan bagi seorang budak, tahap kedewasaan dari seorang anak,  Pikirkan lagi konsep "baik", "buruk", "benar", "salah" yang kita pelajari. Tentukan apa "baik", "buruk", "benar", "salah", mulai dari sekarang. Ambil yang "baik", buang yang "buruk", yakini yang "benar", hindari yang "salah". Jangan menjadi anak-anak selamanya, menerima apa saja yang disodorkan tanpa mempertanyakan, melakukan tanpa keyakinan.
    Mari dimulai sejak saat ini untuk menetapkan sendiri "baik", "buruk", "benar", "salah" versi anda sendiri. Carilah sejauh pengetahuan anda mampu menjangkaunya, dan akal anda mampu menerimanya. Silahkan pelajari "baik", "buruk", "benar", "salah" versi banyak orang. Dan saya akan mulai bercerita tentang "kebenaran" versi saya, jika anda berkenan menyimaknya.

    Referensi :http://en.wikipedia.org/wiki/Parenting
    http://indonesian-english.com/blog/puisi-pendidikan-anak

    Gambar dari :
    http://karenswhimsy.com
    READ MORE - Mencari Kebenaran - Bag.2

    Sabtu, 01 Juni 2013

    Mengenal Utusan Tuhan - Bag.2

    Tuhan memperlihatkan keberadaannya tidak melalui wujud-Nya yang tampak dalam penglihatan manusia. Tuhan memperlihatkan keberadaannya melalui tanda-tanda kehadirannya, hasil ciptaan-Nya. Hasil ciptaan-Nya lah yang merupakan bukti adanya Tuhan. Bukti yang bisa ditangkap oleh panca indera manusia.
    Pertanyaannya adalah apakah manusia mengakui bukti-bukti tersebut?

    Keberadaan Tuhan juga dikuatkan oleh para saksi. Saksi-saksi itu mempersaksikan keberadaan Tuhan. Saksi-saksi itu bersaksi membawa pesan-pesan Tuhan. Keinginan Tuhan Yang Maha Kuasa. Aturan Tuhan bagi manusia. Aturan yang mengikat manusia tentang kepercayaan dan peribadatan kepada Tuhan (dan terhadap nilai nilai moral perilaku manusia) disebut 'Agama'. Para saksi itu disebut sebagai nabi, rasul, utusan, guru.
    Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
    Agama adalah sebuah kumpulan aturan kepercayaan, budaya, dan pandangan tentang dunia yang berhubungan manusia dengan hal gaib, kerohanian, dan kadang-kadang, nilai-nilai moral. Banyak agama memiliki kisah, simbol, dan sejarah suci yang dimaksudkan untuk menciptakan arti bagi kehidupan, atau untuk menjelaskan asal usul kehidupan, atau asal-usul alam semesta. Dari keyakinan tentang alam semesta dan sifat manusia, agama cenderung untuk menetapkan standar moral, etika, hukum atau pilihan gaya hidup. Diperkirakan ada sekitar 4.200 agama di dunia.
    Sepeninggal para nabi, rasul, utusan, guru, atau apa pun sebutannya, para pengikutnya meneruskan ajaran mereka. Pengetahuan tentang agama lalu disampaikan secara terus menerus melalui generasi ke generasi. Muncul para pemuka agama : ulama; rahib; pendeta; dukun; orang suci; yang dianggap atau diakui sebagai orang yang lebih berpengetahuan tentang agama dibandingkan kebanyakan penganutnya. Mereka mendapat pengakuan dari banyak orang bahwa mereka lebih paham tentang agama : tentang kepercayaan, tata cara peribadatan, hal-hal gaib, hukum dan aturan, atau nilai-nilai moral.

    Orang yang mengakui terikat atau mengikatkan diri dengan aturan agama disebut sebagai orang yang beragama, religius. Jika ia taat mengikuti aturan-aturan agamanya, maka ia orang yang saleh. Jika ia berpemahaman berbeda dengan aturan resmi agamanya maka ia disebut berperilaku bid'ah. Sama sekali menolak konsep dasar agamanya, maka ia disebut kafir.

    Berbeda dengan keyakinan pada Tuhan yang bisa tumbuh dengan sendirinya (atau muncul dari kesadaran diri sendiri akan kehadiran-Nya melalui pengamatan terhadap bukti-bukti penciptaan), keyakinan pada agama tertentu kadang harus dipelajari (atau malah dipaksakan/ terpaksa mengikuti).
    Banyak agama mungkin memiliki aturan tentang perilaku, lembaga kependetaan, aturan tentang keanggotaan, memiliki tempat-tempat suci, dan kitab suci. Praktek agama juga dapat mencakup upacara, khotbah, peringatan atau pemujaan Tuhan, atau dewa dewi, pengorbanan, festival, pesta, pengaruh roh halus, inisiasi, upacara pemakaman, upacara pernikahan, meditasi, doa, musik, seni, tari, layanan masyarakat atau aspek lainnya dari budaya manusia. Agama juga kadang berisi mitos (dongeng atau legenda).
    Ada ritual tertentu yang harus dijalani oleh pemeluk agama, misalkan untuk beragama Kristen maka harus menjalani pembaptisan, atau untuk beragama Islam maka harus mengucapkan kalimat syahadat. Oleh karena itu mungkin saja ada yang mengakui adanya Tuhan tapi tidak memeluk agama, atau memeluk agama tapi tidak (belum) percaya Tuhan. Perhatikan satu kisah dalam kitab suci umat Islam tentang pemeluk agamanya :
    Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". 
    Agama apa yang anda anut? Keyakinan anda di masa kecil 99,99% akan sama dengan keyakinan orang tua anda atau wali anda. Setelah anda mulai mampu membantah orang tua anda, ada kemungkinan keyakinan anda berbeda dengan keyakinan mereka. Anda tidak lagi berpikir sederhana, berpikir yang pasti-pasti, seperti pada masa kanak-kanak. Pada masa remaja, anda mulai memiliki kemampuan mempertimbangkan banyak kemungkinan dan mulai berpikir tentang masa depan. Pada masa remaja, anda mengalami krisis identitas. Anda sedang mencari identitas diri. Anda sedang mencari-cari anda yang ideal dari sebelumnya dari anda yang apa adanya. Anda akan mempertanyakan tiga hal penting : apa pekerjaan (profesi) saya? apa keyakinan (ideologi) saya? siapa 'kawan' saya?

    Lingkungan akan mempengaruhi pencarian anda. Anda mulai memperhatikan pendapat-pendapat orang lain. Orang lain di luar diri anda sendiri dan orangtua anda. Orang lain yang anda anggap penting. Apa pendapat mereka? Apa yang mereka anggap penting? Apa penilaian mereka terhadap anda? Anda mencari idola, orang yang ideal untuk mewakili diri anda. Idola yang akan memberi jawaban : apa pekerjaan (profesi) saya? apa keyakinan (ideologi) saya? siapa 'kawan' saya? Seorang nabi pernah menyampaikan sebagai berikut :
    “Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, karenanya hendaklah salah seorang diantara kalian mencermati kepada siapa ia berteman.” 
    “Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau menibeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap”. 
    Siapa pun bisa jadi idola, orang yang anda kagumi. Bisa ayah ibu, kakak, guru, teman. Orang yang belum pernah anda temui bisa saja jadi idola anda. Hanya mendengarkan kisahnya, membacanya dari buku-buku bacaan, menonton di layar televisi, browsing di internet, bisa membuat seseorang menjadi idola anda. Orang yang sudah meninggal bisa pula menjadi idola anda, bahkan anda bisa mengidolakan diri anda sendiri. Contoh pengidolaan diri yang ekstrem adalah kisah Fir'aun di negeri Mesir kuno :
    Fir'aun berkata: "Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan". 
    Anda bisa memiliki banyak idola. Untuk urusan menyanyi, anda kagum pada penyanyi A. Untuk urusan penampilan, anda kagumi artis B. Untuk ilmu, anda kagum pada ilmuwan C. Untuk kebijaksanaan, anda kagumi ulama D. Dan seterusnya. Sedikit atau banyak, anda cenderung meniru idola anda : mungkin anda menyenandungkan lagu penyanyi A, mungkin mencontoh dandanan artis B, anda bercita-cita menjadi ilmuwan seperti C, anda harap bisa sebijaksana ulama D.

    Tapi apakah idola anda pada kenyataannya sesuai dengan harapan dan kekaguman anda? Apakah suara penyanyi A seindah aslinya? Apakah artis B secantik yang anda lihat di televisi? Apakah ilmuwan C benar-benar berotak encer? Apakah ulama D sebijaksana ucapannya? Bagaimana jika A sering berpura-pura bernyanyi alias lipsinc? Bagaimana jika B hanya cantik karena berhias? Si C ternyata plagiat? D tidak sebijaksana khotbah-khotbahnya? Dan ternyata Fir'aun hanya manusia biasa, bukan Tuhan seperti pengakuannya?

    (Mungkin) zaman sekarang sudah tidak ada lagi manusia yang mengaku-aku Tuhan dan kemudian dengan kekuasaannya (atau karena ingin berkuasa) lalu memaksa agar hanya dirinya yang wajib ditaati. Baik dengan membujuk atau dengan memaksa. Ikuti aku agar hidup sejahtera! Ikuti aku untuk hidup lebih baik! Taati aku atau rasakan akibatnya! Manusia sekarang lebih berpengetahuan daripada zaman dahulu, banyak hal yang dianggap gaib atau keajaiban di zaman dahulu sekarang bisa dijelaskan dengan ilmu. Manusia lebih rasional sehingga tidak mudah untuk dibodohi. Tapi bahkan di zaman modern ini masih ada yang mengaku sebagai utusan Tuhan, dan masih ada yang bersedia mengikutinya.

    Apa bedanya antara utusan Tuhan sebenarnya dan yang palsu? Motif pemalsuan pasti tidak jauh dari harta, tahta, atau wanita. Motif-motif rasional yang bersifat duniawi, atau sebaliknya ada kemungkinan gangguan kejiwaan. Jika kelihatannya motifnya bukan duniawi, tidak masuk akal, maka tuduhan gangguan jiwa paling sering diutarakan kepada para nabi dan rasul oleh kaumnya sendiri. Pada zamannya nabi dan rasul ada yang disebut orang gila, walaupun kemudian ajarannya bertahan hingga saat kini dan banyak diikuti oleh banyak orang. Sebuah ayat dari kitab suci merekam kata-kata Nuh kepada kaumnya, dan apa kata kaumnya tentang Nuh :
    Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya). 
    Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: "Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi (ancaman)". 
    Nabi palsu, guru palsu jelas memiliki motif keduniawian (atau halusinasi).    
    Dalam agama, seorang nabi palsu adalah seorang penipu yang mengaku memperoleh karunia mengetahui tentang masa depan atau mendapat inspirasi ilahi, atau yang menggunakan karunia itu tapi digunakan untuk tujuan-tujuan jahat. Seringkali, seseorang yang dianggap sebagai "nabi yang benar" oleh sekelompok orang dianggap sebagai "nabi palsu" oleh kelompok yang lain, bahkan pertentangan bisa terjadi dalam agama yang sama. Istilah ini kadang-kadang digunakan di luar konteks agama untuk menggambarkan seseorang yang dengan gigih mengajukan suatu teori tetapi para pendengarnya menganggapnya palsu.
    Jadi mana utusan Tuhan yang sesungguhnya? Sekarang ada lebih dari 4.200 agama di dunia. Tidak semua agama-agama itu akur. Yang satu bertentangan dengan yang lain. Yang satu meng-kafir-kan yang lain. Yang satu mem-bid'ah-kan yang lainnya. Lantas yang mana agama yang benar, yang dibawa oleh utusan Tuhan yang sebenarnya?

    Suatu langkah besar ketika anda memulai pencarian kebenaran ini. Dibutuhkan keberanian untuk menantang arus. Tahapan pencarian anda paling tidak akan seperti ini :
    1. Apakah anda sedang menganut suatu keyakinan, suatu ajaran, suatu agama? (Tidak percaya suatu ajaran pun, atau suatu agama pun, adalah merupakan keyakinan)
    2. Apakah anda menganut keyakinan itu karena kesadaran anda sendiri atau karena terpaksa (karena keyakinan itu adalah keyakinan orangtua anda, keluarga anda, kelompok anda, masyarakat di sekitar anda, atau ideologi pemerintah)?
    3. Jika anda menganut keyakinan itu karena kesadaran sendiri, apa motif anda? Apakah karena keyakinan itu sesuai dengan hati nurani dan akal sehat anda (ikhlas)? Atau karena keyakinan itu mendatangkan keuntungan fisik/finansial atau menghindarkan anda dari kerugian fisik/finansial (karena imbalan)?
    4. Jika anda yakin karena terpaksa atau karena berharap imbalan, apakah anda merasa nyaman dengan keadaan itu?
    5. Jika anda tidak merasa tenang dengan keadaan saat ini, apakah anda bersedia mempelajari lebih dalam keyakinan yang anda anut sekarang, agar anda semakin yakin akan kebenarannya? 
    6. Jika anda tetap tidak merasa tenang, apakah anda bersedia membuka diri untuk keyakinan, ajaran, atau agama yang lain? Apakah anda bersedia untuk mengesampingkan kesombongan diri, kesombongan kelompok, kesombongan suku, kesombongan ras, untuk mencari keyakinan yang benar bagi kebutuhan anda sendiri?
    7. Jika anda mau membuka diri, keyakinan seperti apa yang paling masuk akal bagi anda? Yang paling cocok dengan hati nurani anda? Konsep tuhan seperti apa yang paling tepat untuk anda?
    8. Adakah seseorang atau sekelompok orang yang sedang menjalankan keyakinan tersebut?
    9. Apa kata orang-orang (yang anda hargai pendapatnya) tentang seseorang atau kelompok orang tersebut? Positif atau negatif? Apakah anda sependapat dengan mereka? 
    10. Apakah seseorang atau kelompok orang tersebut bisa anda ajak bertukar pikiran lebih dalam mengenai keyakinan mereka itu? Bisakah anda memperoleh informasi dari orang yang diakui lebih berpengetahuan (ulama, guru, pendeta, pemimpin) dalam keyakinan, ajaran, atau agama tersebut?
    11. Ketika anda mulai bertukar pikiran, tanyakan 4 hal berikut : Siapakah pemimpinnya? Bagaimana sejarah munculnya keyakinan, ajaran, atau agama tersebut? Dari mana mereka mempelajari tata cara beribadah/ melakukan keyakinan mereka? Untuk apa mereka melakukan ibadah itu? 
    12. Apakah jawabannya jelas atau mengambang? Akurat atau meragukan? Berasal dari fakta atau fiksi? Terbuka atau ditutup-tutupi? Bagaimanakah pendapat hati nurani dan akal sehat anda setelah anda memperoleh jawabannya?  Menjadi yakin? Ragu-ragu? Menolak mentah-mentah? 
    13. Jika anda merasa keyakinan tersebut benar, bersediakah anda mengikuti keyakinan itu? Bersediakah anda berkomitmen untuk menjalankan keyakinan itu? Bersediakah anda bertanggung jawab atas pilihan anda? Bersediakah anda menanggung resiko dari pilihan anda? Siapkah anda untuk menantang arus, mendapat cemoohan, dianggap aneh karena pilihan anda?
    14. Terakhir dan paling penting. Apapun keyakinan yang anda pilih dari usaha pencarian anda nanti, anda lebih baik daripada orang-orang yang hanya berkeyakinan karena terpaksa atau berharap imbalan dari keyakinannya. 
    Jika anda bingung, hati anda tidak tenang, mulailah pencarian anda untuk mendapat keyakinan yang "benar" sekarang. Entah di tahap mana anda akan memperoleh "kebenaran" itu atau bahkan mungkin seumur hidup anda, anda tidak dapat menemukannya. Tapi mulailah sekarang, dan ini butuh keberanian anda. Pertanyaannya adalah :
    "Beranikah anda?"

    Referensi :
    http://id.wikipedia.org/wiki/Agama
    http://en.wikipedia.org/wiki/Religion
    http://www.quranterjemah.com
    http://en.wikipedia.org/wiki/Adolescence
    http://abuzuhriy.com/lihatlah-siapa-temanmu/
    http://en.wikipedia.org/wiki/False_prophet
    http://www.wikihow.com/Find-the-Right-Religion-for-You

    READ MORE - Mengenal Utusan Tuhan - Bag.2

    Minggu, 26 Mei 2013

    Mengenal Utusan Tuhan - Bag.1

    Fakta adalah hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. Fakta disampaikan oleh pelaku atau saksi mata menjadi berita. Berita lalu sambung menyambung, dari orang ke orang, dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi, menjadi sejarah. Sebelum ada alat dokumentasi dan penyimpanan data canggih, hal inilah yang terjadi selama beribu-ribu tahun. Dari mulut ke mulut. Dari tulisan ke tulisan. Dari bahasa ke bahasa. Sambung menyambung hingga kisah-kisah kearifan, cerita-cerita kebiadaban, dan sejarah peradaban kuno bisa kita ketahui di masa ini. Hanya saja seringkali terjadi, berita atau pesan tidak sesuai fakta. Sejarah bisa tidak sesuai dengan kenyataan karena kesengajaan atau pun tidak.

    Kebalikan dari fakta adalah fiksi. Cerita rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan. Hanya terjadi dalam otak. Sama seperti fakta, fiksi bisa menjadi berita. Bahkan berita berdasarkan fiksi bisa saja dibenarkan oleh "saksi mata". Berita lalu sambung menyambung, dari orang ke orang, dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi, menjadi sejarah yang seolah-olah berdasarkan kenyataan, benar-benar ada atau terjadi.

    Coba simak dongeng anak-anak berikut :
    Seorang anak gembala domba berteriak dari atas dari bukit, "Serigala! Serigala!" Para petani berlarian tergopoh gopoh naik ke atas bukit. Mereka membawa senjata seadanya, apapun yang mereka bisa bawa. Apa yang mereka lihat ketika sampai di atas bukit? Mereka melihat si anak gembala tertawa terbahak-bahak, domba-domba merumput dengan tenang, dan tak ada seekor serigala pun yang tampak.
    Selang beberapa hari kemudian, anak gembala kembali berteriak dari atas dari bukit. Suaranya bergetar penuh kengerian, "Serigala! Serigala! Tolong! Serigala!" Para petani kembali berlarian tergopoh-gopoh naik ke atas bukit. Dan apa yang mereka lihat? Mereka mendapati si anak gembala tertawa lebih keras, dan lagi-lagi tak ada seekor serigala pun yang tampak.
    Ketiga kalinya terdengar teriakan dari atas bukit. Lebih keras dan lebih mengiba dari yang sudah-sudah. "Tolong! Tolong! Serigala! Serigala! Tolong!" Tapi kali ini tak ada seorang petani pun yang bersegera naik ke atas bukit. Lama kemudian seorang petani naik ke bukit. Tak ada serigala, tapi domba-domba bertebaran menjadi bangkai  dan si anak gembala menangis sedu sedan menyesali nasibnya yang malang. 
    Apa yang tersirat dalam dongeng di atas?
    1. Anak gembala mengarang cerita serigala (fiksi), para petani percaya ada serigala (asumsi), tapi ternyata tak ada serigala (tidak ada bukti).
    2. Anak gembala melihat serigala (fakta), petani tidak percaya (asumsi), tapi domba-domba mati menjadi bangkai ditangisi anak gembala (ada bukti).
    Ilustrasi dongeng sederhana menunjukkan fiksi bisa saja dipercayai karena ada saksi, dan juga sebaliknya fakta bisa saja tidak dipercayai walaupun ada saksi. Yang kemudian membedakan fakta dan fiksi (tentang keberadaan serigala) adalah bukti (bekas kehadiran serigala) dan diperkuat oleh saksi mata.     

    Perbedaan antara fakta dan fiksi adalah bukti. Jika terbukti, maka itu adalah fakta. Tak ada bukti maka sesuatu itu fiksi : tidak nyata, hanya khayalan, cuma ide atau hasil pikiran seseorang. Sebelum ada bukti maka semuanya baru berupa asumsi, baru prasangka (yang nantinya bisa terbukti benar atau sebaliknya).

    Bagaimana sebuah fiksi bisa menjadi fakta? Coba perhatikan karya fiksi H.G. Wells dalam novelnya ‘The Land Ironclads’:
    “Kedap-kedip pucat itu berasal dari serangga hitam besar dan kaku, serangga berukuran sebuah kapal penjelajah yang dibalut besi, yang merangkak miring ke baris pertama dari parit dan tembakan terpancar dari kedua sisinya. Peluru menghujami semua sisinya yang keras seperti gairah hujan es di atap seng. Kemudian dalam sekejap mata tirai kegelapan itu menghilang dan monster itu lenyap…"
    Narasi di atas adalah tentang kisah fiksi sebuah tank baja yang terbit tahun 1903, tapi tank baru menjadi nyata pada tahun 1916.

    Dan bagaimana fakta kemudian terbukti hanya fiksi, tidak nyata, hanya khayalan?
    Pada tahun 1912, sebagian besar ilmuwan percaya bahwa "manusia Piltdown" adalah "mata rantai yang hilang" dalam evolusi kera menjadi manusia. "Manusia Piltdown" adalah hasil rekonstruksi para ahli British Museum dari fosil tengkorak yang diperoleh Charles Dawson. Spesimen itu diberi nama ilmiah, nama latin Eoanthropus dawsoni. Mata rantai yang hilang itu akhirnya terbukti sebagai penipuan Tahun 1953 fosil tengkorak piltdown itu dibuktikan sebagai rahang orangutan yang ditempelkan ke tengkorak manusia modern. 
    Bayangkan, dengan adanya 'bukti' dan 'saksi' dari para ahli, penemuan 'ilmiah' itu baru terbukti secara ilmiah sebagai tipuan 40 tahun kemudian.

    Kebenaran yang didukung bukti dan saksi bisa saja terbukti salah. Bagaimana jika "kebenaran" itu diyakini oleh sebagian besar orang? Golongan minoritas yang berkeyakinan sebaliknya bisa saja ditindas untuk meyakini "kebenaran" mayoritas. Apalagi yang meyakininya hanya satu orang dan keyakinannya bertentangan dengan keyakinan orang banyak dan para pemimpinnya, serta menyinggung kekuasaan yang telah mapan bahkan turun temurun. Inilah yang dialami oleh para penyampai berita, para penyampai peringatan, para utusan Tuhan, para Nabi.

    Alkisah sebuah cerita dari zaman dahulu kala di tanah Arab yang gersang. Diceritakan turun temurun hingga saat ini.
    Seorang yang sangat terkenal jujur selama hidupnya naik ke sebuah bukit. Ia kemudian berteriak memanggil-manggil. Orang-orang berkumpul bahkan yang tidak bisa hadir mengutus utusan untuk menghadirinya. Pemimpin-pemimpin kaumnya juga berdatangan. Ia lalu berkata, "Apa pendapat kalian jika kuberitahukan kepada kalian bahwa pasukan berkuda musuh di balik lembah ini akan menyerang kalian. Apakah kalian akan mempercayaiku?" Orang-orang itu menjawab,"Tentu! Kamu tidak pernah berkata dusta!" Lalu orang itu menambahkan, "Sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan adzab yang berat." Orang terkemuka di antara mereka memaki, "Untuk inikah kamu mengumpulkan kami!? Celaka kamu!"
    Kenapa pemuka kaum memakinya? Karena orang jujur itu meyakini sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan kebanyakan kaumnya yang sudah berurat berakar, turun temurun dari nenek moyang. Keyakinannya membahayakan kekuasaan politik para pemuka kaum, membahayakan pondasi kepercayaan mereka, meruntuhkan kehormatan mereka. Yang ia sampaikan hanyalah kata-kata, tapi kata-katanya begitu mempesona. 
    "Mintalah kepada Tuhanmu agar bukit-bukit yang mengelilingi kami ini digeser, sehingga tanah kami menjadi datar, serta sungai-sungai mengalir seperti di Suriah dan Irak. Mintalah kepada Tuhanmu agar nenek moyang kami dihidupkan kembali, termasuk Qushay, sehingga kami dapat bertanya apakah yang engkau katakan ini benar atau dusta. Atau jika tidak, mintalah sesuatu untuk memenangkan dirimu sendiri. Mintalah kepada Tuhanmu agar mengutus malaikat yang akan membuktikan kebenaran kata-katamu dan memastikan kebohongan kami. Dan mintalah kepada Nya untuk memberi taman-taman, istana, emas, dan perak, sehingga kami dapat mengetahui ketinggian martabatmu di sisi Tuhanmu."
    Mereka meminta bukti mukjizat, dan tidak mendapatkannya.
    "Kalau begitu, runtuhkanlah langit hingga berkeping keping di atas kepala kami." 
    "Kami tidak akan memercayaimu sampai engkau menunjukkan kepada kami Tuhan dan para malaikat sebagai bukti." "Aku tidak akan memercayaimu selamanya sebelum aku melihat sendiri engkau dapat naik mencapai langit, kemudian turun lagi ke bumi membawa empat malaikat untuk membenarkan pengakuanmu! Kalau itu terjadi, aku baru mungkin memercayaimu!"
    Dan langit tidak runtuh di atas kepala mereka. Tuhan dan malaikat tidak juga tampak di hadapan mereka.
    "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan."
     "Berkatalah orang orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami: 'Mengapa tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita tidak melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya, mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman."
    Dan memang hanya orang-orang yang tidak menyombongkan diri : budak, bekas budak, orang orang pinggiran, orang orang muda yang tak punya pengaruh, yang kemudian banyak mengikutinya. Mereka bersegera yakin akan kalimat-kalimatnya yang mengandung kebenaran, firman dari Tuhannya.
    "Kami tidak ciptakan langit, bumi, dan segala isinya dengan bermain-main."
    "Maka, apakah kamu mengira, sesungguhnya Kami ciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? 
    "Dan, sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya adalah malam dan siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya."  
     "Apakah mereka tidak memerhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
    "Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang bintang, matahari dan bulan yang bercahaya. Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur."
    Para penentangnya tak kunjung mendapatkan bukti sesuai harapan mereka. Mereka mau melihat wujud Tuhan tampak dalam penglihatan mereka. Mereka ingin Tuhan yang ikut dalam aturan main mereka. Mereka tidak mau memperhatikan tanda-tanda kehadiran Tuhan di dunia.

    Jadi apakah Tuhan itu fakta atau fiksi? Jawabannya tergantung dari bukti apa yang anda inginkan.
    Jika anda telah melihat tanda-tanda kehadiran Tuhan sebagai bukti, dan merasa yakin dengan para saksi yang telah bersaksi akan keberadaan-Nya, maka keberadaan Tuhan, bagi anda adalah fakta.
    Jika anda belum melihat tanda-tanda kehadiran Tuhan; anda ingin Tuhan hadir sesuai aturan main yang anda inginkan; dan anda tidak yakin dengan para saksi yang telah bersaksi akan keberadaan-Nya; maka Tuhan adalah fiksi, yang ada bagi anda bukanlah Tuhan tapi konsep ketuhanan produk pikiran manusia. Manusia menciptakan Tuhan.
    Kalimat yang paling baik untuk menutup narasi ini adalah sebuah kalimat :
    Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu".

    Referensi :
    http://kamusbahasaindonesia.org/fakta
    http://kamusbahasaindonesia.org/fiksi
    http://en.wikipedia.org/wiki/The_Land_Ironclads
    http://www.lihat.co.id/2013/03/8-imajinasi-teknologi-fiksi-ilmiah-yang.html
    http://en.wikipedia.org/wiki/Piltdown
    Muhammad, Martin Lings, PT. Serambi Ilmu Semesta, 2010
    http://www.quranterjemah.com

    READ MORE - Mengenal Utusan Tuhan - Bag.1

    Selasa, 21 Mei 2013

    Mengenal Tuhan - Bag.6

    Manusia itu penuh dengan ketidaktahuan. Lebih banyak tidak tahunya daripada tahu. Lebih banyak hal yang gaib alias tersembunyi dari pengetahuan dan panca indera manusia daripada yang tampak nyata dan diketahuinya. Coba saja jawab beberapa pertanyaan ini :
    Berapa jumlah rambut di kepalamu? Apa bahasa Swahili-nya "kambing hitam"? Tetangga sebelah rumah tadi pagi masak apa? Berapa harga sekilo beras di Bangkok? Apa resep original recipe ayam kentucky Colonel Sanders? Kenapa harga telur sekarang Rp.15.500,- rupiah per kilo? Apa benar manusia keturunan monyet?
    Pengetahuan itu luar biasa banyaknya. Dari yang penting hingga tidak penting. Ilmu pengetahuan manusia yang dianggap penting bagi umat manusia dirangkum dalam The Encyclopædia Britannica, ensiklopedi terlengkap setebal 18.251 lembar. Pengetahuan yang dianggap tidak penting tentunya lebih banyak lagi, contohnya tanggal kelahiran istri saya pasti dianggap tidak penting sehingga tidak tercantum di dalamnya (walaupun bagi saya, fatal akibatnya jika sampai lupa). Dan tentunya tidak banyak orang yang punya pengetahuan penting untuk umat manusia. Lebih banyak orang yang punya sedikit pengetahuan (yang bahkan tidak penting), dibandingkan orang pintar.

    Coba renungkan kisah ini.
    Diberitakan kejadian dahsyat di abad 20, kejadian yang pertama kalinya terjadi dalam sejarah umat manusia. NASA, lembaga antariksanya negeri Paman Sam, menyiarkan langsung di televisi pendaratan manusia di bulan. Untuk pertama kalinya kaki manusia menginjak bulan. "That's one small step for [a] man, one giant leap for mankind." Sebuah lompatan untuk umat manusia. Dokumentasi dan sampel batuan dengan lengkap mengabadikan momen itu. Anehnya, walaupun dengan semua bukti yang ada, masih ada yang tidak percaya pendaratan di bulan itu benar-benar terjadi, dan berusaha untuk membuktikan sebaliknya bahwa semua itu adalah kebohongan publik untuk kepentingan politik Amerika.
    ?
    Foto manusia di bulan ini benar atau bohong?
    Apa komentar anda tentang berita ini? Manusia mendarat di bulan! Anda percaya? Tidak percaya? Atau EGP (emang gue pikirin!)? Pada sesuatu yang kita tidak alami sendiri, pilihan kita adalah : percaya, tidak percaya, atau tidak peduli.  Jawaban tergantung kepentingan anda, seberapa penting sih kejadian manusia mendarat di bulan itu bagi anda? Bagi ibu rumah tangga mungkin berita harga beras lebih penting untuk dipedulikan daripada kisah jadul tadi. Jawaban anda juga akan tergantung pengetahuan anda. Kalau anda orang primitif yang masih tinggal di pedalaman hutan mungkin berita ini lebih mustahil dipercaya daripada jika anda orang yang tinggal di kota besar dan telah menyaksikan keajaiban teknologi.

    Demikian juga dengan berita tentang Tuhan. Tuhan itu gaib, tersembunyi dari panca indera manusia. Tidak tampak dan tidak terukur. Tuhan adalah Yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Pencipta, Yang Selalu Ada. Anda percaya? Tidak percaya? Atau EGP (emang gue pikirin!)? Jawaban tergantung kepentingan anda, seberapa penting sih Tuhan (atau konsep ketuhanan) bagi hidup anda? Jawaban akan tergantung dari pengetahuan anda tentang Tuhan (atau konsep ketuhanan), seberapa tahunya anda tentang gagasan ketuhanan?

    Nah, jika anda ingin tahu tentang Tuhan maka inilah yang bisa anda lakukan.
    1. Buatlah anda berkepentingan dengan Tuhan. Pada saat anda merasa berkecukupan sangat jarang anda akan merasa berkepentingan dengan Tuhan. Cara paling mudah untuk melakukannya adalah dengan mendapat masalah. Jika perlu dengan membuat masalah bagi diri sendiri. Jika anda hidup berkecukupan, harta berlimpah, makan kenyang, tidur dengan nyenyak, pasangan hidup mencintai, karir berprestasi, maka berbuatlah kebalikannya.  Saat anda ditimpa bencana, karir merosot, usaha bangkrut, prestasi rendah, nyaris drop out, hampir dipecat, kelaparan, pasangan hidup minta putus, maka saat itu biasanya anda perlu tempat bergantung, anda akan merasa berkepentingan dengan Tuhan untuk menolong anda. Anda sedang butuh pertolongan bagaimana pun caranya. Anda butuh keajaiban, mukjizat! Entah hasilnya apakah nantinya anda kemudian semakin dekat dengan-Nya, atau malah anda menyalahkan Tuhan, anda menjauh dari-Nya, bahkan menolak keberadaan-Nya, dan akhirnya yakin konsep Tuhan itu omong kosong belaka.
    2. Jika usulan nomor 1 terlalu konyol, maka lakukan yang nomor 2. Jika anda terlalu sibuk dengan urusan anda, maka rehatlah. Keluar dari rutinitas lalu pergi menyendiri dan mengamati dunia sekeliling anda. Lambatkan ritme anda. Kosongkan pikiran anda dari hiruk pikuk urusan tetek bengek. Pandanglah langit, awan, gunung, laut. Rasakan bahwa anda bernafas. Sadarilah bahwa anda perlu bernafas untuk hidup. Pada saat itu sangat mungkin anda akan memikirkan sesuatu yang tidak biasa. Bisa jadi kalau anda seorang seniman anda akan mendapat ilham untuk karya seni anda. Atau lebih jauh lagi mungkin anda akan bertanya-tanya, dan mencoba mengetahui arti hidup, dunia dan penciptaan, serta Tuhan.
    3. Kalau usulan pertama dan kedua tidak tepat untuk anda, cobalah yang ketiga. Kalau anda tidak suka mendapat masalah, ataupun berpikir terasa terlalu rumit, maka carilah pengetahuan kepada orang-orang yang anda percayai memiliki jawaban untuk pertanyaan anda. Atau bacalah buku-buku mereka. Sangat dianjurkan anda membaca kitab suci. Sangat mungkin terjadi anda akan memperoleh jawaban atau malah sebaliknya, menjadi semakin ragu.
    4. Apapun yang anda yakini nantinya, andalah yang berkepentingan. Keputusan di tangan anda, maka anda yang akan menerima akibatnya. Percaya atau tidak percaya pada Tuhan, keyakinan apa yang kemudian anda anut, seberapa kuat anda berpegang pada keyakinan anda, semua anda yang putuskan. Bersiaplah dengan konsekuensinya.
    5. Terakhir dan paling penting. Apapun hasilnya dari usaha pencarian anda nanti, apakah nantinya anda lebih mengenal Tuhan atau malah semakin tidak memahami-Nya, anda jauh lebih baik dari orang-orang yang tidak peduli apakah Tuhan itu ada atau tidak. Lebih baik daripada orang-orang yang hanya bertindak seperti robot, ikut-ikutan, cari aman, hanya ikut trend, mematuhi tradisi nenek moyang, taat aturan penguasa, atau cari untung dari keyakinannya.
    Nah, anda ingin tahu tentang Tuhan?


    Referensi :
    http://en.wikipedia.org/wiki/Encyclop%C3%A6dia_britannica
    http://en.wikipedia.org/wiki/Neil_Armstrong
    http://history.nasa.gov/ap11ann/FirstLunarLanding/toc.html
    http://science1.nasa.gov/science-news/science-at-nasa/2001/ast23feb_2/
    http://en.wikipedia.org/wiki/God
    http://godisimaginary.com/
    Kembali ke halaman utama

    READ MORE - Mengenal Tuhan - Bag.6

    Senin, 20 Mei 2013

    Mengenal Tuhan - Bag.5

    Ada yang mencari Tuhan, ... dan yang lain menolak Tuhan.

    Suatu ketika sebuah cerita sampai kepada Anda, entah lewat percakapan, mendengar kisah nasihat, atau melalui bacaan yang Anda baca. Kisahnya kurang lebih begini :
    (1) Ada "sesuatu" di alam ini yang lebih kuat daripada seluruh kekuatan manusia. Lebih berkuasa dari raja yang paling hebat, kekuasaannya meliputi langit dan bumi dan semua isinya. Lebih cerdas dari semua pengetahuan manusia digabungkan. "Sesuatu" ini adalah pencipta alam semesta. Bumi langit dan seluruh isinya dan semua yang ada di antara keduanya adalah ciptaan-Nya. Semua hal tentang kehidupan di diatur oleh-Nya, bahkan yang begitu kecil dan sepele semua dalam pengetahuannya. Semua urusan manusia, termasuk semua urusan anda, ada di tangan-Nya. "Sesuatu yang begitu berkuasa" ini dinamakan "Tuhan". Namun sayang, kita manusia biasa tidak bisa melihat Tuhan.
    Lalu :
    (2) Tuhan mengirimkan makhluk-Nya yang sepenuhnya taat, malaikat, yang memandu manusia-manusia terpilih untuk mengenal Tuhan, untuk menyampaikan kalimat-kalimat Tuhan. Mengajarkan manusia benar dan salah, perintah dan larangan. Menuntun manusia mengikuti jalan yang benar, jalan keselamatan, jalan menuju kasih sayang Tuhan Yang Maha Pengasih. Namun sayang seribu sayang, manusia-manusia pilihan ini terkadang tampak begitu biasa di mata manusia : tak berharta, tak berkuasa, hanya dipandang sebelah mata. Apa yang dibawanya disebut dusta dan dirinya disebut pendusta, keajaiban dari Tuhan disebut sihir dan dirinya dituduh penyihir. Dan sungguh sayang, malaikat begitu tersembunyi dari indera manusia biasa.
    Lanjut cerita itu :
    (3) Manusia telah mendapat pengajaran, panduan untuk hidup dengan benar. Manusia telah dapat peringatan. Manusia harus taat pada perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya. Manusia taat mendapat pahala, ingkar mendapat dosa. Berbuat baik dapat imbalan, berbuat jahat dihukum siksa. Namun sayang beribu sayang, balasan kadang tidak terbukti di masa hidup. Orang ingkar yang bergembira, orang taat penuh kemalangan. Orang jahat bergelimang harta, orang baik dirundung derita. Musnahnya bangsa-bangsa oleh bencana hanyalah dongeng purba.
    Kemudian :
    (4) Tapi ingatlah Tuhan itu Maha Adil, penguasa manusia hidup atau pun mati. Perbuatan semasa hidup akan terbalas di alam baka. Alam dimana waktu yang tak berujung. Pada manusia taat yang wafat, Tuhan menyediakan untuknya, tempat semua kenikmatan bernamakan Surga. Teruntuk manusia ingkar jahat yang terkutuk, semua bentuk siksaan tersedia di dalam Neraka. Namun pengetahuan surga dan neraka baru sebatas ucapan orang-orang alim, dan tertulis dalam kitab suci, tapi luput dari pandangan mata manusia.
    Menjelang akhir cerita :
    (5) Tuhan itu satu. Raja semua umat manusia dari permulaan hingga akhir zaman. Maha Kuasa. Namun lain lubuk lain ikannya. Lain zaman lain utusan. Lain suku lain perintah. Lain kaum lain larangan. Lain agama lain tuntunan.  Manusia bergolong-golongan, masing-masing mengaku membawa tuntunan Tuhan. Manusia saling menyalahkan, saling berperang, saling membunuh. Dengan membawa nama Tuhan.
    Di akhir cerita :
    (6) Tuhan itu satu. Pencipta dan pemelihara alam semesta. Maha Pengasih. Namun begitu banyak nama Tuhan : Lord, Jehovah, Allah, Elohim, Brahman, dan lainnya sebanyak ajaran yang mengenalkannya. Manusia bingung melihat keburukan dalam nama Tuhan. Digunakan dalam hal buruk dan keji : oleh manusia yang mengaku mendapat kuasa dari Tuhan, oleh manusia yang ingin berkuasa, oleh manusia yang mendapat bisikan untuk berbuat kejahatan. Manusia melihat kejahatan atas nama Tuhan. Menderita kesengsaraan oleh nama Tuhan.
    Epilog.
    (7A) Manusia ingkar mati. Manusia bingung mati. Manusia taat mati. Tubuh membusuk menjadi debu, teronggok menjadi bangkai, terkapar seperti batang kayu. Selesai segala urusan. (7B) Lalu ia tersadar di suatu tempat. Tempat asing tapi akrab, seakrab cerita dongeng yang didengarnya. Tempat yang pernah dijanjikan. Kebahagiaan bagi si taat, waswas untuk si bingung, gemetar bagi yang ingkar. Surga dan neraka ditampakkan. Saat pembalasan seperti yang dijanjikan para utusan telah tiba.
    Pernyataan tentang kepercayaan pada Tuhan terangkum seperti ini :
    "Tuhan itu ada, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, menciptakan manusia dan mengatur semua urusan di alam semesta. Dia menciptakan manusia dan memandunya untuk menjalani hidup sesuai dengan kehendak-Nya, memberi perintah dan larangan melalui utusan-Nya, para manusia pilihan, para Nabi. Manusia pasti akan mendapat ganjaran atas perbuatannya, surga bagi yang taat atau neraka bagi yang ingkar."
    Tapi dari tiap pernyataan itu timbul pertanyaan-pertanyaan bagi akal manusia, menimbulkan keragu-raguan yang mungkin berujung pada pengingkaran pada tuntunan agama dan akhirnya pada pengingkaran terhadap keberadaan Tuhan :
    "Jika Tuhan itu ada, kenapa tidak menampakkan diri? Kenapa Tuhan tidak memilih manusia utusannya yang paling hebat, paling berkuasa, paling pandai, sehingga manusia yang lain dengan mudah mau percaya? Jika Tuhan Maha adil kenapa banyak ketidakadilan di dunia ini? Jika Tuhan Maha Pengasih kenapa banyak umat manusia menderita? Jika Tuhan Maha Kuasa kenapa tidak ditimpakan saja bencana bagi manusia ingkar, sehingga manusia yang lain akan langsung ketakutan dan taat? Kenapa tidak langsung ditampakkan saja surga dan neraka? Jika Tuhan itu satu dan berkuasa hingga melampaui akhir zaman kenapa banyak sekali agama dan keyakinan yang berbeda-beda, dan semua mengaku mendapat perintah Tuhan?"
    Akhirnya, mana pendapat yang terbukti benar pasti akan terjawab. Jawaban yang benar adalah ketika mati, karena semua manusia pasti mati, apa pun keyakinan mereka. Sangat disayangkan belum ada yang bangkit dari kubur dan membawa bukti apa yang terjadi setelah mati. Mana yang benar? 7A atau 7B?

    Apa kesimpulan dari semua hal di atas? Apa yang kita dapat dari semua uraian tadi? Perbedaan keyakinan melahirkan golongan-golongan manusia. 85 dari 100 orang di dunia mengaku menganut agama atau kepercayaan : 33 diantaranya memeluk Kristen, 21 Islam, 13 Hindu, 5 Buddha, dan 12 menganut yang lainnya. Sisanya yang 15 dari 100 orang memilih tidak menganut kepercayaan apa pun. Yang manakah anda di antara 100 orang tadi? Silahkan anda memilih satu dari empat pilihan berikut :
    A. Percaya, ragu-ragu atau tidak percaya sama saja. Semua tidak ada artinya. Memperdebatkannya hanya membuang waktu dan tenaga. Tujuan kehidupan adalah untuk menjalani hidup. Kita ada dan mempunyai kesadaran karena proses alamiah yang kebetulan terjadi. Kita kebetulan ada, hidup, bermukim di sebuah planet bernama bumi, yang seukuran debu di jagat raya. Perbuat apa pun selama kamu hidup. Semasa kamu masih "ada" buatlah dirimu terasa ada, 'exist', karena yang penting adalah yang sekarang. Setelah mati selesai semua urusan.
    B. Bagaimana jika Tuhan itu ada? Bagaimana jika setelah mati urusan belum selesai? Bagaimana jika ada kehidupan abadi di surga yang penuh kenikmatan bagi manusia yang taat? Bagaimana jika ada siksa yang tak putus putus di dalam neraka bagi manusia penolak Tuhan? Bukankah lebih menguntungkan jika percaya pada Tuhan? Bukankah lebih baik jika taat dan masuk surga, daripada ingkar dan mendekam di neraka? Lebih masuk akal untuk percaya adanya Tuhan. Jika ternyata kemudian Tuhan tidak ada, apa kerugianku setelah mati?
    C. Aku percaya adanya Tuhan, percaya pada keadilan-Nya, percaya perbuatan di dunia akan dibalas. Kehidupan itu diciptakan karena suatu tujuan. Aku percaya Tuhan memberikan petunjuk agar manusia berada di jalan yang benar. Tapi jalan yang mana? Kebenaran yang mana? Banyak jalan yang bercabang-cabang, semuanya menawarkan jalan kebenaran, jalan menuju Tuhan. Apakah semua jalan itu benar? Apakah semua bermuara kepada Tuhan? Ataukah ada jalan yang menyesatkan? Bagaimana jika hanya ada satu jalan yang benar?
    D. Aku percaya adanya Tuhan, percaya pada keadilan-Nya, percaya perbuatan di dunia akan dibalas, percaya pada utusan-Nya dan apa yang dia bawa, yang membimbing pada kebenaran. Aku laksanakan perintahnya dan aku jauhi larangannya. Ia pasti membimbing pada jalan yang benar, jalan yang pada ujungnya ada kasih sayang Tuhan.
    Di manakah keyakinan Anda?
    Yang manakah yang Anda yakini?


    Referensi :http://en.wikipedia.org/wiki/Religious_demographics#Religious_demographics
    http://en.wikipedia.org/wiki/God
    http://godisimaginary.com/

    Kembali ke halaman utama
    READ MORE - Mengenal Tuhan - Bag.5

    Mengenal Tuhan Bag.4

    Jika ada yang kebetulan di dunia ini, lalu di mana Tuhan?   

    Alkisah sebuah perjalanan seseorang. Sebut saja namanya "Aku".
    Aku punya pilihan. Pergi ke Jakarta atau diam di rumah? Aku pergi ke Jakarta. Pakai mobil atau travel? Aku pakai travel. Turun di Rawamangun atau Casablanca? Turun di Rawamangun. Pakai ojek atau bajaj? Naik bajaj. Bayar atau tidak? Tidak bayar. Nantang atau kabur? Kabur! Lari ke kanan atau ke kiri? Kiri. Sembunyi di gang atau lari ke jembatan? Ke jembatan. Lompat atau digebukin? Lompat!? Dan...
    Terkisah juga perjalanan si "Abang". 
    Abang punye pilihan. Narik bajaj atau diem di rumah? Narik lah biar dapur ngebul! Mangkal di Rawamangun ato Casablanca? Rawamangun aje. Ada penumpang, ambil kagak? Ambil. Eh, bukan-nye bayar, malah kabur! Kejar atau biarin? Kejar! Teriak maling jangan? Teriak aje! Hampir ketangkep nih di jembatan, eh dia lompat! Ikut lompat atau biarin? Biarin aje, biar mampus loh!  
    Apakah pertemuan Aku dan Abang adalah kebetulan? Aku melalui beberapa kejadian, sesuai dengan pilihannya sebelum akhirnya Aku memutuskan pergi ke Rawamangun. Abang juga demikian, dan akhirnya mereka bertemu dalam sebuah bajaj. Karena kita tahu jalan ceritanya, pertemuan Aku dan Abang itu kita ketahui sebagai sebuah sebab-akibat. Tiap kejadian ada sebabnya, yang akibatnya ditanggung oleh pelakunya.
    Setiap manusia bebas dihadapkan pada pilihan yang tidak berhingga, seperti kisah fiktif Aku dan Abang di atas. Silahkan pilih apa yang anda mau. Makan? Minum? Berdiri? Duduk? Makan sambil berdiri? Teriak? Menyanyi? Lompat? Menyanyi sambil lompat-lompat? Ngupil? Tidur? Garuk-garuk? Pergi? Marah? Nelpon? Chatting? Nelpon teriak-teriak sambil ngupil dan lompat-lompat? Manjat tiang SUTET? Ngamuk? Banyak pilihan, tak terhingga jumlahnya, dari yang masuk akal, dipikir matang-matang, hingga yang tidak pakai rasio. Bingung menentukan pilihan? Bahkan saking bingungnya hingga tidak melakukan apa pun adalah sebuah pilihan.
    6.973.738.433 orang manusia di dunia, masing-masing punya banyak pilihan sendiri yang tidak terbatas. Setiap pilihan manusia itu akan memicu timbulnya peristiwa di alam semesta. Ada sebuah teori dari orang pintar mengatakan begini, "Does the flap of a butterfly’s wings in Brazil set off a tornado in Texas?" ("Apakah kepakan sayap seekor kupu-kupu di Brasil menyulut angin ribut di Texas?"). Kepakan sayap kupu-kupu secara teori menyebabkan perubahan-perubahan sangat kecil dalam atmosfir bumi yang akhirnya mengubah jalur angin ribut (tornado) atau menunda, mempercepat bahkan mencegah terjadinya tornado di tempat lain. Inilah yang disebut "Butterfly Effect", atau efek kupu kupu, sebuah istilah dalam "Teori Chaos". Teori yang kusederhanakan seperti ini :  "hal yang rumit sebenarnya hanya hal-hal kecil teratur yang ditumpuk-tumpuk". Tidak ada yang kebetulan, kawan. Tidak ada kekacauan. Semua yang terjadi adalah akibat dari sesuatu.

    Ribuan orang ini pasti punya jalan ceritanya sendiri hingga akhirnya mempertemukan mereka di jalan macet.
    Dalam video games, permainan "bohong-bohongan" yang semakin mirip dengan dunia nyata (baik rupa, dunia, maupun kejadiannya), kita mengerti bahwa semua kejadian dalam video games itu tidak ada yang kebetulan. Dari start sampai finish, dari awal sampai akhir, pasti buatan seseorang. Semua kejadian dirancang oleh games developer-nya. Lantas bagaimana dengan kehidupan yang kita jalani ini?
    Jika tidak ada yang kebetulan, jika semua hal sudah dirancang, jika masa depan sudah ada jalurnya, lantas siapa perancangnya? Siapa yang merancang jalan cerita untuk semua umat manusia, 7 milyar manusia yang masih hidup hingga saat ini, dan entah berapa milyar lainnya yang telah tiada? Dan siapa yang membuat panggung tempat manusia itu tinggal (langit, bumi, binatang, tumbuhan, yang kita tahu dan yang tidak kita ketahui)? Sebuah panggung dinamis yang selalu berubah?

    Yang mulai mengerti,
    Raqim


    Referensi :
    https://www.google.co.id/publicdata
    http://id.wikipedia.org/wiki/Efek_kupu-kupu
    http://www.gamesradar.com/how-to-make-a-videogame-with-no-experience/
    READ MORE - Mengenal Tuhan Bag.4