Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat Turki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat Turki. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Maret 2013

Tak Ternilai dan Tak Bernilai (Kisah Nasreddin Hoja)





Pada suatu hari teman-teman Hoja bertanya, “Anda sangat bijaksana, Tuan Hoja. Menurut anda, benda apa yang paling tidak ternilai di dunia ini?”

“Menurutku, benda yang tidak ternilai adalah nasihat."

Teman-teman Hoja memikirkan jawaban itu, kemudian bertanya lagi, “Kalau begitu, menurut anda benda apa yang paling tidak bernilai?”

“Aku harus mengatakan bahwa nasihat adalah benda yang tidak bernilai di dunia ini, “sahut Hoja.

“Ayolah, Tuan Hoja,“ protes mereka, “Bagaimana mungkin sesuatu yang begitu tak ternilai juga tak bernilai?”

“Nasihat yang didengarkan dan dilaksanakan akan menjadi sesuatu yang tak ternilai. Namun anda tahu betapa tidak bernilainya nasihat yang diabaikan.”
READ MORE - Tak Ternilai dan Tak Bernilai (Kisah Nasreddin Hoja)

Lalu Di Mana Dagingnya? (Kisah Nasrudin Hoja)




Nasrudin Hoja beberapa kali membawa pulang daging ke rumah . Namun tak sekalipun ia mendapat kesempatan memakannya. Isterinya memakan daging itu atau memberikannya kepada teman-temannya.

Tiap kali Hoja bertanya, isterrinya selalu menjawab, "Dagingnya dicuri kucing. Aku kejar dia, tapi tak berhasil menangkapnya."

Pada suatu hari Hoja kembali membawa pulang daging. Tidak tanggung-tangung, beratnya dua kilogram! Sore harinya Hoja bertanya kepada isterinya dan kembali mendengar jawaban bahwa kucing mereka makan semua daging itu.

Hoja menangkap kucing dan mengambil timbangan. Kucing itu ditimbangnya, beratnya dua kilogram. 
"Kalau ini dagingnya, mana kucingnya? Kalau ini kucingnya, lalu di mana dagingnya?"

Gambar diadaptasi dari http://u.cs.biu.ac.il/~schiff/Net/t13.jpg
READ MORE - Lalu Di Mana Dagingnya? (Kisah Nasrudin Hoja)

Minggu, 14 Agustus 2011

Petani yang Serakah



Dahulu kala hiduplah seorang petani di desa. Ia selalu ingin mendapatkan banyak uang. Pada musim semi, ia berseru kepada Tuhan, “Jika hari cerah, aku akan menuai gandum.” Pada hari berikutnya, matahari bersinar dengan cerah, sang petani pun menuai sebagian gandumnya.

Setelah itu ia berseru kepada Tuhan lagi, “Seandainya hari ini hujan, pasti baik untuk gandumku.” Esok harinya turun hujan.

Petani itu berkata, ”Jika hujannya lebih lebat, gandumku pasti lebih cepat tumbuh.” Pada hari berikutnya hujan kembali turun.

Musim panas tiba, ia memanen gandumnya dan menumpuknya menjadi satu. Petani berkata, “Tuhan, seandainya Kau memberiku lebih banyak hujan lagi, panenku pasti jauh lebih besar.”

“ Mengapa Engkau tidak memberiku lebih banyak hujan sehingga aku mendapat lebih banyak gandum?” tambahnya dengan kesal.

Tuhan kemudian menurunkan hujan yang sangat lebat sehingga seluruh gandum sang petani hanyut terbawa air.

READ MORE - Petani yang Serakah