Sabtu, 12 Oktober 2013

Telur Ayam Jago


Pada suatu hari, seorang tuan tanah memanggil pengawalnya dan berkata, “Aku mau makan beberapa butir telur ayam jago. Kuberi kau waktu 3 hari. Jika dalam 3 hari kau tidak membawa telur itu, kau akan kuhukum mati.”

Pengawal itu pulang ke rumahnya. Ia terus berpikir, “Mana ada telur ayam jago? Ayam jantan mana bisa bertelur?”

Setiba di rumah, ia tidak bisa makan, tidak bisa tidur, bahkan tidak berbicara sepatah kata pun. Isterinya, melihat sang suami murung dan gelisah, menjadi kuatir.

“Ada apa?” katanya. “Kau punya masalah?”

“Tuan menyuruhku mencari telur ayam jago. Aku akan dihukum mati bila tidak dapat menemukannya dalam 3 hari.”

“Kau tenang saja,” kata isterinya. “Tiga hari lagi aku akan pergi  menemui  tuanmu.Aku bisa menyelesaikan masalah ini.”

Pada hari ketiga, isteri pengawal itu pergi ke rumah tuan tanah sedangkan suaminya tinggal di rumah.

“Mengapa kau datang ke sini?” tanya tuan tanah. “Mana suamimu?”

“Maaf tuan,” jawab wanita itu, “Suami saya tidak dapat datang ke sini hari ini.”

“Mengapa?”

“Ia baru saja melahirkan.”

“Apa?” teriak tuan tanah. “Siapa yang pernah melihat laki-laki melahirkan?”

“Tuan,” jawab wanita itu dengan berani, “Siapa yang pernah melihat ayam jago bertelur?”

Tuan tanah tidak dapat mengatakan apa-apa.

READ MORE - Telur Ayam Jago

Kaki Anjing

Dahulu kala, hidup seorang anak laki-laki yang luar bisa cerdas. Namanya Gui Guzi. Pada usia 3 tahun ia belajar ilmu pengobatan dan ia sudah bisa mengobati orang sakit pada usia 5 tahun.
Tak lama, orang-orang berdatangan dari mana-mana untuk minta diobati.

Tidak seperti anak-anak seusianyya, Gui Guzi  tidak pernah bermain. Ia menjadi tabib yang menolong banyak orang sakit. Ia mampu memeriksa penyakit, membuat resep obat bahkan melakukan operasi. 

Seorang pejabat kerajaan  sakit. Kaki kanannya penuh luka yang membusuk. Tidak ada yang dapat mengobatinya. Sudah banyak dokter dipanggil untuk mengobatinya, tapi tidak ada yang berhasil.

Kemudian pejabat itu mendengar tentang Gui Guzi. Ia menyuruhkepala pengawalnya untuk menjemput Gui Guzi.

Pengawal yang sombong dan kasar itu mencari Gui Guzi. Ketika itu anak itu sedang mengobati orang.

“Ayo ikut, nak,” kata pengawal. “Tuanku pejabat membutuhkan bantuanmu.”

“Bapak pejabat?” jawab Guzi. “Aku tidak mengobati orang seperti dia. Aku hanya menolong orang yang tidak mampu berobat ke dokter.”

“Lancang!” bentak pengawal  itu. “Bangun dan ikut aku. Itu perintah!”

“Tidak mau.”

Pengawal  memukul Guzi beberapa kali dan menyeret Guzi ke rumah pejabat.
Tak lama kemudian Gui Guzi berhadapan dengan pejabat.

“Terima kasih atas kedatanganmu,  nak,” kata pejabat. “Aku dengar kau bisa mengobati orang sakit. Aku membutuhkan bantuanmu.”

“Karena aku sudah ada di sini,” kata Guzi, “aku akan membantumu.”

Pejabat menunjukkan kakinya yang sakit. “Tolong obati kakiku ini, aku kan memberimu banyak uang.”

“Aku bisa membantumu,” kata Guzi. “Tapi...”

“Tapi apa?”

“Aku harus memotong kakimu dan menggantinya dengan kaki orang lain, yang sehat.”

“Memotong kakiku? Bagaimana aku berjalan dengan satu kaki. Kau lupa aku ini pejabat? Kau pasti bercanda.”

Pejabat melihat bahwa anak itu serius. “Baiklah,” katanya. Ia memanggil pegawai yang menjemput Guzi. “Pergilah ke penjara dan bawa kemari seorang tahanan yang kaki kanannya sehat.”

“Tidak, tuan,” kata Guzi. “aku perlu memeriksa kaki yang akan menggantikan kakimu. Kalau tidak teliti, kaki itu mungkin lebih panjang atau lebih pendek dari kaki kirimu. Atau mungkin kakinya kasar, tidak seperti kakimu.”

“Aku perlu memilih kaki untukmu.”

Pejabat mempersilakan Guzi memeriksa kaki orang-orang di rumahnya. Akhirnya Guzi mengatakan bahwa ia sudah menemukan kaki yang cocok.

“Kaki siapa?” tanya pejabat. Guzi menunjuk pegawai yang kasar itu. “Kakinya yang paling cocok untukmu, tuan.”

Pengawal itu menjadi pucat ketakutan. “Jangan potong kakiku, tuan.” Tapi pejabat tidak menunjukkan belas kasihan.

“Kau mau menolak permintaanku? Aku pejabat kerajaan.” Ia menoleh kepada Gui Guzi, “Potong kakinya untukku.”
Guzi memotong kaki kanan pejabat yang sakit. Kemudian dengan bantuan beberapa orang yang kuat, ia memotong kaki  kanan kepala .pengawal. Guzi kemudian menyambungkan kaki pengawal ke tubuh pejabat. Tak lama kemudian pejabat sudah dapat berjalan-jalan dengan kaki barunya.

“Hebat!” kata pejabat, “Seperti kaki baru.”

Sementara itu, kepala pengawal hanya bisa merintih kesakitan dan dan merenungi nasibnya.
Gui Guzi merasa kasihan kepada pengawal. Ia memotong kaki belakang seekor anjing dan menyambungkannya pada tubuh kepala pengawal. Sekarang walaupun satu kakinya adalah kaki anjing, ia dapat berjalan.

Dari cerita ini, hingga saat ini banyak orang Cina menyebut pejabat yang korupsi, pegawai yang bekerja tidak benar dan orang yang suka menyiksa dan mengancam orang lain dengan sebutan “kaki anjing.”


READ MORE - Kaki Anjing

Singa Besar dan Kelinci Kecil

Dahulu kala hidup seekor singa besar di hutan. Tiap hari ia berburu dan membunuh banyak hewan untuk dimakan. Hewan lain khawatir bahwa lama-lama tidak ada lagi hewan yang selamat. Mereka memutuskan untuk menemui sang singa.

Ketika singa melihat hewan-hewan mendatanginya, ia sangat gembira. Dikiranya tak perlu lagi susah payah berburu. Ia akan membunuh semua hewan itu sekaligus.

Para hewan itu memohon agar diperbolehkan bicara dulu. “Tuan singa,” kata salah satu hewan, “kau raja kami dan kami rakyatmu. Kalau kau membunuh kami semua, kau tidak punya rakyat lagi. Selain itu, bila tidak ada lagi hewan di hutan ini, tuanku harus berburu ke tempat yang jauh”

“Ijinkan kami mengirimkan persembahan kepadamu, tuan,” lanjutnya. “Tiap hari satu dari kami akan datang kepadamu.”

Singa setuju, dengan satu syarat. Bila pada suatu hari hewan-hewan itu tidak mengirimkan santapan untuknya, ia akan membunuh mereka semua.

Sejak saat itu, tiap hari seekor hewan datang ke sarang singa. Singa sangat senang.

Pada suatu hari, tibalah giliran seekor kelinci kecil untuk pergi kepada singa. Kelinci itu berpikir dan berpikir agar tidak menjadi santapan singa. Ia membuat rencana yang akan menyelamatkan dirinya dan  juga hewan-hewan lain di hutan itu.

Kelinci pergi ke sarang singa. Ia sengaja datang terlambat. Singa berjalan mondar mandir di sarangnya. Ia sudah lapar sekali dan santapannya belum datang. Ia tambah marah ketika melihat hanya seekor kelinci kecil yang datang.

“Tuanku jangan marah,” kata kelinci takut-takut. “Sebenarnya aku datang bersama saudara-saudaraku. Kami berenam.”
“Enam?” geram singa. “Ke mana lima kelinci itu? Mengapa hanya kau yang datang ke sini?”

“Ketika kami pergi ke mari,” kata kelinci. “kami diserang seekor singa yang besar dan kuat. Hanya aku yang dilepaskannya.”

“Mengapa kau dilepaskan?” tanya singa

“Singa itu menyuruhku menyampaikan pesan kepadamu, tuan,” kata kelinci. “Ia menantangmu untuk membuktikan siapa raja hutan yang sebenarnya.”

 “Apa?” geram singa. “Di mana singa itu? Tunjukkan kepadaku!”

Kelinci kecil itu membawa singa ke sebuah sumur.

"Singa itu ada di sana, tuanku.”

Singa melongok ke dalam sumur dan melihat bayangannya di air sumur. Ia mengira bayangannya  adalah singa yang menantangnya. Ia menggeram. Suara geramannya terpantul di dinding sumur sehingga terdengar lebih keras dan menyeramkan. Singa segera melompat ke dalam sumur. Kepalanya terbentur keras pada batu besar dan ia tenggelam.


Kelinci segera pergi menemui hewan-hewan lain untuk mengabarkan bahwa singa yang kejam itu sudah mati.

Gambar adalah prangko yang diterbitkan negara India berdasarkan cerita ini
READ MORE - Singa Besar dan Kelinci Kecil

Manusia Kue Jahe



Dahulu kala ada sepasang kakek dan nenek yang tinggal di rumah kecil di tepi hutan. Mereka kesepian karena hanya berdua saja.  Nenek suka menjahit, merajut  dan membuat kue untuk mengisi hari-harinya.

Pada suatu hari, nenek membuat kue jahe. Ia mencampur mentega, telur, tepung, bubuk jahe, bubuk kayu manis dan gula.

Ketika adonan sudah jadi, nenek membentuk kuenya seperti orang. Nenek memberi hiasan dari gula untuk membuat rambut, mulut dan pakaiannya. Bahkan nenek membuatkan mata dan kancing dari kepingan cokelat. Kue jahe itu tampak bagus sekali.


Nenek memasukkan kue ke dalam oven. Ketika kue sudah matang, nenek membuka pintu oven.
Alangkah terkejutnya nenek, kue jahe melompat dan lari keluar dari pintu sambil menyanyi,

“Lari, lari secepat kau bisa!
Kau tak bisa menangkapku!
Aku manusia kue jahe!

Kakek dan nenek mengejar kue jahe, tapi tak dapat menangkapnya.

Kue jahe terus lari dan lari. Ia bertemu dengan seekor sapi.



“Mooo...!”  kata sapi, “Kelihatannya kau lezat sekali!” Sapi pun ikut mengejar kue jahe. Kue jahe lari lebih cepat sambil bernyanyi,

“Aku lari dari nenek
Aku lari dari kakek
Aku bisa lari darimu
Aku bisaaa!”
 

Kue jahe lari terus, dan ia bertemu dengan seekor kuda.
"Iiiiee...!,"kata kue, “Kau kelihatan enak sekali. Aku mau memakanmu,” kata kuda.

"Tapi kamu tidak bisa!" kata kue jahe.


“Nenek tak bisa menangkapku

Kakek tak bisa menangkapku
Sapi tak bisa menangkapku
Kau pikir bisa menangkapku?”

Kue jahe lari sambil menyanyi,

"Lari, lari secepat kau bisa!
Kau tak bisa menangkapku
Aku manusia kue jahe!”

Kuda lari mengejar kue jahe, tapi tak bisa menangkapnya.


Kue jahe lari dan lari, tertawa dan bernyanyi. Ia bertemu dengan seekor ayam.

"Tok, tok, petok," kata ayam, "Kau kelihatannya cocok untuk makan malamku. Aku akan memakanmu, kue jahe.”

Tapi kue jahe hanya tertawa.



“Aku lari dari nenek
Aku lari dari kakek
Aku lari dari sapi
Aku lari dari kuda
Aku juga bisa lari darimu
Tentu aku bisaa...!”


Dan kue jahe lari sambil bernyanyi,


"Lari, lari secepat kau bisa!
Kau tak bisa menangkapku
Aku manusia kue jahe!”

Ayam mengejar kue jahe, tapi tak dapat menangkapnya.

Kue jahe bangga sekali karena dapat berlari cepat. “Tak ada yang dapat menangkapku.” Jadi ia terus berlari dan bertemu seekor rubah.

Kue jahe merasa rubah harus tahu bahwa ia lari lebih cepat dari yang lain.

“Tuan rubah,” kata kue jahe. “Walaupun aku kelihatan lezat, aku tak akan membiarkan kau menangkap dan memakanku.”

“Aku lari lebih cepat dari nenek
Aku lari lebih cepat dari kakek
Aku lari lebih cepat dari sapi
Aku lari lebih cepat dari kuda
Aku lari lebih cepat dari ayam
Kau pun takkan bisa menangkapku”

Tapi rubah tidak kelihatan tertarik. “Mengapa aku harus menangkapmu?” kata rubah. “Aku tidak suka kue jahe. Aku tidak ingin memakanmu.”

“Tapi kau tak bisa lagi lari dari orang-orang yang mengejarmu,” kata rubah. “Lihat sungai itu menghalangimu.”

Kue jahe berpikir, kalau ia menyeberangi sungai, tubuhnya akan basah dan lama-lama hancur. Tapi ia harus segera pergi agar tidak tertangkap oleh nenek, kakek, sapi, kuda dan ayam yang mengejarnya.


“Ayo kubantu kau menyeberang. Naiklah ke ekorku, supaya kakimu tidak basah.”

Kue jahe naik ke ekor rubah. Rubah membawanya menyeberangi sungai. Tak lama kemudian, ekor rubah mulai tenggelam. 

“Naiklah ke punggungku,” kata rubah Kue jahe naik ke punggung rubah.

Tapi sebentar kemudian, punggung rubah pun mulai basah. “Kepalaku lebih tinggi,” kata rubah. Kue jahe melompat ke kepala rubah.

 
Tapi tak lama kemudian, air sudah mengenai kakii kue jahe. “Naiklah ke hidungku. Kau aman di sini.”



Kue jahe melompat ke hidung rubah, tapi... “Hap!” Rubah menggigit kue jahe dan memakannya sampai habis.

“Kue jahe memang lezat sekali,” kata
 rubah dalam hati. “Siapa yang tidak suka kue jahe?”

Cerita yang menarik, bukan?
Yuk sekarang jawab pertanyaan ini:
  1. Siapa yang membuat kue jahe?
  2. Apakah orang yang membuat kue jahe memakan kue itu? Mengapa?
  3. Siapa saja yang mengejar kue jahe?
  4. Siapa yang makan kue jahe?
Gambar diadaptasi dari http://rtagreenfylde.primaryblogger.co.uk/files/2013/03/Gingerbread-man-storymap_1.jpeg
READ MORE - Manusia Kue Jahe

Minggu, 06 Oktober 2013

Peniup Suling dari Hamelin (Grimms)


Hamelin adalah sebuah kota yang makmur, penduduknya merasa puas dan bangga tinggal di sana. Kemudian datanglah tikus-tikus. Di setiap kota selalu ada tikus yang kadang-kadang sangat mengganggu, tetapi biasanya mereka masih bisa terkontrol. Tidak demikian halnya dengan Hamelin, tikus yang datang ke sana berjumlah ribuan. Belum pernah orang menjumpai tikus yang datang sebanyak itu di satu tempat. Mereka bergerombol di seluruh kota, meencuri makanan, menggerip bangunan-bangunan, menyebarkan kuman-kuman penyakit. Para penangkap tikus bekerja siang malam untuk membebaskan kota dari tikus-tikus, tetapi rasanya makin banyak tikus yang mereka bunuh, makin banyak tikus muncul untuk menggantikan yang mati itu.

Penduduk kota  merasa sangat celaka. Makin lama keadaan makin memburuk. Tikus-tikus itu mencuri makanan dari lemari-lemari makan dan gudang-gudang makanan. Kemana pun mereka pergi ditinggalkannya kotoran dan kerusakan. Makanan menjadi langka dan orang-orang pun mulai khawatir akan terjadi bencana kelaparan. Anak-anak dan orang tua menjadi sakit karena makan makanan yang telah dicemari oleh tikus-tikus. 

Dalam keputus-asaan, walikota mengadakan pertemuan untuk mencari jalan melenyapkan wabah tikus itu. Semua orang berkumpul di lapangan. Setiap kali sebuah ide dilontarkan, ada orang lain yang mengatakan bahwa cara itu telah dicoba tanpa hasil.

Ketika itu tampillah seorang asing di depan kerumunan orang banyak itu. Pakaian orang itu sangat aneh dan berwarna-warni, di kepalanya ia memakai topi besar yang ada bulu burung meraknya. Kelihatannya dia lebih cocok menjadi pemain sirkus. Semua penduduk Hamelin memperhatikannya ketika ia mulai berbicara dengan suara yang aneh, seakan-akan sedang menyanyi. 

”Aku dapat menolong kalian mengusir tikus-tikus dari kota ini, tapi jangan salah, biayanya mahal sekali,” katanya.

”Dalam perbendaharaan kotaini ada sepuluh ribu keping emas,” kata walikota. ”Jika engkau dapat mengenyahkan wabah tikus dari kota ini, seluruh emas itu akan menjadi milikmu. Tapi sebelumnya, tuan yang baik, bagaimana caranya engkau akan membuat keajaiban ini?”

Orang asing itu tersenyum penuh rahasia.

“Semua yang kuperlukan ada di sini, terjahit diikat pinggangku,” katanya sambil menunjuk kesebuah suling bambu dipinggangnya. ”Jika kalian ingin aku mengusir tikus-tikus ini, kalian harus percaya padaku.”
Walikota tidak terlalu yakin bahwa orang asing itu dapat berbuat seperti yang dikatakannya, tapi tak ada salahnya jika dicoba, maka diapun setuju. Kemudian peniup suling itu berpaling kepada kerumunan orang banyak.

“Sekarang pulanglah ke rumah kalian, dan tunggulah sampai tugasku selesai,” katanya.

Setiap orang meninggalkan lapangan dan pulang kerumah, sambil bertanya-tanya apa gerangan yang akan dikerjakan oleh orang asing yang berpakaian warna warni itu. Setelah semua orang pergi, orang asing itu mengambil sulingnya dan mulai meniupnya. Irama ajaib yang dimainkannya merembes ke seluruh kota. Dan seperti suatu keajaiban, orang melihat tikus-tikus keluar dari rumah-rumah mereka lalu berkumpul membuat arak-arakan.dari jendela-jendela mereka dapat melihat beribu-ribu ekor tikus terburu-buru berkumpul di lapangan di mana peniup suling itu sedang meniup sulingnya. Ketika tikus pertama sampai didekatnya, si peniup suling mulai menari lalu turun ke jalan ke luar kota diikuti oleh tikus-tikus itu. Arak-arakan tikus itu makin lama makin besar, jumlahnya benar-benar menakjubkan. Kelihatannya setiap tikus mengikuti irama musik yang dimainkan oleh peniup suling. 


Semua orang memperhatikan dengan tercengang sampai si peniup suling hilang dari pandangan. Beberapa orang yang tak dapat menahan rasa ingin tahunya keluar dari rumah mereka dan mengikuti arak-arakan yang menakjubkan itu. Dengan tidak menoleh-noleh si peniup suling terus menari sampai di sebuah jembatan yang membentang di atas sungai di pinggir kota. Setibanya di jembatan ia berhenti menari tapi tetap meniup sulingnya. Orang-orang yang mengikutinya melihat tikus-tikus itu lari ke tepi sungai yang deras airnya. Satu persatu tikus-tikus itu terjun ke dalam sungai lalu menghilang dari pandangan dihanyutkan oleh arus sungai itu. Satu demi satu beribu-ribu ekor tikus itu loncat ke sungai dan menghilang, tak seekor pun yang tertinggal.
Penduduk kota hampir tidak percaya akan apa yang terjadi. Ketika mereka pulang ke rumah atau pergi ke toko, kemana pun mereka mencari, tikus-tikus itu tidak ditemukan lagi. Mereka pun melakukan pertemuan lagi di tanah lapang. Si peniup suling harus diberi hadiah.

Tetapi penduduk kota tidak tahu bahwa walikota telah berdusta ketika ia menjanjikan sepuluh ribu keping emas kepada peniup suling. Walikota itu seorang yang bodoh dan serakah, ia telah memakai uang kota Hamelin untuk keperluannya sendiri. Perbendaharaan kota sudah hampir kosong. Ketika peniup suling datang untuk mengambil upahnya, walikota hanya memberinya beberapa keping emas untuk pengganti jerih payahnya. Si peniup suling sangat marah. Meskipun walikota yang berbuat curang, ia menyalahkan seluruh penduduk kota. 

”Kalian semua telah menipu dan menghinaku!”teriaknya dengan marah.”Tapi kukatakan kepadamu; tak seorang pun dapat berbuat begitu kepada Peniup Suling tanpa menerima balasannya! Kalian semua akan dihukum!”

Begitu selesai berbicara, Peniup Suling berpaling dan mengambil sulingnya lagi. Diletakkannya suling itu di bibirnya lalu ditiupnya kembali tetapi kali ini iramanya berbeda. Musik mengalun ke seluruh penjuru kota dan membuat kaki-kaki setiap anakdi Hamelin mulaimenari. Dengan sangat ketakutan orang-orang dewasa memperhatikan anak-anak itu membentuk arak-arakan, seperti yang dilakukan oleh tikus-tikus, lalu mulai mengikuti si Peniup Suling.

Para ayah dan ibu memanggil-manggil anak mereka dan menyuruh berhenti, tapi anak-anak itu tidak mendengar. Mereka berdansa makin cepatdan makin cepat mengikuti Peniup Suling. Penduduk kota tak dapat berbuat sesuatu apa pun untuk menghentikan mereka. Peniup Suling terus menari dan anak-anak mengikuti dibelakangnya dengan gembira. Musik itu mempunyai kekuatan ajaib, yang hanya dapat didengar oleh mereka, yang membuat mereka ingin pergi.

Seperti sebelumnya, Peniup Suling memimpin arak-arakan itu ke jalan yang menuju ke luar kota. Dengan sangat  ketakutan penduduk kota melihat dia sampai ke jembatan di atas sungai, tapi anak-anak tidak terjun ke sungai seperti tikus-tikus. Mereka mengikuti Peniup Suling menyeberangi jembatan lalu pergi jauh.
Pada bagian akhir arak-arakan, tertinggal dari yang lainnya karena tak dpat berjalan cepat, adalah seorang anak laki-laki yang kakinya lemah. Baginya, berjalan sangat sulit dan melelahkan. Ia juga senang mengikuti irama musik yang ajaib itu dan meskipun sukar untuknya berjalan secepat yang lain, ia berusaha keras untuk mengikuti. Sesuatu mengatakan kepadanya bahwa anak-anak itu akan dibawa ke tempat yang lebih menyenangkan dari yang dapat mereka bayangkan.

Penduduk kota pun berhenti. Mereka tahu bahwa Peniup Suling telah mengambil anak-anak mereka untuk selamanya dan tak mungkin untuk membawa mereka kembali. Dengan sangat sedih mereka pun pulang ke rumah.

Sejak saat itu kota Hamelin terbenam dalam duka cita yang dalam. Sebuah kota tanpa anak-anak adalah tempat yang sangat menyedihkan. Para orang tua yang kehilangan anaknya sangat sedih demikian juga orang-orang lainnya yang mengenal dan menyayangi anak-anak itu. Walikota, yang menyadari bahwa semua itu disebabkan olah kejahatannya, merasa sangat malu lalu pergi meninggalkan kota.
Tidak ada penduduk kota yang tahu kemana anak-anak itu pergi, apakah mereka masih hidup atau sudah mati.


Beberapa minggu pun berlalu. Kemudian pada suatu hari anak laki-laki yang kakinya lemah itu berjalan terpincang-pincang kembali ke Hamelin dalam keadaan letih dan putus asa, dan ia menceritakan sebuah kisah yang sangat aneh. Dengan alunan musiknya, si PeniupSuling telah membawa anak-anak itu bermil-mil jauhnya melintasi bukit-bukit. Anak laki-laki itu berusaha mengikuti terus, tapi lama kelamaan ia jatuh dan tertinggal. Peniup Suling itu membawa anak-anak itu ke lereng sebuah gunung yang curam. Lereng gunung itu terbuka dan dari jauh terlihat sebuah tempat yang sangat indah di dalamnya. Satu persatu anak-anak itu berjalan melintasi gunung, tapi ketika anak laki-laki itu sampai lereng itu telah tertutup. Ia tertinggal sendirian di gunung, dan merasa sedih karena tidak dapat ikut dengan teman-temannya. 

Kota Hamelin telah membayar sangat mahal untuk mengusir tikus-tikus itu. Selama bertahun-tahun kota terasa lengang dan mengerikan tanpasuara anak-anak yang sedang bermain.
READ MORE - Peniup Suling dari Hamelin (Grimms)

Legenda Putri Hijau



Pada jaman dahulu kala, ketika Sultan Mukhayat Syah dari Aceh sedang beristirahat di mahligainya, tiba-tiba ia melihat cahaya hijau dari arah timur. Sultan segera memanggil wazirnya dan menanyakan apakah gerangan cahaya itu. Sang wazir juga ikut terkejut dan tidak dapat menjawab pertanyaan Sultan. Baru keesokan paginya diutuslah seorang kepercayaan Sultan agar menyelidiki cahaya itu. Hasil penyelidikan menyebutkan bahwa cahaya itu berasal dari tubuh Putri Hijau di Deli Tua.

Sultan Mukhayat Syah kemudian jatuh cinta, sekalipun Sultan belum pernah melihat wajah sang putri. la berhasrat ingin meminang putri. Barangkatlah ia menuju ke Deli diiringi oleh pengawal-pengawalnya.

Nah, siapakah Putri Hijau yang menawan hati Sultan Aceh itu? Konon menurut hikayat pada abad ke-15 di daerah Deli ada sebuah kerajaan, Gasip namanya. Kerajaan ini mempunyai perbatasan yang panjangnya dari Teluk Aru hingga sekitar Sungai Rokan. Kerajaan ini selalu mendapat saingan dari Kerajaan Aceh, yang pada waktu itu sedang sangat jaya. Untuk menghindari bencana lebih jauh, kerajaan ini memindahkan ibu negaranya jauh dari tepi pantai Selat Malaka. Kota yang baru itu diberi nama Deli Tua.

Ketika itu yang memerintah Kerajaan Deli ialah Sultan Sulaiman. Ketika beliau wafat, beliau maninggalkan tiga orang anak. Yang sulung bernama Mambang Jazid, yang kedua bernama Putri Hijau, dan yang terakhir bernama Mambang Khayali.

Putri Hijau adalah seorang wanita yang cantik wajahnya. la dinamakan Putri Hijau karena dari tubuhnya selalu memancarkan cahaya hijau, lebih-lebih jika ia sedang bermain di dalam taman pada waktu bulan purnama. Ketiga putra-putri Sultan Sulaiman ini dianggap rakyatnya sebagai penjelmaan dewa-dewa. Mereka dipuja sebagai orang-orang sakti.

Kini kita kembali kepada perjalanan Sultan Mukhayat Syah. Setibanya di Labuhan, Sultan segera mengirimkan utusan peminangan. Mambang Jazid mengajukan hasrat Sultan Aceh kepada Putri Hijau. Akan tetapi, Putri Hijau menolak lamaran Sultan Mukhayat Syah. Tentu saja Sultan Aceh amat marah. la merasa dihina.

Peperangan pun terjadilah. Banyak prajurit Aceh yang menjadi korban. Akhirnya, Perdana Menteri Aceh menemukan suatu tipu muslihat, yang dianggap akan dapat mengalahkan para prajurit Deli Tua. Tipu muslihat itu berupa penembakan uang ringgit ke arah kubu-kubu musuh, yang berupa rumpun bambu berduri yang rapat mengelilingi kota Deli Tua. Melihat uang-uang ringgit, rakyat Deli Tua tanpa pikir panjang lagi segera memotongi dan menebangi rumpun bambu berduri itu. Akibatnya, pertahanan kota Deli Tua menjadi hancur. Mereka sukar menahan serangan bala tentara Sultan Mukhayat Syah.

Untuk menahan serangan selanjutnya, Mambang Khayali menjelmakan dirinya menjadi sebuah meriam yang dapat menembaki musuh. Namun, tatkala pertempuran sedang berlangsung dengan hebatnya, ia merasa amat haus. la minta minum kepada Putri Hijau, tapi permintaannya ditolak. Menurut Putri Hijau, hal itu dapat mencelakakan. Akibatnya merasa lemahlah sendi-sendinya, sementara ia terus memuntahkan meriamnya. Tiba-tiba tubuhnya patah menjadi dua. Kepala meriam terpental sampai ke Aceh, sedangkan bagian belakangnya tetap tinggal di Deli.

Mambang Jazid memperoleh firasat bahwa mereka akan kalah perang. la berpesan kepada Putri Hijau bahwa bila sang putri kelak ditawan oleh Sultan Aceh, sedapat mungkin ia memohon agar dapat dimasukkan ke dalam sebuah keranda kaca. Sebelum tiba di Aceh, tubuhnya tidak boleh disentuh oleh Sultan Aceh. Setibanya di Aceh ia harus memohon kepada Sultan agar memerintahkan rakyatnya membawa persembahan masing-masing sebutir telur ayam dan segenggam bertih (beras putih). Semua persembahan itu harus dionggokkan di tepi pantai. Setelah upacara selesai, onggokan itu harus dibuang ke laut. Pada saat itu Putri Hijau harus keluar dari keranda kacanya lalu membakar kemenyan sambil memanggil nama Mambang Jazid. Setelah meninggalkan pesan terakhir itu, gaiblah Mambang Jazid.

Putri Hijau dapat ditawan dan akan dibawa ke Kerajaan Aceh. Putri Hijau segera mengajukan syarat-syarat seperti yang dipesankan Mambang Jazid. Sultan Mukhayat Syah mengabulkannya. Kini Putri Hijau diboyong ke Aceh.

Di Aceh kapal baginda berlabuh di muka Tanjung Jambu Air. Sultan memerintahkan rakyatnya agar mengadakan upacara persembahan kepada Putri Hijau. Seluruh rakyat memenuhinya.

Sausai upacara, Putri Hijau terlihat keluar dari keranda kacanya. Dalam kepulan asap kemenyan, Putri Hijau menyebutkan nama kakaknya. Tiba-tiba turunlah angin ribut dan hujan lebat disertai halilintar, dan gulungan ombak yang amat dahsyatnya.

Dunia seakan-akan hampir kiamat. Tiba-tiba muncullah seekor naga raksasa dari dalam ombak dan langsung menuju ke kapal Sultan Aceh. Dihantamnya kapal itu dengan ekornya hingga kapal terbelah menjadi dua dan karam dengan segera. Sultan Mukhayat Syah selamat.

Dalam keadaan yang kacau itu, Putri Hijau segera kembali ke keranda kacanya sehingga pada waktu ombak menghantam kapal, ia dapat terapung-apung di atas laut. Sang Naga segera meluncur menghampiri keranda itu lalu mengangkatnya dengan kepalanya dan dibawanya ke Selat Malaka. Gerakan itu amat cepatnya sehingga Sultan Aceh tidak dapat berbuat apa-apa. la hanya dapat termenung, merindukan, dan mengenangkan Putri Hijau yang sudah menjadi miliknya, tetapi terlepas lagi untuk selamanya.
READ MORE - Legenda Putri Hijau

Dewi Sangalanggit (Jawa Timur)


Jaman dahulu kala ada seorang puteri yang cantik jelita bernama Dewi Sanggalangit. Ia puteri salah satu raja yang terkenal di Kediri. Karena wajahnya yang cantik jelita dan sikapnya yang lembut, banyak pangeran dan raja-raja ingin meminangnya unuk dijadikan sebagai istri.

Namun sayangnya ewi Sanggalangit belum memiliki keinginan untuk berumah tangga sehinga membuat pusing kedua orang tuanya. Padahal kedua orang tuanya sudah sangat mendambakan seorang cucu ditengah-tengah keluarga mereka.

"Anakku, sampai kapan kau menolak setiap pangeran yang datang melamarmu?" Tanya raja pada suatu hari.
"Ayahnda, sebenarnya hamba belum berhasrat untuk bersuami. Naun jika ayahnda sangat mengharapkan hamba untuk menikah, baiklah. Tapi hamba meminta syarat, suami hamba harus memenuhi keinginan hamba".
"Lalu apa keinginanmu?"
"Hamba belum tahu.."
"Lho, kok aneh??" sahut baginda.
"Hamba akan bersemedi terlebih dahulu untuk meminta petunjuk Dewa. Setelah itu hamba akan menghadap ayahanda untuk menyampaikan einginan hamba."

Demikianlah, lalu Dewi sangalangit besemedi selama tiga hari tiga malam memohon petunjuk sang Dewa. Lalu pada hari keempat ia menghadap ayahandanya.

"Ayahanda, calon suami hamba harus mampu menghadirkan sebuah tontonan yang menarik. Tontonan atau pertunjukan yang belum pernah ada sebelumnya. Semacam tarian yang diiringi tabuhan dan gamelan, dilengkapi dengan barisan kuda kembar sebanyak seratus empat puluh ekor yang nantinya akan dijadikan sebagai pengiring pengantin. Terakhir harus dapat menghadirkan binatang berkepala dua.

"Wah berat sekali syaratmu itu..!!" Sakut baginda.

Meski berat, namun syarat itu tetap diumumkan kepada rakyat-rakyatnya, tak terkecuali raja-raja dan pangeran dari negeri tetangga dan seberang. Para pelamar yang tadinya menggebu-gebu unuk memperistri Dewi Sanggalangit banyak yang ciut nyalinya dan akhirnya mereka mengundurkan diri karena merasa syarat yang harus dipenuhi sangat mustahil dan berat. Akhirnya inggal dua orang saja yang tersisa dan menyatakan siap dan sanggup untuk memenuhi permintaan Dewi Sanggalangit. Mereka adalah Raja Singabarong dari Kerajaan Lodaya dan Raja Kelana Swandana dari Kerajaan Bandarangin.

Baginda Raja sangat terkejut mendengar kesanggupan kedua raja itu. Sebab raja Singabarong adalah manusia yang aneh, ia seorang manusia berkepala harimau. Wataknya buas dan kejam. Sedangkan Kelanaswandana adalah seorang raja yang berwajah tampan dan gagah, namun punya kebiasaan aneh. Suka pada anak laki-laki. Anak laki-laki dianggapnya sebagai gadis-gadis cantik.

Namun semua sudah terlanjur, Dewi Sanggalangit tidak bisa menggagalkan persyaratan yang telah diumumkannya.

Raja Singabarong bertubuh besar dan tinggi. Dari bagian leher keatas berwujud harimau yang meyeramkan. Berbulu lebat dan dipenuhi dengan kutu-kutu. Itulah sebabnya ia memeluhara seekor burung merak yang rajin mematuki kutu-kutunya.

Raja Singabarong telah memerintahkan kepada para abdinya untuk mencarikan kuda-kuda kembar. Mengerahkan para seniman untuk menciptakan sebuah tontonan yang menarik dan mendapatkan seekor binatang berkepala dua.. Namun pekerjaan tersebut ternyata tidak mudah. Kuda kembar sudah bisa dikumpulkan, namun tontonan dengan kreasi yang baru belum juga tercipta, demikian pula dengan binatang berkepala dua belum juga bisa didapatkan.

Maka pada suatu hari ia memanggil patihnya yang bernama Iderkala. Ia diutus oleh Raja Singabarong untuk menyelidiki kesiapan dari pesaingnya, Kelanaswandana. Patih Iderkala dan beberapa prajurit terlatihnya segera berangkat menuju kerajaan Bandarangin dengan menyamar sebagai seorang pedagang. Setelah mereka melakukan penyelidika dengan seksama selama beberapa hari, mereka kembali ke Lodaya.

"Ampun Baginda. Kiranya si Kelanaswanda hampir berhasil mewujudkan permintaan Dewi Sanggalangit. Hamba melihat lebih dari seratus kuda dikumpulkan. Mereka juga yelah menyiapka tontonan yang  menarik dan sangat menakjubkan." Patik Iderkala melaporkan.

"Wah Celaka..!! Kalau begitu, sebentar lagi dia dapat merebut Dewi Sanggalangit sebagai istrinya." Kata Raja Singabarong."Lalu bagaimana dengan binatang berkepala duanya?? Apa mereka juga sudah siapkan??"

"Hanya binatang itulah yang belum mereka siapkan Baginda, tapi nampaknya sebentar lagi mereka dapat menyiapkannya" Sambung Patih Iderkal.

"Patih Idkala, mulai siapkan prajurit pilihan yang terbaik dengan persenjatan yang lengkap. Setiap saat meeka harus siap diperintah untuk menyerbu ke Bandarangin.

Demikianlah, Raja ingabarong ingin bermaksud untuk merebut hasil usaha keras Raja Kelanaswandana. Setelah mengadakan persiapan yang matang, Raja singabarong memerintahkan beberapa mata-matanya untuk menyelidiki perjalanan yang ditempuh Raja Kelanawandana dari Wengker menuju Kediri. Rencananya Raja Singabarong akan menyerbu mereka diperjalanan dan merebut hasil usaha Raja Kelanaswandana untuk diserahkan sendiri kepada Dewi Sanggalangit.

Namun, Rencana Raja Sibgabarong hancur karena semua mata-mtanya berhasil ditangkap dan dibunuh oleh prajurit kerajaan Bandarangin karena kedok mereka terbongkar.

Sementara itu Raja Singabarong yang menunggu laporan dari pajurit mata-matanya yang di kirim ke kerajaan Bandarangin nampak gelisah. Ia segera memerintahkan kepada patih Iderkala untuk menyusul mereka ke perbatasan. Sementara ia sendiri pergi ke tamansari untuk menemui si burung merak, karena pada saat itu kepalanya terasa gatal sekali.

"Hai burung meak, cepat patukilah kutu-kutu dikepalaku!" Teriak aja Singabarong menahan gatal.

Burung merak yang biasa melakukan tugasnya segera hinggap di bahu Raja Singabarong dan mulai mematuki kutu-kutu yang bertebaran di kepala Raja Singabarong. Karena Patukan-patukan yang nikmat dari Burung Merak itu, Raja Singabarong sampai tertidur pulas. Ia sama sekali tak mengetahui keadaan diluar istana. Karena tak ada prajurit yang berani melapor kepadanya.

Diluar istana pasukan Bandarangin telah menyerbu dan mengalahkan prajurit Lodaya. Bahkan patih Iderkala yang dikirim ke perbatasan elah tewas terlebih dahulu karena berpapasan dengan pasukan Bandarangin. Ketika pertempuran itu sudah merambat ke dalam istana dekat tamansari, barulah Raja Singabarong terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ribut-ribut. Sementara si burung merak masih saja terus mematuki kutu-kutu di kepala Raja Singabarong. Jika dilihat secara sepintas dari depan Raja Singabarong terlihat seperti binatang berkepala dua yaitu berkepala harimau dan merak.

"Kai mengapa diluar sana ribut-ribut...!!!" Teriak Raja Singabarong marah.

Namun tak ada jawaban, kecuali berkelebatnya bayangan seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Raja Kelanaswandana.

Raja Singabarong terkejut seali. "Hai Raja Kelanaswandana mau apa kau datang kemari..??"

"Jangan pura-pura bodoh!!" Sahut Raja Kelanawandana. "Bukankah kau hendak merampas usahaku dalam memenuhi persyaratan Dewi Sanggalangit..!!"

"Hemm, jadi kau sudah tahu??" Sahut Raja Singabarong dengan penuh rasa malu.

"Ya, maka aku akan menghukummua!!"

Lalu Raja kelanaswandana mengeluarkan kesaktiannya. Seketika kepala Raja Singabarong menjadi berubah. Burung merak yang tadinya hingga di bahunya lalu menempel dan menyatu dengan kepala Raja Singabarong. Raja Singabarong marah bukan kepalang, lalu ia mencabut kerisnya dan meloncat untuk menyerang Raja Kelanaswandana. Namun Raja Kelanaswandana segera mengayunkan cambuk saktinya yang bernama Samandiman ketubuh Raja Singabarong. Cambuk itu dapat megeluarkan hawa panas dan suaranya seperti halilintar.

Begitu terkena sabetan Cmbuk itu, Raja Singabarong terpental dan mengglepar-glepar diatas tanah. Seketika ubuhnya terasa lemah dan berubah menjadi  binatang aneh, berkepala dua yaitu harimau dan merak. Ia tidak dapat berbicara dan akalnya pun hilang. Raja Kelanaswandana segera memerintahka prajuritnya untuk menangkap Singabarong dan membawanya ke negeri Bandarangin.

Beberapa hari kemudian Raja Kelanaswandana mengirim utusan yang memberitahukan Raja Kediri bahwa ia segera datang membawa persyaratan Dewi Sanggalangit. Raja Kediri langsung memanggil Dewi Sanggalangit.

"Anakku apa kau benar-benar bersedia menjadi istri dari Raja Kelanaswandana??"

"Ayahanda, apakah Raja Kelanaswandana sanggup untuk memenuhi semua persyaratan yang telah hamba sampaikan??"

"Tentu saja, Dia akan datang dengan semua persyaratan yang kau ajukan, masalahnya sekarang apakah kau tidak menyesal juka harus menjadi istri Raja Kelanaswandana??".

"Jika hal itu sudah menjadi jodoh, hamba akan menerimanya sebagai Suami hamba ayahanda, dan hamba akan merubah kebiasaan buruk Raja Kelanaswandana yag suka kepada laki-laki itu."

Demikianlah, pada hari yang sudah ditentukan datanglah rombongan Raja Kelanaswandana dngan kesenian yang diberi nama Reog sebagai pengiring. Raja Kelanaswandana datang dengan iringan seratus empat puluh ekor kuda kembar, dengan suara gamelan, kendang, dan terompet aneh yang menimbulkan perpaduan suara aneh tapi merdu dan mendayu-dayu. Ditambah lagi dengan hadirnya binatang aneh yang berkepala dua, yaitu harimau dan merak.

Pada akhirnya Dewi Sanggalangit lalu menikah dengan Raja Kelanaswandana dan Dewi Sanggalangit diboyong ke kerajaan Bandarangin di Wengker untuk dijadikan permaisurinya. Lalu kesenian ini dinamai sebagai Reog yang sering kita lihat di pertunjukan.
READ MORE - Dewi Sangalanggit (Jawa Timur)