Selasa, 16 Juli 2013

Anjing Pemburu Tua

Seekor anjing berlari terengah-engah di ladang. Ia berlari cepat sekali. Telinganya yang panjang mengepak-ngepak naik turun seperti sayap kupu-kupu. Ia tampak sangat lelah, lidahnya menjulur keluar, tapi ia tidak berhenti berlari. Apa kiranya yang sedang ia kejar?
Ternyata ia mengejar seekor babi hutan. Babi hutan berlari ngebut. Ia berlari lurus seperti tembakan anak panah. Kepalanya tertunduk menyeruduk. Apapun yang menghalanginya ia sundul. Langkah kakinya berderap cepat, tapi ia masih kalah cepat dari si anjing.
Anjing itu sudah tua, tapi ia masih bisa berlari lebih cepat dari babi hutan. Sudah bertahun-tahun ia mengabdi pada majikannya, Pak Pemburu. Dahulu ia berlari lebih cepat, bergerak lebih gesit, menggonggong lebih lantang. Ia tidak pernah gagal menangkap buruan sasaran Pak Pemburu, bahkan yang paling cepat dan kuat pun. Dan kali ini pun tampaknya ia akan menangkap babi hutan ini, walaupun harus dengan susah payah.
Anjing tua melompat, menerjang babi hutan. Babi hutan jatuh terpelanting. Dengan tenaganya yang tersisa anjing segera menerkamnya, menggigit kuping babi hutan. Sekarang atau tidak sama sekali, pikir anjing tua itu. Tapi apa yang terjadi? Si babi hutan tertawa terbahak-bahak.
"Huahahaha! Huahahah! Hentikan! Hentikan! Huahahahah!" si babi hutan tak bisa berhenti tertawa.
"Huahahahah! Huahahah! Geli! Hentikan! Tolong!!!!" seru babi hutan lagi tak henti-hentinya.
Ternyata anjing menggigit babi hutan dengan giginya yang ompong. Ompong? Ya! Seluruh gigi anjing tua sudah tanggal sehingga bukannya menggigit babi hutan, anjing tua malah cuma menjilat-jilat kuping babi hutan.


Babi hutan meronta-ronta geli. Anjing tua yang sudah kehabisan tenaga tidak berdaya dibuatnya. Babi hutan berhasil melepaskan diri, ia lari kencang ke dalam hutan. Tak berapa lama Pak Pemburu datang dan ia melihat anjing tua tidur-tiduran di atas rumput. Pak Pemburu sangat kecewa karena buruannya lepas dan ia memarahi anjing tua itu habis-habisan.
Anjing tua menoleh ke arah tuannya sambil berkata terengah-engah, "Maafkan aku Tuan! Jangan salahkan aku untuk hal ini. Semangatku masih sama seperti aku muda dulu, tapi aku tak bisa mengatasi usia tuaku." Anjing tua itu menatap tuannya dengan pandangan sayu.
"Kalau boleh memilih, aku lebih suka jika tuan menghargai kerja kerasku selama ini daripada mencelaku karena keadaanku sekarang."

Terjemah bebas dari The Old Hound, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : jangan mudah mencela kegagalan, hargai usaha dan kerja kerasnya!
READ MORE - Anjing Pemburu Tua

Senin, 15 Juli 2013

Keledai dan Perampok

Pak Saudagar selalu bepergian. Ia membeli gandum dan ia pun menjual gandum. Ia membeli gandum dari Pak Tani ketika panen tiba, lalu ia menjualnya lagi ke pasar di kota besar.
Panen raya sudah tiba. Sudah waktunya Pak Saudagar bepergian. Pagi-pagi buta ia sudah berkemas. Ia membawa dua keledainya. Masing-masing membawa dua kantung besar. Kantung besar yang masih kosong untuk mengangkut gandum.
Hasil panen Pak Tani kali ini melimpah ruah. Bulir-bulir gandum penuh padat berisi. Pak Tani bersuka cita. Ia menunggu Pak Saudagar datang membeli. Tak perlu menunggu lama, Pak Saudagar tiba dengan dua keledainya. Berkarung-karung gandum segera dimuat. Tinggi bertumpuk di atas punggung dua keledai. Tapi keledai binatang yang kuat, beban berat diangkut dengan mudah. Tanpa kesulitan mereka segera berangkat ke kota besar.
Perdagangan Pak Saudagar sangat sukses. Dengan segera ia menjual setengah gandumnya. Berkarung-karung gandum ditukar dengan berkantung-kantung uang emas. "Cukuplah untuk hari ini", pikir Pak Saudagar. "Mari kita pulang!" ajaknya pada dua keledainya. Pak Saudagar memuat karung-karung gandumnya pada satu keledainya dan memuat kantung-kantung uang emas pada keledainya yang lain. Lalu mereka beranjak pulang.
"He-hah!" keledai yang mengangkut kantung emas meringkik dan tersenyum lebar. Dadanya membusung, langkah kakinya tegap, kepalanya mendongak dengan pongah. Bel di lehernya berdentang-dentang, sengaja ia goyangkan naik-turun dengan semangat. Ia bangga dipercaya mengangkut kantung uang emas Pak Saudagar. "Lihat aku!" katanya dengan angkuh pada keledai temannya yang mengikuti di belakang.
Tak mereka ketahui, gerombolan perampok telah mengintai mereka di pasar. Para perampok lalu menguntit mereka dalam perjalanan pulang. Begitu mereka lewat di tempat yang sepi, para perampok itu bermunculan dari persembunyiannya.
"Serahkan uangmu, saudagar!" kata mereka mengancam.
Pak Saudagar terkejut, tapi ia segera memecut keledai pembawa kantung emas keras-keras agar melompat dan berlari cepat. Tapi para perampok lebih cepat. Mereka segera menjerat keledai itu dengan tali tambang yang kuat. Para perampok sudah dari tadi mengincar keledai membawa kantung emas. Keledai meronta-ronta, tapi tanpa ampun para perampok memukuli keledai itu agar diam. Keledai tergeletak tak berdaya, seluruh tubuhnya babak belur. Dengan mudah perampok mengambil kantung-kantung emas Pak Saudagar. Puas dengan hasil jarahan, mereka segera melarikan diri.
"He-hah!" ringkik keledai, tapi kali ini ia tidak tersenyum sama sekali. Keledai tergeletak di tengah jalan. "Aduuh! Sakit sekali! Kenapa nasibku malang begini!" serunya dengan memilukan.
"He-hah!" jawab keledai temannya, si pengangkut gandum. "Aku bersyukur aku selamat tanpa luka sedikitpun, bahkan barang bawaanku pun masih utuh tanpa hilang sebutir gandumpun."   
"Bersyukurlah kita masih hidup!" seru Pak Saudagar. "Para perampok terkenal kejam dan bengis! Tidak memberi ampun," hibur Pak Saudagar sambil menolong keledai yang terkapar untuk berdiri. "Lagipula kita masih punya banyak gandum untuk kita jual kembali!" katanya sambil membelai keledai pembawa gandum dengan suka cita.

Terjemah bebas dari The Mules and the Robbers, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : jabatan yang lebih tinggi, tanggungjawab yang lebih besar, resikonya tentu lebih besar.
Pesan lain dari cerita ini : jangan sombong dengan sesuatu yang bukan milikmu.

READ MORE - Keledai dan Perampok

Kamis, 11 Juli 2013

Dongeng : Prakata Untuk Pembaca

Suatu saat di akhir tahun 2012, saya meminjam buku berbahasa Inggris yang di dalamnya ada cerita-cerita pendek untuk anak. Ketika anak-anak saya, Zarkasya (7 tahun) dan Faizan (5 tahun), hendak tidur, saya iseng-iseng menawarkan kepada mereka sesuatu, "Mau Papah ceritakan dongeng tidak?" Mereka mengangguk antusias. Lalu sambil berbaring, mereka mendengarkan saya bercerita. Karena anak-anak saya belum mengerti bahasa Inggris, tentu saja saya harus mengalihbahasakan cerita berbahasa Inggris itu ke bahasa yang mereka mengerti. Saya terpaksa mendongeng dengan berpikir keras (maklum saya juga tidak begitu pandai berbahasa Inggris). Saya harus memilih kata-kata yang sederhana dan mudah dipahami oleh mereka. Tak saya sangka sebelumnya, akhirnya setiap kali hendak tidur mereka selalu meminta saya mendongeng.  

Hampir setiap malam saya mendongeng, tak terasa begitu banyak dongeng yang saya ceritakan. Satu hari satu dongeng, satu bulan tigapuluh dongeng, tiga bulan seratus duapuluh dongeng. Tak terasa saya sudah kehabisan dongeng. Tak terasa pula bahwa saya merasa lebih dekat dengan anak-anak saya dari sebelumnya, dan saya betul-betul merasa anak-anak menantikan kehadiran saya.

Sengaja atau tidak, anak-anak saya kadang menonton tayangan-tayangan di televisi yang penuh intrik, konflik, korupsi, kolusi, kekerasan, tersangka, korban, kebohongan, perceraian, gosip artis, sensasi, buka aurat, dan segala macam contoh moral yang buruk. Ketika kedua orangtuanya tak bisa mendampingi, semua hal tadi tersaji mentah-mentah tanpa bimbingan pesan moral yang memadai. Mereka menyaksikan dunia yang buruk! Ketika anak-anak saya mengalami hari yang buruk, kenapa saya tidak coba memperbaiki dunia (yang buruk) itu dengan sesuatu yang saya bisa lakukan dengan sederhana? Yang saya lakukan adalah menyempatkan diri untuk memperbaiki hari mereka sebelum mereka tidur dan memulai hari berikutnya. Yang saya lakukan adalah menceritakan dongeng-dongeng menghibur yang sederhana untuk menanamkan pesan moral yang baik. Semoga hari esok yang mereka jalani menjadi lebih baik.

Saya lalu terpikir untuk membuat blog kumpulan dongeng-dongeng anak. Walaupun sederhana, mudah-mudahan bisa membuat dunia kita semua menjadi lebih baik. Dunia saya, dunia anak-anak saya, dunia para pembaca semua, mudah-mudahan menjadi dunia yang lebih baik dan berbudi pekerti luhur.

*****

Saya bukan penulis dongeng, oleh karena itu karya-karya yang ada dalam blog ini adalah karya para penulis dongeng terkenal dari literatur berbahasa inggris yang saya alih bahasakan ke bahasa Indonesia dengan tutur kata dan gaya penulisan sendiri. Oleh karena itu saya mencantumkan istilah "terjemah bebas" di akhir setiap artikel dalam blog ini untuk menunjukkan bahwa karya tersebut merupakan hasil terjemahan dari literatur asalnya tetapi didongengkan ulang dengan improvisasi, dan bumbu-bumbu cerita yang saya tambahkan sendiri.

Dongeng yang saya kisahkan dalam blog ini kebanyakan berupa fabel (cerita fiksi tentang binatang atau benda yang bertingkah-laku menyerupai manusia), misalkan cerita tentang binatang seperti Kambing dan Rubah, atau benda lain seperti Pohon dan Belukar. Tentunya ini menjadi pertanyaan bagi si anak, misalkan : mungkinkah seekor kambing berbicara seperti dalam cerita? Apakah pohon bisa bercakap-cakap seperti dalam dongeng? Ini pun sebenarnya bukan hanya pertanyaan dari pikiran polos seorang anak, orang dewasa pun bertanya hal serupa tapi dengan bahasa yang lebih canggih, "Mungkinkah binatang dan tanaman berkomunikasi?"

Dengan latar belakang pendidikan saya sebagai muslim, maka saya mendapat jawaban dari kitab suci sebagai berikut:  
"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun." (Al-Qur'an, surat Al-Isra', ayat 44).
Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tapi kita tidak mengerti. Oleh karena itulah blog ini saya namakan "fasabbih", yang berarti "maka bertasbihlah". Untuk memahami sesuatu dengan sederhana, maka blog ini dibuat.

Di dalam blog ini banyak dongeng berisi pesan moral, pesan pendidikan yang diceritakan dengan ringan melalui cerita-cerita binatang, tanaman, atau benda yang berperilaku seperti manusia. Mendengar dongeng perilaku binatang dengan semua tingkah polahnya, saya kadang tersenyum geli, tertawa, atau kadang merenung. Tingkah lucu, pintar, cerdik, bijaksana, baik hati, rendah hati, dan semua kelakuan baik para binatang dalam dongeng, membuat saya tersenyum. Saya menertawakan perilaku binatang-binatang dalam cerita yang kadang lugu, konyol, bodoh, serakah, dengki, pemarah, sombong, egois, dan semua perilaku buruk lainnya. Yah, tanpa sadar saya menertawakan diri sendiri.

*****

Saya ingin menghadirkan blog ini sebagai wahana pendidikan yang ringan tanpa maksud menggurui, terutama untuk anak-anak saya. Oleh karena itu sangat penting menurut saya agar dongeng-dongeng yang saya kisahkan ulang dalam blog ini saya saring atau modifikasi seperlunya terlebih dahulu, dengan tujuan agar :
1. Dongeng harus memiliki pesan moral yang baik,
2. Dongeng diceritakan dengan sederhana, sehingga bisa dipahami maksudnya bahkan oleh anak-anak, 
3. Dongeng yang dikisahkan memiliki sebuah alur sebab-akibat yang masuk akal,
4. Oleh karena itu dongeng yang dipilih tidak menceritakan tentang hal-hal ajaib, magis, sihir, kutukan, benda-benda keramat dan sejenisnya,
5. Dongeng sesedikit mungkin menceritakan tentang kekerasan, ataupun jika ada maka sedapat mungkin kata-katanya diperhalus.

*****

Terakhir saya sampaikan hal-hal tentang mendongeng yang saya peroleh dari www.ayahbunda.co.id.
5 Tips mendongeng : 
  1. Ambil cerita yang Anda sukai karena anak menangkap antusiasme Anda, dan dia belajar menyukai cerita itu. Cerita bisa Anda peroleh dari buku anak dan cerita legenda atau cerita rakyat. (tambahan dari penulis : pilih dongeng atau bumbui dongeng yang anda ceritakan sesuai dengan nilai-nilai yang anda anut).
  2. Sering kontak mata meski Anda membacakan buku, agar anak tetap fokus pada Anda dan dongeng.
  3. Kurangi gangguan, cari tempat tenang:
    • Matikan TV, komputer, CD player dan jangan sambil mengerjakan hal-hal lain.
    • Waktu dan tempat yang tenang membantu anak memahami isi cerita.
    • Menjelang tidur malam adalah saat tepat untuk mendongeng, karena fisik dan pikiran anak dalam keadaan tenang.
  4. Bicara wajar, tak perlu banyak tingkah atau gaya agar anak tetap fokus pada cerita, bukan pada gerakan Anda.
    • Gerak tubuh dan ekspresi wajah, suara yang diubah-ubah tidak perlu sempurna karena elemen terpenting dalam cerita yang bagus adalah diri ANDA.
    (tambahan dari penulis : bumbui cerita sesuai dengan selera, katakan dongeng dengan kata-kata anda sendiri) 
    • Tingkatkan partisipasi anak, dengan menjadikannya bagian dalam cerita Anda.
      • Anak lebih banyak belajar dan lebih baik mengingat cerita.
      • Dorong anak untuk mengekspresikan dengan bahasa tubuh dan wajah. Ini membuat anak menikmati setiap kalimat, deskripsi dan karakter dalam cerita.  
      (tambahan dari penulis : tanyakan hal-hal kecil kepada anak, misalkan bagaimana sih suara ayam berkokok?)
      12 Manfaat Dongeng :
      1. Meningkatkan keterampilan bicara anak, karena bayi atau balita akan kenal banyak kosa kata.
      2. Mengembangkan kemampuan berbahasa anak, dengan mendengarkan struktur kalimat.
      3. Meningkatkan minat baca.
      4. Mengembangkan keterampilan berpikir.
      5. Meningkatkan keterampilan problem solving.
      6. Merangsang imajinasi dan kreativitas.
      7. Mengembangkan emosi.
      8. Memperkenalkan nilai-nilai moral.
      9. Memperkenalkan ide-ide baru.
      10. Mengalami budaya lain.
      11. Relaksasi.
      12. Mempererat ikatan emosi dengan orang tua.
      *****

      Nah, selamat mendongeng! Satu langkah kecil untuk pendidikan seumur hidup anak-anak kita.

      Bandung, Ramadhan 1434 Hijriah
      Raqim * Riki Kurniawan

      READ MORE - Dongeng : Prakata Untuk Pembaca

      Anjing yang Nakal

      Di sebuah kota tinggal seorang pedagang tinggal di pasar. Dia memiliki seekor anjing muda. Anjingnya sangat ia manjakan, tetapi akibatnya anjing itu menjadi tidak bisa diatur.
      Anjing itu senang sekali menyelinap di belakang orang-orang. Ia mengendap-endap lalu menggigit tumit sepatu mereka. Semua orang sebal dengan kelakuan anjing itu, apalagi para pembeli di pasar. "Aku harus melakukan sesuatu," begitu pikir si pedagang.

      Ia lalu mengikatkan seutas tali di leher anjingnya. Ujung tali yang lain ia ikatkan ke sebuah potongan kayu. Kemanapun anjing itu pergi, potongan kayu itu akan terseret-seret olehnya dan berbunyi klotak! klotak! klotak! "Nah, sekarang kamu tidak bisa mengendap-endap di belakang orang lalu menggigit mereka," kata pedagang itu, "mereka akan tahu lebih dulu kedatanganmu!"
      Kelakuan anjing itu ternyata tidak berubah. Ia tetap berusaha menggigit tumit sepatu orang yang lalu lalang. Ia menganggap kayu yang diikatkan majikannya adalah tanda kehormatan. Dengan bangga ia berlari-lari sekeliling pasar sambil memperdengarkan bunyi klotak! klotak! klotak! Semakin nyaring bunyinya semakin bangga ia akan dirinya.
      Suatu hari ia bertemu dengan seekor anjing tua. Anjing itu memperhatikan dirinya sepanjang hari, sehingga ia merasa terganggu. Ia pun mendekati anjing tua itu lalu bertanya dengan ketus, "Pak tua! Kenapa kau memata-matai aku?"
      Anjing tua itu tertawa dan menjawab dengan sopan, "Hai nak! Bukan aku yang memata-mataimu. Tapi dirimu sendiri yang ingin diperhatikan."
      Anjing tua itu melangkah mendekat sambil menasihati, "Nak, kenapa kamu begitu bangga dengan dirimu sendiri hingga berlari-lari di jalanan dengan benda berisik yang menggantung di lehermu?" Anjing muda melotot dengan marah tapi ia masih mendengarkan.
      "Dengarkan aku yang sudah tua ini, yang telah melihat dunia lebih lama darimu, telah berpetualang sangat jauh di negeri ini. Kayu di lehermu itu bukanlah tanda kehormatan! Itu adalah tanda yang memalukan. Sebuah tanda bagi semua orang untuk menjauhimu, karena kamu anjing yang berkelakuan buruk!"
      Anjing muda itu sekarang tertunduk malu dan bergegas lari mencari tuannya.  

      Terjemah bebas dari The Mischievous Dog, www.aesopfables.com

      Pesan dari cerita ini : kebekenan karena perbuatan buruk sering disalahartikan sebagai kemasyhuran. Padahal bukanlah nama baik yang diingat orang, tetapi nama buruk.
      READ MORE - Anjing yang Nakal

      Rabu, 10 Juli 2013

      Lelaki dan Pohon


      Dahulu kala, di suatu siang yang amat terik menyengat, seorang lelaki melangkah masuk ke dalam hutan kecil. Ia membawa sebuah kantung kulit yang terikat di pinggangnya. Ia duduk berteduh di bawah sebuah pohon yang rindang untuk melepas lelah. Dengan ujung bajunya ia menyeka peluh di dahinya.
      Setelah cukup lama beristirahat, ia membuka kantung kulitnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Kantung itu bukan berisi bekal makan siangnya, tetapi berisi sebuah kepala kapak besi. Ia menimang-nimangnya sebentar lalu berdiri. Ia lalu berjalan berkeliling hutan kecil itu mencari sesuatu, tetapi ia tidak bisa menemukannya. Apa kiranya yang dia cari?
      Lelaki itu berjalan lagi berkeliling sambil mencari-cari sesuatu di tanah, tetapi lagi-lagi ia kecewa. Ia tidak menemukan apa yang dia cari. Setelah lama berputus asa ia mendongak ke atas, menatap pohon-pohon rindang di sekelilingnya.
      "Pohon-pohon yang baik" serunya. "Mohon berilah aku satu saja batang kayu yang kuat kepunyaanmu. Sedikit kebaikan darimu untuk yang membutuhkan!" lelaki itu memohon.
      Pohon-pohon memiliki sifat yang tenang dan baik hati. Mereka selalu memberikan yang baik untuk makhluk lain. Daun-daun yang rindang untuk berteduh, udara yang segar, buah-buahan yang ranum dan manis, mereka berikan cuma-cuma kepada yang lain. Apa artinya sebatang kayu untuk lelaki ini?
      Sebuah cabang pohon jatuh terlepas dari dahannya. Jatuh tergeletak di hadapan lelaki itu. Dengan sigap si lelaki mengambilnya lalu memasangnya kuat-kuat ke kepala kapak. Tanpa banyak bicara, ia lantas mengayunkan kapaknya. Ia menebang semua pohon di hutan kecil itu hingga jatuh bergelimpangan tak bersisa.

      Terjemah bebas dari The Man and the Wood, www.aesopfables.com

      Pesan dari cerita ini : ada orang yang bersifat serakah, diberi sejengkal minta sedepa, diberi hati minta rempela.
        

      READ MORE - Lelaki dan Pohon

      Suami dan Dua Istrinya


      Dahulu kala ada seorang lelaki paruh baya yang memiliki dua istri. Istrinya yang kedua lebih muda dari istrinya yang pertama. Walaupun begitu mereka hidup rukun bahagia.
      Tahun berganti, lelaki itu beranjak tua. Walaupun begitu kedua istrinya tetap mencintainya dan berharap suaminya tetap serasi dengan mereka. Sekarang uban mulai bermunculan di sela-sela rambut lelaki itu. Rambutnya yang tadinya hitam legam sedikit-sedikit bercampur rambut putih.
      Istri muda tidak suka melihat uban di kepala suaminya. Ia ingin suaminya tetap terlihat muda sehingga mereka tetap terlihat sebagai pasangan yang serasi. Jika suaminya tidur beristirahat di malam hari, ia lalu duduk di sampingnya membawa sisir. Ia menyisir rapi rambut suaminya sambil mencabuti uban di kepalanya.
      Istri yang tua juga ingin agar suaminya serasi dengannya. Ia senang melihat rambut suaminya yang tidak lagi hitam legam. Ia senang melihat rambut suaminya yang putih keabuan. Ia tidak ingin ia terlihat lebih tua dibandingkan suaminya. "Masa aku terlihat menikah dengan pria muda? Lebih buruk lagi bagaimana jika aku dikira ibunya!" demikian seru kata hatinya. Maka setiap pagi sebelum suaminya berangkat bekerja, ia berdiri menyisir rambutnya dan mencabuti rambut hitam di kepala suaminya.
      Tak perlu waktu lama, suaminya menjadi botak. Pada malam hari rambut putihnya dicabut, pada pagi hari rambut hitamnya diambil. Ia duduk kebingungan di depan cermin, "Sejak kapan aku menjadi botak?"

      Terjemah bebas dari The Man and His Two Wives, www.aesopfables.com

      Pesan dari cerita ini : Menyerah pada kemauan semua orang, dan akhirnya kita tidak memiliki apapun untuk diserahkan.   


      READ MORE - Suami dan Dua Istrinya

      Rambut Palsu Singa

      Di dalam hutan tinggal seekor singa. Singa ini sedikit berbeda dengan singa jantan lainnya.
      Apakah ia lebih kuat? Bukan!
      Apakah ia lebih besar? Tidak!
      Apakah ia lebih tampan? Sama sekali tidak!
      Singa ini terkenal lucu. Apakah ini perbedaannya? Hampir tepat, tetapi belum benar.
      Singa ini adalah seekor singa jantan lucu yang botak. Ya! Di kepala singa ini tidak tumbuh satu helai rambut pun. Perlahan-lahan rambut di surainya rontok satu persatu hingga akhirnya tak bersisa. Ia sebenarnya malu untuk keluar dari sarangnya tanpa rambut, tapi apa daya tentunya setiap pagi ia harus keluar mencari makan. Oleh karena itu ia memiliki rambut palsu yang ia pakai setiap kali ia pergi.


      Pagi ini pun ia pergi keluar dari sarangnya di hutan. Ia bermaksud pergi mencari makan ke padang rumput. Ketika tiba di persimpangan, di seberang jalan ia melihat singa-singa betina yang cantik jelita hendak menyeberang. Sebagai singa jantan yang tahu sopan santun, tentu saja ia harus menghormati para singa wanita itu. Ketika para singa betina itu lewat di depannya, ia lalu tersenyum lebar sekali dan membungkuk dengan santun.
      Tak dinyana, tepat ketika rombongan singa betina lewat, sebuah angin kecil yang jahil bertiup. Angin itu meniup rambut palsu singa hingga terbang ke udara, meninggalkan kepala singa jantan yang gundul. Singa jantan berdiri di hadapan para singa betina dengan amat malu, dan lebih parah lagi dengan menunjukkan kepala gundulnya yang licin berkilau seperti semangka.
      Tapi ia adalah seekor singa pandai yang lucu, walaupun pada awalnya malu bukan kepalang, ia malah berkata pada para singa betina itu. "Wah, wah, wah!" serunya sambil tersenyum. "Yah, mau bagaimana lagi. Bagaimana mungkin rambut orang lain mau diam di atas kepalaku? Sedangkan rambutku sendiri saja tidak mau tinggal di atasnya!"
      Ia tersenyum lebar dan singa-singa betina yang jelita tertawa geli mendengar gurauannya.   

      Terjemah bebas dari The Lost Wig, www.aesopfables.com

      Pesan dari cerita ini : orang pandai pasti tahu jawaban yang tepat
         


      READ MORE - Rambut Palsu Singa