Kamis, 26 September 2013

Asal Usul Nama Buleleng dan Singaraja

Di Bali, hidup seorang raja yang bergelar Sri Bagening. Sang Ra­ja memiliki banyak istri, dan istri ter­­­akhirnya bernama Ni Luh Pasek. Ni Luh Pasek berasal dari Desa Panji, dan ma­­sih ke­­turunan Kyai Pasek Gobleng. Su­a­tu waktu, Ni Luh Pasek mengandung. Oleh suami­nya, ia dititipkan kepada Kyai Je­lan­tik Bogol. Tak berapa lama, anaknya pun lahir. Anak itu diberi nama I Gede Pa­sekan. I Gede Pasekan mempunyai wi­­ba­wa besar sehingga sangat dicintai dan dihormati oleh pemuka masyarakat mau­pun masyarakat biasa.
Suatu hari, ketika usianya menginjak dua puluh tahun, ayahnya berkata pada­nya, “Anakku, sekarang pergilah engkau ke Den Bukit di daerah Panji.”
“Mengapa ayah?”
“Karena di sanalah tempat kelahiran ibumu.”
Sebelum berangkat, ayah angkatnya mem­berikan dua buah senjata bertuah, yaitu sebilah keris bernama Ki Baru Se­mang dan sebatang tombak bernama Ki Tunjung Tutur. Dalam perjalanannya, I Gede Pasekan diiringi oleh empat puluh pe­nga­wal yang dipimpin Ki Dumpiung dan Ki Dosot. Ketika sampai di daerah yang di­­­­­­­sebut Batu Menyan, mereka bermalam dengan dijaga ketat oleh para pengawal secara bergantian.

Saat tengah malam, tiba-tiba datang makhluk ajaib penghuni hutan. Dia meng­ang­kat I Gede Pasekan ke atas pun­daknya se­hingga I Gede Pasekan dapat me­lihat pe­­man­dangan lepas ke lautan dan da­ratan yang ter­­bentang di hadapannya. Ke­tika dia me­­man­dang ke arah timur dan barat laut, ia me­li­hat pulau yang amat jauh. Ketika me­­li­hat ke arah selatan pemandangannya di­­halangi oleh gunung. Setelah makhluk itu pergi kemudian terdengar bisikan.
“I Gusti, sesungguhnya apa yang te­lah engkau lihat akan menjadi daerah ke­kuasaanmu.”
Keesokan harinya rombongan itu me­­lan­jutkan perjalanan. Meski sulit dan pe­nuh rintangan akhirnya rombongan I Gede Pasekan berhasil mencapai tujuan, yaitu Desa Panji, tempat kelahiran ibunya.
Suatu hari, ada sebuah perahu Bugis yang terdampar di pantai Panimbangan.Warga setempat yang dimintai tolong tak mampu mengangkatnya.
Keesokan harinya orang Bugis pemilik perahu itu meminta tolong pada I Gede Pasekan.
“Tolonglah kami, Tuan. Jika Tuan ber­hasil mengangkat perahu kami, se­bagian muatan itu akan kami serahkan kepada Tuan sebagai upahnya.”
“Kalau itu keinginan kalian, saya akan berusaha mengangkat perahu itu,” jawab I Gede Pasekan.
I Gede Pasekan segera memusatkan pikiran. Dengan kekuatan gaibnya, perahu yang kandas itu berhasil diangkatnya. Se­ba­gai ungkapan rasa terima kasih, orang Bugis itu memberikan hadiah berupa se­tengah dari isi perahu itu kepada I Gede Pasekan. Di antara hadiah itu terdapat dua buah gong besar. Sejak saat itu I Gede Pasekan menjadi orang kaya dan bergelar I Gusti Panji Sakti.
Kekuasaan I Gede Pasekan mulai me­­­­luas dan menyebar sampai ke mana-mana. Dia pun mendirikan kerajan baru di Den Bukit. Kira-kira abad ke-17, ibukota ke­rajaan itu disebut orang dengan nama Su­ka­sada. Kerajaaan I Gede Pasekan itu ber­­kem­bang hingga ke utara. Daerah itu ba­­nyak ditumbuhi pohon buleleng. Oleh karena itu, pusat kerajaan beralih ke wi­la­­­yah itu. Wilayah itu pun diberi nama Buleleng.
Di Buleleng dibangun sebuah istana megah yang diberi nama Singaraja. Nama ini menunjukkan bahwa penghuninya ada­lah seorang raja yang gagah perkasa lak­sana singa. Namun, ada pendapat yang mengatakan bahwa nama Singaraja arti­nya tempat persinggahan raja. Barangkali ketika sang Raja masih di Sukasada, se­ring singgah di sana. Jadi, kata Singaraja berasal dari kata singgah raja.

READ MORE - Asal Usul Nama Buleleng dan Singaraja

Jumat, 06 September 2013

Cerita Abu Nawas

Cerita Abu Nawas

Pagi yang indah buat Anda semuanya terutama bagi Anda yang menyukai cerita-cerita lucu dan kisah menarik dari tokoh Abu Nawas yang melegenda. Pastinya Anda semua kebanyakan sudah mengenal tokoh hebat Abu Nawas yang selalu menghibur yang mampu mengatasi berbagai persoalan rumit dengan gaya humor dan juga bahkan humor politis.
Abu Nawas dilahirkan di kota Ahvaz di negeri Persia, dengan darah Arab dan Persia mengalir di tubuhnya. Setelah beliau meninggal pun masih banyak orang-orang yang dibikin tertawa dengan cerita cerita menarik darinya. Didepan makamnya ada pintu gerbang yang terkunci dengan kunci gembok yang sangat besar sekali. Tetapi dikanan dan kiri pintu gerbang itu tidak diberikan pembatas alias pagarnya bolong sehingga orang bisa dengan leluasanya untuk masuk ke makam untuk berziarah. Sebuah misteri, Mungkin itu adalah simbol dari watak dari tokoh Abu Nawas yang sepertinya tertutup namun sebenarnya dia adalah seorang yang sangat terbuka. Ada sesuatu yang misteri dari diri Abu Nawas, sepertinya dia bukan orang yang biasa-biasa saja. Dengan kesederhanaan dan dikenal sangat dekat dengan rakyat jelata dan suka sekali membantu kaum yang lemah dan juga tertindas.

Dengan begitu banyaknya ragam cerita-cerita darinya menjadikan Kisah Abu Nawas dikenal sampai belahan dunia. Membaca cerita dan kisah Abu Nawas kadang-kadang ceritanya tidak masuk diakal, untuk itu Anda harus kritis dan bijaksana dalam menyikapinya.

Cerita Lucu Abu Nawas - ROBOHKAN SAJA
Pada suatu hari Darwis yang pergi ke sebuah pemandian. Ia berada dalam pemandian itu beberapa jam lamanya dan diperlakukan baik-baik. Tetapi ketika selesai, ia menyadari bahwa tidak mempunyai uang untuk membayar ongkos mandi itu. Pada masa itu untuk sekali mandi bayarannya adalah satu keping.

Tepat sebelum Darwis itu sampai di tempat kasir yang duduk di dekat pintu, ia memohon kepada Tuhan, "Ya, Tuhan, robohkan saja rumah mandi ini sehingga hambamu ini tidak menjadi malu lantaran tidak bisa membayar."  Pada saat itu juga rumah mandi itu roboh. Dan pada saat yang sangat tepat Darwis itu pun keluar dari rumah mandi yang roboh tadi, sehingga dia selamat.

Di luar rumah permandian itu ia bertemu seorang pengemis yang meminta uang satu keping darinya. Darwis itu pun berkata kepadanya, "Kamu rninta uang sekeping dariku? Tuhan saja tidak punya uang satu kepeng! Seandainya Dia punya, tentunya tadi rumah permandian itu tidak dirobohkan-Nya."

Cerita Lucu Abu Nawas - Konsisten
"Berapa umurmu, Nasrudin?"
"Empat puluh."
"Lho? dulu kau menyebutkan angka yang sama ketika aku menanyakan umurmu dua tahun yang lalu?"
"Ya, aku memang berusaha untuk konsisten dengan apa yang pernah aku katakan."
"Oh. begitukah cara menepati omongan?"
"Masak kau nggak tahu seh?" 

Cerita Lucu Abu Nawas
 
READ MORE - Cerita Abu Nawas

Rabu, 31 Juli 2013

The Story of A Cat : Chapter 2

Bab II

Si Kucing Tinggal Bersama Madame de la Grenouillère, Dan Dirawat Oleh Ibu Michel


Kisah Seekor Kucing : Ibu Michel
Ibu Michel
Madame de la Grenouillère tinggal di sebuah rumah besar yang terletak di pojok jalan antara Saint-Thomas-du-Louvre dan Orties-Saint-Louis; di sana ia tinggal menyendiri, hanya ditemani oleh dua orang pelayan utamanya, - Nyonya Michel, pelayan dan sebagai teman, dan M. Lustucru, si pengurus rumah. Pelayan-pelayan ini sudah berumur cukup tua, sehingga ia memanggilnya Ibu Michel dan Bapak Lustucru.

Rupa Ibu Michel seperti sifatnya yang ramah; ia orang yang terbuka dan jujur, berbeda dengan Pak Lustucru yang licik dan suka berpura-pura. Si pengurus rumah pandai membuat alasan sehingga dapat mengelabui orang-orang yang kurang berpengalaman; tapi pengamat yang cermat dapat dengan mudah mengetahui sifat sebenarnya di balik topeng kelakuan baiknya. Mata birunya menyiratkan kepura-puraan, cuping hidungnya menyimpan amarah, ada kelicikan di ujung hidungnya yang lancip, dan ada kedengkian di bentuk bibirnya.
Walau demikian, lelaki ini tidak pernah menunjukkan sesuatu yang bisa mengurangi kehormatannya; ia selalu bisa menjaga tampak luarnya yang kelihatan jujur, dengan menyembunyikan sifatnya yang buruk. Kejahatannya seperti sebuah tambang batu bara yang belum tersulut korek api,- tinggal menunggu untuk meledak.

Kisah Seekor Kucing : Pak Lustucru
Pak Lustucru
Lustucru tidak menyukai binatang apapun, tetapi, untuk menyenangkan nyonyanya, ia berpura-pura memuja mereka. Ketika ia melihat Ibu Michel menggendong si kucing, ia berkata pada dirinya sendiri :"Apa! Lagi-lagi binatang! Orang-orang di rumah ini saja sudah cukup banyak!"
Ia tak tahan untuk tidak melirik dengan antipati pada si pendatang baru; tapi segera ia menutupi perasaannya lalu berseru seolah kagum,-
"Oh, kucing yang cantik! kucing yang rupawan! kucing ini tak ada duanya!" - dan dia mengelus kucing itu dengan belaian khianat.
"Benarkah?" kata Madame de la Grenouillère, "tidakkah kamu melihatnya buruk rupa?"
Kisah Seekor Kucing : Kucing Yang Cantik
Oh Betapa Cantiknya Dia

"Buruk rupa! Tapi, lihatlah matanya yang mempesona. Tapi jika ia menakutkan, kepedulianmu padanya akan mengubahnya.""Tadinya dia membuatku jijik."
"Makhluk yang pada awalnya tak menyenangkan akhirnya akan menjadi yang paling disayangi," jawab Pak Lustucru.
Mereka membawa si kucing ke kamar mandi, yang walaupun sangat takut air, menyerah ketika ia dimandikan; ia tampaknya mengerti bahwa mandi itu untuk memperbaiki penampilannya. Setelah memberi kucing itu makan sekerat daging, yang dimakannya dengan nikmat, mereka merundingkan jadwal makan kucing itu, apa yang dilakukannya sehari-hari, dan di mana ia harus tidur.
Kisah Seekor Kucing : Kucing Mandi
Kucing Mandi

Mereka lalu memikirkan sebuah nama untuk si kucing. Ibu Michel dan Pak Lustucru mengusulkan beberapa nama yang riang, seperti Mistigris, Tristepatte, dan lainnya; tapi nyonya mereka menolak semuanya. Ia ingin sebuah nama yang menunjukkan keadaan ketika kucing itu ia temukan. Ia lalu menemui seorang sarjana tua keesokan harinya. Sarjana itu mengusulkan nama Moumouth yang artinya diselamatkan dari panci.
Kisah Seekor Kucing : Kucing Gemuk
Kucing Menjadi Gemuk

Kisah Seekor Kucing : Mencari Nama
Sarjana Mencari Nama

Beberapa hari kemudian; Moumouth hampir-hampir tak dikenali lagi. Bulu-bulunya mengkilat; makanan bergizi membuat tubuhnya sehat; kumisnya tegak berdiri seperti kumis jago pedang abad ke tujuhbelas; matanya berkilau seperti permata. Ia adalah saksi hidup bahwa perawatan yang baik terbukti berakibat baik. Kucing itu berhutang budi terutama pada Ibu Michel, yang merawatnya dengan kasih sayang; sebaliknya ia jelas-jelas tidak senang pada Pak Lustucru, ia membencinya seperti musuh, dan menolak semua yang diberikan oleh pengurus rumah itu. Walaupun demikian mereka memang jarang sekali bertemu. Hari-hari berlalu amat menyenangkan untuk Moumouth, dan masa depannya tampak begitu cerah; tapi, seperti cerita Damocles dari Yunani, dalam setiap kesenangan ada masalah yang mengancam di atas kepala orang maupun kucing. Pada hari ke-24 bulan Januari 1753, kesedihan yang tidak biasa terlihat di wajah Moumouth; dia diam saja jika Madame de la Grenouillère membelainya dengan lembut; dia tidak mau makan dan sehari-harinya dihabiskan dengan meringkuk di depan perapian, menatap api dengan sedih. Ia punya firasat mendapat musibah, dan akhirnya musibah itu datang.
Kisah Seekor Kucing : Tak Mau Diberi
Dia Tak Mau Menerima Apapun

Kisah Seekor Kucing : Duduk Di Perapian
Kucing Duduk Di Samping Perapian

Pada malam itu seorang utusan datang. Ia datang dari Château de la Gingeole di negeri Normandy. Ia membawa surat untuk si wanita bangsawan dari adiknya yang patah kaki ketika naik kereta kuda. Ia memohon ditemani oleh satu-satunya keluarga yang ia punya, dan ia ingin ditemani segera. Madame de la Grenouillère sangat baik hati, tanpa ragu-ragu ia berkata :"Besok aku akan pergi."
Mendengarnya, Moumouth menatap penolongnya itu dan mengeong pilu, miau.

Kisah Seekor Kucing : Saat Kecil Memelihara Kucing
Saat Kecil Ia Memelihara Kucing

Kisah Seekor Kucing : Aku Pergi Besok
Aku Harus Pergi Besok


"We will take good care of him, madame," said Father Lustucru.
"Don’t you trouble yourself about him, I pray you," interrupted the Countess. "You know that he has taken a dislike to you; your presence merely is sufficient to irritate him. Why, I don’t know; but you are insupportable to him."
"That is true," said Father Lustucru, with contrition; "but the cat is unjust, for I love him and he doesn’t love me."

"Kucing yang malang!" kata Nyonya, "tapi kita harus berpisah! Aku tak bisa membawamu karena adikku tak menyukai binatang sejenismu; dia anggap kalian suka berkhianat. Benar-benar buruk! Saat kecil ia memelihara seekor anak kucing. Karena terlalu bersemangat menunjukkan perhatiannya, anak kucing itu tak sengaja mencakarnya. Apakah karena ia jahat? Bukan, tapi karena memang begitulah anak kucing. Walau demikian sejak saat itu adikku membenci kucing."
Moumouth menanggapi kata-kata tuannya seperti ia berkata,-
"Tapi engkau akhirnya memberi kami keadilan, wanita yang mulia!"
Sesaat Nyonya terdiam dan merenung, lalu ia berkata,-
"Ibu Michel, aku percayakan kucingku padamu."
"Kami akan merawatnya untukmu, Nyonya," kata Pak Lustucru.
"Jangan menyulitkan dirimu sendiri, kumohon," Nyonya menyela, "kamu tahu dia tidak menyukaimu; melihatmu saja sudah membuatnya jengkel. Aku tak tahu kenapa; tapi kamu tak cocok dengannya."
"Benar Nyonya," jawab Pak Lustucru menyesal, "tapi kucing itu tidak adil; aku mencintainya sedang ia tidak!"
Kisah Seekor Kucing : Kupercayakan Kucing Padamu
Kupercayakan Kucingku Padamu

"Saudariku juga tidak adil. Kucing-kucing mungkin menyukainya tapi ia tak menyukai mereka. Aku menghormati keputusannya. Lakukan juga itu untuk Moumouth." Setelah mengucapkan kata-kata itu dengan tegas, Madame de la Grenouillère beralih ke Ibu Michel."Padamu, Ibu Michel, dan hanya padamu, aku mempercayakan kucingku. Kembalikan ia dengan selamat dan aku akan memberimu banyak keuntungan. Aku sudah enampuluh lima tahun sekarang, dan kamu sepuluh tahun lebih muda; mungkin saja kamu yang akan menutup mataku"-  
"Oh, Nyonya! Kenapa berpikir buruk seperti itu?"
"Biar aku selesai bicara. Untuk berjaga-jaga aku sudah berpikir untuk memberimu dana yang cukup; tapi jika kamu merawat Moumouth untukku, aku akan berikan kamu pensiun seribu limaratus keping uang."
"Ah Nyonya!" kata Ibu Michel dengan nada yang tulus, "tak perlu membayar untuk pelayananku ini; aku mencintai kucing itu dengan sepenuh hati, dan aku tak akan meninggalkannya." 
"Itu aku sudah yakin, dan aku juga tahu bagaimana harus menghargai pengorbananmu."
Selama pembicaraan itu, Pak Lustucru berusaha keras untuk menahan rasa cemburunya.
"Semua untuknya, dan tak ada sedikitpun untukku!" ia berkata pada dirinya sendiri. "Seribu limaratus keping uang setahun! Benar-benar harta karun, dan ia yang mendapatkannya! Oh tidak! Dia tak boleh mendapatkannya!"

Kisah Seekor Kucing : Kereta Kuda Siap
Kereta Kuda Sudah Siap

Pagi hari berikutnya jam setengah delapan, empat ekor kuda yang lincah ditambatkan pada kereta kuda yang akan membawa wanita tua yang berhati mulia itu ke negeri Normandy. Ia mengucapkan selamat tinggal kepada kucing kesayangannya, mendekapnya di dadanya lalu naik ke atas kereta.
Hingga saat itu Moumouth hanya merasa sedikit tidak nyaman, tapi akhirnya ia mengerti! Ia melihat penolongnya itu akan pergi, dan menggigil takut kehilangannya, ia mencoba naik ke pangkuannya.
"Kamu harus tinggal di sini," kata Madame de la Grenouillère mencoba menahan air mata.
Percayakah kamu? - kucing itu juga menangis!


Kisah Seekor Kucing : Kucing Ingin Naik Kereta
Kucing Ingin Naik Kereta

Untuk menghentikan keadaan yang membuat sedih itu, Ibu Michel memeluk kucing dengan bahunya dari atas jok kereta; pintu kereta ditutup, kuda-kuda menarik kereta dengan sekuat tenaga, dan segera pergi dengan cepat. Moumouth berguling-guling tak karuan, lalu pingsan. 

Kisah Seekor Kucing : Kucing Pingsan
Si Kucing Pingsan

Madame de la Grenouillère menjulurkan kepalanya keluar kereta, melambaikan saputangan, lalu berteriak dengan sedih:
"Ibu Michel, kupercayakan kucingku padamu!"

Kisah Seekor Kucing : Dia Harus Mati
Dia Harus Mati!

"Tenanglah Nyonya!; Aku berjanji anda akan menemuinya besar dan gemuk ketika anda kembali."
"Be tranquil, madame; I swear you shall find him large and plump when you return."
"Dan aku," Pak Lustucru berbisik dengan suara yang dalam, "Aku janji akan membuatnya mati!"

***

Bab III. Ibu Michel Yang Baik Hati, Pak Lustucru Yang Jahat

lanjutkan >>

Alih bahasa ke bahasa Indonesia oleh Raqim
Sumber www.guttenberg.org
READ MORE - The Story of A Cat : Chapter 2

Senin, 29 Juli 2013

The Story of A Cat : Chapter 1

THE STORY OF A CAT
TRANSLATED FROM THE FRENCH OF
EMILE DE LA BÉDOLLIÈRE
By
THOMAS BAILEY ALDRICH
With Silhouettes by L. Hopkins
Kisah Seekor Kucing


Alih bahasa ke bahasa Indonesia oleh Raqim
Sumber www.guttenberg.org

***

Pendahuluan

Cerita yang mengisahkan perjalanan hidup seorang wanita tua bernama Ibu Michel dan kucingnya karya M. Bédollière dari negeri Perancis. Kisah ini menjadi popular di Inggris setelah dialihbahasakan dalam bahasa Inggris oleh T.B. Aldrich, dan sekarang dikisahkan kembali oleh Raqim dalam bahasa Indonesia.

***

Bab I

Bagaimana Ibu Michel Bertemu Kucingnya

 

Kisah Seekor Kucing : burung nuriDahulu, saat negeri Perancis diperintah oleh Raja Louis ke-15, tinggal di kota Paris seorang wanita bangsawan yang kaya raya bernama Yolande de la Grenouillère. Ia wanita bangsawan yang terhormat dan dermawan. Ia bersedekah bukan hanya pada penduduk di daerah tempat tinggalnya, Saint-Germain-l’Auxerrois, tapi juga kepada orang-orang miskin di tempat lainnya. Suaminya bernama Roch-Eustache-Jérémie, bergelar Count of Grenouillère (Tuan dari Grenouillère), meninggal dalam pertempuran di Fontenoy pada hari ke-11 bulan Mei 1745. Janda yang baik itu selalu teringat almarhum suaminya bahkan kadang ia tiba-tiba menangis sedih sendiri. Sendirian tanpa anak, ia selalu merasa kesepian dan akhirnya ia memiliki kegemaran aneh, ...aneh tapi tidak mengurangi kebaikan dan sifatnya yang mempesona : ia memiliki kegemaran memelihara binatang, tapi kegemaran itu malah membuatnya semakin sedih karena semua binatang yang dipeliharanya akhirnya selalu mati.     
Kisah Seekor Kucing : memberi sedekah
Wanita Bangsawan Memberi Sedekah
Awalnya ia mengasihi seekor burung nuri berbulu hijau. Burung itu tak berhati-hati makan daun peterseli hingga perutnya mulas hebat. Gangguan pencernaan, karena salah makan biskuit manis, menghilangkan nyawa anjing berhidung pesek yang amat disayang Madame de la Grenouillère. Peliharaannya yang ketiga adalah seekor monyet, jenis hewan yang memikat hati. Suatu hari ia lepas dari ikatannya, bermain-main di atas pohon di taman saat hujan. Ia terkena demam dan akhirnya ia berakhir di makam.     
Kisah Seekor Kucing : monyet kehujanan
Monyet Kehujanan Hingga Sakit

Setelahnya wanita bangsawan itu memelihara burung-burung, tapi akhirnya ia selalu kehilangan mereka. Kalau tidak kabur terbang ke angkasa, burung-burung itu mati tersedak biji. Ia amat bersedih dan mencucurkan banyak air mata karena musibah yang terus-menerus terjadi menimpanya. Teman-teman wanita bangsawan itu kasihan melihatnya lalu mereka menawarkan kepadanya tupai, burung kenari, tikus putih, burung kakatua; tapi wanita itu tak mau menerimanya; ia bahkan menolak seekor anjing spaniel yang bisa main kartu, menari, makan sayur, dan mengerti bahasa Yunani.

Kisah Seekor Kucing : menawari peliharaan
Teman-Teman Menawarkan Binatang Peliharaan

"Tidak, tidak," katanya, "Aku tak mau lagi memelihara binatang; udara dalam rumahku membuat mereka sakit."
Kisah Seekor Kucing : anak-anak nakal
Anak-Anak Nakal Mengejar Seekor Kucing

Wanita bangsawan itu akhirnya mempercayai kalau nasibnya memang malang.
Suatu hari ia sepulang dari beribadah, ia melihat anak-anak berkumpul berdesak-desakan dan tertawa terbahak-bahak. Setelah ia naik ke atas kereta kuda, ia bisa melihat apa yang ada di balik kerumunan itu. Ia segera melihat bahwa sumber kehebohan itu adalah seekor kucing yang di buntutnya terikat sebuah panci kaleng, panci yang diikatkan oleh anak-anak nakal itu.

Kucing malang itu pasti sudah berlari jauh sekali, ia tampak luar biasa lelah. Melihat si kucing sudah tak mampu berlari cepat, anak-anak nakal itu mengelilingi si kucing lalu melemparinya dengan batu. Kucing yang tak beruntung itu melihat sekelilingnya dan tak ada seorangpun yang mengasihaninya. Ia sadar dikelilingi oleh orang-orang jahat dan ia menyerah pada nasibnya, tapi ia menerimanya dengan berani seperti seorang pahlawan bangsa romawi. Batu-batu sudah menghantam tubuhnya ketika Madame de la Grenouillère merasa sangat kasihan padanya lalu turun dari kereta kuda, menerobos kerumunan itu lalu berseru, "Aku akan beri sekeping uang emas untuk siapapun yang mau menyelamatkan binatang ini!"

Kisah Seekor Kucing : kucing membungkuk
Makhluk Malang itu Menundukkan Kepala
Kata-katanya sungguh sakti; seketika segerombolan penghukum itu menjadi para pembebas; si kucing bahkan hampir kehabisan nafas karena diperebutkan oleh anak-anak yang ingin membebaskannya dengan selamat... demi sekeping uang emas. Akhirnya seorang anak yang kuat seperti Herkules muda mengalahkan para pesaingnya, menggenggam si kucing yang kepayahan lalu menyerahkannya kepada si wanita bangsawan.

Kisah Seekor Kucing : persembahan kucing
Si Kucing Dipersembahkan Kepada Wanita Bangsawan
"Baiklah!" katanya, "Ini hadiah untukmu sesuai janjiku." Wanita itu memberikan sekeping uang emas berkilau yang baru keluar dari percetakan, lalu ia menambahkan, "Sekarang lepaskan kucing itu dari penderitaannya!"

Si Herkules muda itu menurut. Madame de la Grenouillère mengamati kucing yang ia selamatkan. Sudah jelas kucing itu kucing jalanan. Rupanya yang sudah buruk, tambah jelek lagi karena kejadian yang menimpanya tadi. Bulunya pendek bersalut lumpur, dengan susah payah dapat dilihat bahwa warna bulunya abu-abu bergaris hitam. Ia sungguh kurus hingga tampak tembus pandang, orang bisa menghitung jumlah tulang rusuknya, dan ia sangat lemah bahkan seekor tikus bisa mengalahkannya dengan mudah. Hanya satu keunggulannya, ia punya pesona seekor kucing.

Kisah Seekor Kucing : kucing kampung
Oh, Seekor Kucing Buruk Rupa!
"Oh sayangku, seekor kucing yang buruk rupanya," Madame de la Grenouillère berkata setelah ia mengamati si kucing.
Ketika ia akan naik lagi ke atas kereta kuda, kucing itu menatapnya dengan pandangan yang aneh, tak mampu dijelaskan dengan kata-kata, penuh dengan rasa terimakasih dan menyesali, begitu menyentuh sehingga seketika wanita baik hati itu tertegun. Dari mimik wajahnya, kucing itu seolah-olah berbicara padanya dengan amat fasih...

"Kamu sudah mengikuti kata hatimu; kamu melihatku lemah, menderita, tertekan, dan kamu mengasihaniku. Setelah kebaikan hatimu sudah terpuaskan, rupaku yang buruk membuatmu jijik. Aku kira kamu baik, tetapi ternyata tidak. Jika kamu benar-benar berhati lembut kamu akan merawatku karena aku adalah seekor kucing yang buruk rupanya; kamu akan tahu bahwa nasibku yang malang ini karena rupaku yang buruk, kamu sama saja - jika kamu meninggalkanku di jalanan ini, menyerahkanku pada anak-anak nakal ini - yah hal itu adalah sama saja untukku. Pergilah! Kamu tidak perlu membanggakan dirimu sendiri dengan kebaikanmu yang setengah hati itu! - Kamu sama sekali tidak menolongku; Kamu hanya memperpanjang penderitaanku. Aku kucing buangan, seluruh dunia memunggungiku; Aku akan segera mati; biarlah takdirku terpenuhi sekarang!"   

Madame de la Grenouillère hampir menangis. Kucing itu seperti manusia super -tapi tidak, ia seekor kucing. Baginya ia tampak seperti seekor binatang super! Dia membayangkan kucing itu berubah, bahwa ia dulunya adalah seorang ahli pidato ulung yang sekarang berdiri di hadapannya. Ia berkata kepada pelayannya, Ibu Michel, yang sedang ada di dalam kereta -.
"Bawa kucing itu."
"Apa! Nyonya akan membawanya ke rumah?" Ibu Michel berseru kaget.
"Tentu saja. Selama aku masih hidup, kucing itu bisa tinggal di dekat perapian dan tinggal meja makanku. Jika kamu ingin membuatku senang, perlakukan kucing itu dengan baik seperti engkau memperlakukanku."
"Baik Nyonya, aku akan menurut."
"Bagus. Ayo kita pulang!"
Kisah Seekor Kucing : pulang ke rumah
Ibu Michel Diperintahkan Membawa Si Kucing
  
***

Bab II. Si Kucing Tinggal Bersama Madame de la Grenouillère, Dan Dirawat Oleh Ibu Michel.

lanjutkan >>

Alih bahasa ke bahasa Indonesia oleh Raqim
Sumber www.guttenberg.org


 

READ MORE - The Story of A Cat : Chapter 1

The Cat and The Mouse

 Kucing dan Tikus

 
The cat and the mouse 
Tikus dan kucing
Played in the malt-house:
Bermain di lumbung 

The cat bit the mouse's tail off. "Pray, puss, give me my tail." "No," says the cat, "I'll not give you your tail, till you go to the cow and fetch me some milk."  
Kucing menggigit ekor tikus hingga lepas. "Kucing, kumohon berikan ekorku." "Tidak," kata si kucing, "Aku tak akan beri ekormu hingga kau pergi kepada sapi dan ambilkan untukku sedikit susu."

First she leapt, and then she ran, 
Ia melompat dan berlari,
Till she came to the cow, and thus began,—
Hingga ia bertemu seekor sapi,

"Pray, cow, give me milk, that I may give cat milk, that cat may give me my own tail again." "No," said the cow, "I will give you no milk, till you go to the farmer and get me some hay."
"Sapi, kumohon berikan aku sedikit susu, sehingga kucing dapat kuberi susu, dan kucing mau memberiku ekorku lagi." "Tidak," kata si sapi, "Aku tak akan beri susu hingga kau pergi kepada petani dan ambilkan untukku sedikit jerami."  

First she leapt, and then she ran, 
Ia melompat dan berlari,
Till she came to the farmer, and thus began,—
Hingga ia bertemu dengan petani,

"Pray, farmer, give me hay that I may give cow hay, that cow may give me milk, that I may give cat milk, that cat may give me my own tail again." 
"No," says the farmer, "I'll give you no hay, till you go to the butcher and fetch me some meat."
"Petani, kumohon beri aku jerami untuk kuberi pada sapi, sehingga sapi mau memberiku susu, sehingga kucing dapat kuberi susu, dan kucing mau memberiku ekorku lagi.
"Tidak," kata si petani, "Aku tak akan beri jerami hingga kau pergi ke tukang daging dan ambilkan untukku sedikit daging."   

First she leapt, and then she ran, 
Ia melompat dan berlari,
Till she came to the butcher, and thus began,—
Hingga bertemu tukang daging sapi,

"Pray, butcher, give me meat, that I may give farmer meat, that farmer may give me hay, that I may give cow hay, that cow may give me milk, that I may give cat milk, that cat may give me my own tail again."
"No," says the butcher, "I'll give you no meat till you go to the baker and fetch me some bread."
"Tukang daging, kumohon beri aku daging untuk kuberi pada petani, sehingga petani mau memberi aku jerami, sehingga sapi dapat kuberi jerami, sehingga sapi mau memberiku susu, sehingga kucing dapat kuberi susu, dan kucing mau memberiku ekorku lagi.
"Tidak," kata si tukang daging, "Aku tak akan beri daging hingga kau pergi kepada pembuat roti dan ambilkan untukku sedikit roti."  

First she leapt, and then she ran, 
Ia melompat dan berlari,
Till she came to the baker, and thus began,—
Hingga ia bertemu pembuat roti, 

"Pray, baker, give me bread, that I may give butcher bread, that butcher may give me meat, that I may give farmer meat, that farmer may give me hay, that I may give cow hay, that cow may give me milk, that I may give cat milk, that cat may give me my own tail again."  
"Pembuat roti, kumohon beri aku roti untuk kuberi pada tukang daging, sehingga tukang daging mau memberiku daging, sehingga petani dapat kuberi daging, sehingga petani mau memberi aku jerami, sehingga sapi dapat kuberi jerami, sehingga sapi mau memberiku susu, sehingga kucing dapat kuberi susu, dan kucing mau memberiku ekorku lagi."

"Yes," says the baker, 
"Ya," kata pembuat roti,
"I'll give you some bread, 
"Roti akan kuberi,
But if you eat my meal, 
Tapi jika makananku kau curi,
"I'll cut off your head." '
Kepalamu harus kau beri."

Then the baker gave mouse bread, and mouse gave butcher bread, and butcher gave mouse meat, and mouse gave farmer meat, and farmer gave mouse hay, and mouse gave cow hay, and cow gave mouse milk, and mouse gave cat milk, and cat gave mouse her own tail again! 
Tukang roti memberi tikus roti, dan tikus memberi tukang daging roti, dan tukang daging memberi tikus daging, dan tikus memberi petani daging, dan petani memberi tikus jerami, dan tikus memberi sapi jerami, dan sapi memberi tikus susu, dan tikus memberi kucing susu, dan kucing memberi tikus ekornya lagi!


Sumber : The History of Tom Thumb, and Others, www.guttenberg.org
Interpretasi puisi dalam bahasa Indonesia oleh Raqim


READ MORE - The Cat and The Mouse

Kumpulan Puisi Anak Anak

Kumpulan puisi anak-anak ini berisi beberapa puisi yang merupakan alih bahasa dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Sumber puisi adalah dari literatur-literatur yang termasuk dalam domain publik. Puisi dituliskan dalam dua bahasa, yaitu dalam bahasa Inggris sebagai bahasa asalnya dan interpretasinya dalam bahasa Indonesia.

Untuk ayah, ibu, dan buah hati mari bacakan 4 buah puisi anak ini :
1. Puisi Anak - What Is It? - Apakah Ini?
2. Puisi Anak - Guy and The Bee - Si Guy dan Lebah
3. Puisi Anak - Myself - Diriku
4. Puisi Anak - The Foolish Pug - Anjing Pesek Yang Bodoh

***
Beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan ketika membacakan puisi, misalkan seorang ayah membacakan sebuah puisi lucu tentang kupu-kupu, maka :
  • Mimik atau air muka wajah menunjukkan wajah yang riang, mata berbinar, mulut tersenyum,
  • Ekspresi atau gerak anggota tubuh lain juga "berbicara" misal tangan mengepak-ngepak menunjukkan kupu-kupu terbang,
  • Artikulasi atau pengucapan penting untuk menghidupkan puisi. Termasuk dalam pengucapan adalah warna suara si ayah, irama (panjang pendek, keras lembut, tinggi rendah), dan lagu suara (tekanan pada kata-kata penting, tinggi rendah suara, cepat atau lambat mengucapkan kata-kata).
Referensi :http://id.wikipedia.org/wiki/Domain_publik
http://id.wikipedia.org/wiki/Puisi
http://www.gutenberg.org/wiki/Main_Page


READ MORE - Kumpulan Puisi Anak Anak

Minggu, 28 Juli 2013

The Foolish Pug

Anjing Pesek Yang Bodoh


A pompous pug once thought that he 
Seekor anjing pesek yang pongah
A dashing swell would try to be,
Ia akan menjadi besar dan gagah
And on his neighbors one and all, 
Kepada tetangganya semua
Sat out to make a stylish call.
Ia bilang sambil duduk bergaya

He wore a glass upon one eye,
Kacamata di sebelah matanya
And on his head a silk hat high;
Dan topi tinggi sutra di kepalanya
A wide, stiff collar around his throat,
Kerah kaku nan lebar di lehernya 
And last an English overcoat.
Dan memakai mantel panjang akhirnya.

So fine and splendid was his air
Dia sungguh menawan tapi pongah
The very birds stood still to stare,
Semua burung menatap terperangah 
As walking on his two hind feet
Ia berjalan dengan dua kaki
He sauntered boldly down the street. 
Berkeliling jalanan dengan berani

But oh, alas! it comes to all
Tapi pelajaran untuk semuanya
To learn that pride must have a fall,
Yang sombong jatuh juga akhirnya
And e'er the corner he had turned
Berbelok ia di tikungan
Poor pug that bitter lesson learned. 
Pahit pelajaran ia dapatkan.

A saucy maid with one great whack,
Gadis pelayan galak mendera tak tanggung tanggung
Brought down her broom upon his back,
Mendaratkan sapu besar di atas punggung
And as he raised a frightened wail
Anjing pesek melolong lolong
Another soused him from her pail. 
Pelayan membanjur dengan air segentong

Poor pug! that night he sat and thought 
Anjing malang semalam duduk merenung
Of all the trouble he had brought
Atas semua musibah yang ia undang
Upon himself, because that he
Pada dirinya sendiri yang malang
A foolish dude had tried to be.
Begitu bodoh ingin terpandang.

Sumber : Cinderella; or, The Little Glass Slipper and Other Stories, www.guttenberg.org

Interpretasi puisi dalam bahasa Indonesia oleh Raqim.
READ MORE - The Foolish Pug